Adil dalam Mendidik dan Mencerdaskan

0
85

Oleh: Uzlifah

Sebagaimana diketahui bahwa negara Indonesia mempunyai  jumlah dan variasi penduduk yang beragam baik dilihat dari segi sosial , ekonomi dan budaya, sedangkan dari variasi penduduknya tidak dapat dipungkiri bahwa banyak diantaranya mempunyai kemampuan baik secara fisik, emosional, intelektual dan mental yang beragam pula.  Undang-undang Pendidikan Nasional No 20 tahun 2003, pasal 1 ayat 1. menyatakan bahwa

 

“Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri nya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri , kepribadian kecerdasan , akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

 

Pernyataan Undang-Undang diatas tentu memberikan konsekwensi logis bagi terlaksananya sistem pendidikan yang adil, merata, dan memberikan kesempatan belajar bagi semua anak bangsa tanpa kecuali. Pendidikan Khusus yang merupakan bagian integral dari Sistem Pendidikan Nasional yang secara spesifik tercantum dalam pasal 32 ayat 1:

 

“Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik , emosional, mental, sosial, dan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa”.

 

Pendidikan Khusus mempunyai peserta didik yang beragam  baik dari segi fisik, emosional, mental, dan sosial. Ke unikan siswa Pendidikan Khusus ini tentu membawa konsekwensi baik pada kurikulum,  silabus, pembelajaran, penilaian dan implementasinya.

Pada hal-hal tertentu keberagaman peserta didik pada pendidikan khusus tidak memungkinkan terjadinya proses pembelajaran dan penilaian yang bernuansa kelompok atau klasikal dalam jumlah besar. Pada sekolah khusus walaupun jumlah siswa sedikit, siswanya memiliki kemampuan mental, intelektual,  sosial dan fisiknya beragam.  Contohnya pada beberapa sekolah, banyak  siswa tunanetra atau tunarungu yang memiliki hambatan intelektual dan atau emosi yang mungkin sebagai dampak ikutan dari Kekhususannya.

Keberagaman dan keunikan itu sering membuat pola pelayanan yang kurang optimal dan berkeadilan ketika kelompok belajar itu diperlakukan secara sama pada pembelajaran dan penilaiannya antara siswa yang satu dengan lainnya baik secara lokal , regional maupun nasional.

Padahal diantara siswa pada kelompok memiliki keanekaragaman potensi dalam pencapaian target belajarnya. Menyamakan pendekatan pembelajaran dan penilaian bagi sekelompok siswa yang memiliki keanekaragaman potensi membuka peluang terjadinya  pemaksaan yang berakhir pada “penderaan” fisik ataupun mental pada peserta didik pada umumnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.