Agama Kaum Tertindas

0
52

Oleh: Asya Hujjah

Cara Beragama Kaum Tertindas?

Pertama, orang-orang beragama harus berani mendiskusikan kembali secara kritis tentang konsep tertindas dan ketertindasan , miskin dan kemiskinan. Kemudian,mereka juga sebaiknya bertanta, apa makna kehadiran agama dalam konteks ketertindasan dan kemiskinan tersebut?

Sebagai sebuah perspektif,ketertindasan ialah tidak tersedianya ruang untuk berekspresi dalam rangka menghadirkan diri sebagai sosok manusia yang otonom dan merdeka. Oleh karena itu, orang tertindas adalah orang yang tidak bisa hidup bebas dan tanpa kemungkinan fasilitas yang memadai untuk mengembangkan diri dan hidupnya sebagai manusia pribadi maupun komunitas  secara utuh.

Dalam kaitan ini, terdapat orang yang tertindas karena agama dan keberagamaan. Maksudnya, agama diajarkan secara sempit, tidak mendidik, kecuali mengontrol manusia hanya dalam pendekatan halal-haram secara oposisi biner, hitam –putih. Agama membelenggu pikiran dan hati, sehingga cara pandang tidak luas dan tidak terbebaskan. Manusia yang konon diciptakan dengan seperangkat akal dan hati harus dikekang sedemikian rupa. Manusia yang diberi akal justru harus diyundukkan. Padahal, justru dengan agama pula, acap kali manusia yang satu tergelincir melakukan pemusnahan atas yang lain karena perbedaan cara pandang tentang agama.

Itulah sebabnya, tidak sedikit orang meninggalkan praktik-praktik keagamaan, dan menjadi sekuler dan atau humanis saja. Ketika agama tidak memiliki ruang yang cukup untuk bertanya, mengkritisi, mengeksplorasi pemikiran, dan mencoba bereksperimen – sebaliknya, orang beragama justru dikungkung dalam tembok yang tinggi dan sempit , yang diciptakan atas nama menjaga kemurnian dan kesucian agama-, saat itulah sebenarnya ketertindasan pada ranah agama sedang bekerja dan beroprasi menindas umat beragama karena keberagamaan.

Sementara itu, kemiskinan , secara sederhana, dapat dipahami sebagai ketersediaan sandang, papan, dan pangan yang tidak memadai. Kemiskinan finansial sanggat tidak mengenakkan. Namun kemiskinan yang paling menyengsarakan, selain tidak terpenuhinya kebutuhan pokok,adalah terampasnya dinamika perkembangan dan proses kesempurnaan diri manusia.  Kemudian hal tersebut menjelma dalam bentuk kebodohan ,fanatisme, serta pelabelan atas diri sendiri dan orang lain. Yang baik adalah diri atau kelompok sendiri, sementara orang lain dan kelompok yang berbeda sebagai kafir-nista dan rendah. Anggapan kelompok lain yang jahat-karir merupakan gambaran nyata dari miskinnya daya pikir dan imajinasi.

Agama harus diaktifkan untuk membebaskan kaum tertindas dan kemiskinan. Keberagamaan harus menjadi rambu-rambu pembebasan ditengah keterkungkungan dan ortodoksi yang kental dan pekat.

Kita harus berani bertanya dan menjawab tentang hakikat beragama dan cara agama membebaskan ( dalam pengertian liberasi). Kita harus berani kritis tentang sesuatu yang hakiki,mendasar, abadi,indah, dan membebaskan. Kita harus brani melihat sesuatu  yang terikat pada zaman, budaya dan lingkun gan tertentu,serta penafsiran dan aliran tertentu.

Selain itu, yang tidak kalah pentingnya juga ialah kita harus berani bertanya, apakah sekama ini agama terlanjur menjadi alat kekuasaan dan media untuk mencapai kekuasaan sekaligus berselingkuh dengan kekuasaan?

Selain itu, dalam beragama, kita juga harus memiliki keberanian dalam mengembangkan kecerdasan intelektual, rasionalitas, dan logika beragama tanpa harus menyangkal dan mengabaikan unsur-unsur spiriyualitas dan supranatural dari agama. Sebab, betapapun mengutamakan prinsip materialistis,manusia selalu berhadapan dengan sesuatu yang mysterium, tremendum et fascinosum, sebagaimana dinyatakan oleh Rudolf Otto.

Kedua, meminjam istilah “Teologi Pembebasan Kemiskinan” yang dikembangkan oleh Uskup Oscar Arnulfo Romero dan Elavador, maka secara umum, teologi pembebasan dapat pahami dari kehadiran agama yang menjelma sebagai simbol-seperti megahnya bangunan rumah-rumah ibadah,masjid,gereja sinagoge, pura, vihara, kelenteng, dan lain sebagainya-yang harus lebih bermakna bagi orang miskin dan tertindas. Masjid, gereja, dan rumah ibadah lainnya harus menjadi “rumah” bagi orang miskin. Serta, peran imam juga sangat penting dalam mengambil tanggung jawab secara penuh untuk membangun wilayanh kolaborasi dalam melakukan pembebasan bagi kaum miskin. Rumah ibadah seharusnya bukan hanya dipahami sebagai bangunan fisik ,melainkan juga proses integrasi antara peran kenabian (profetik) dengan pelayanan pembebasan dan penyelamatan.

Akhirnya, sebagai seorang yang masih mempercayai agama, sudah saatnya umat beragama tidak perlu merasa dan menganggap bahwa diri dan kelompoknya sebagai pemain utama dan bisa melakukan segalanya dalam hal membebaskan kaum tertindas dan mengentaskan kemiskinan.  Umat beragama perlu membangung kerja sama dengan berbagai pihak, dan tentunya juga dengan penganut agama lain.

Umat beragama harus berani jujur mengakui bahwa masing-masing masih terlalu jauh dari realisasi kerja-kerja kemanusiaan. Maka, tentu sangat logis jika kita membangun sinergi dengan umat beragama yang lain . tentu, ini akan menjadi kekuatan moral yang lebih kokoh dihadapan lembaga publik dan pemerintah.

Umat beragama harus mempersatukan energi nyang terserak-serak dalam satu ikatan solidaritas sosial kemanusiaan. Sisi kemanusiaan ini adalah sanggat inheren dan built-in dalam agama yang autentik dan membebaskan. Dan, dalam konteks hari ini, hal tersebut bisa diwujudkan  melalui dialog karya dan kerja sama dalam lingkup yang lebih luas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.