Akhir Tragis Bung Tomo, Jangan Terulang Lagi

0
467

Oknews.co.id – Surabaya, Pada tahun 1978, Siti Hartinah, istri mantan Presiden Soeharto, sedang sibuk merancang pembangunan TMII. Bung Tomo mendapat informasi bahwa Bu Tien meminta para pengusaha memberikan 10 persen keuntungan usahanya untuk pembangunan TMII. Lalu Bung Tomo menyampaikan informasi itu dan mengkritik pembangunan TMII itu dalam setiap pidatonya.

Pada 11 April 1978, Bung Tomo pun ditangkap dengan tuduhan melakukan tindakan subversif. Beliau dipenjara tanpa proses pengadilan di Penjara Nirbaya, Pondok Gede.

Menurut pakar hukum tata negara Ismail Sunny yang pada saat itu juga turut mendekam dalam jeruji besi penjara, Bu Tien dan Pak Soeharto sepertinya tersinggung dan menangkap Bung Tomo.

Bukan cuma soal TMII saja. Sebelumnya, beliau juga mengritik keras peran asisten pribadi (Ali Moertopo dan Sudjono Humardani) dan keluarga Presiden Soeharto. Juga praktek cukongisme sebagai realisasi nepotisme, melalui peran ekonomi yang berlebihan dari pengusaha nonpribumi.

Gara-gara TMII, Bung Tomo harus mendekam di dalam tahanan selama satu tahun, dari 1978-1979. Sulistina (istri Bung Tomo) tentu saja tidak terima sang suami diperlakukan secara tidak adil oleh rezim Soeharto. Perempuan yang pada saat perang kemerdekaan itu ikut aktif dalam Palang Merah Indonesia (PMI) itu marah dan mengirim surat protes kepada Soeharto. Dalam surat yang ditulis pada 6 Juli 1978 itu Sulistina menulis, orang yang sudah mempertaruhkan jiwa raganya untuk mempertahankan kemerdekaan negaranya tidak mungkin mengkhianati bangsanya sendiri.

Nyatanya, tuduhan yang ditujukan kepada Bung Tomo dengan memenjara selama setahun tidak terbukti. Keluar dari penjara, Bung Tomo tidak sungkan langsung menunjukkan rasa cintanya pada Sulistina. Bung Tomo langsung memeluk dan menggendong istrinya di depan umum di kantor kejaksaan.

Kepada Pangkopkamtib Laksamana Sudomo dan Jaksa Agung Ali Said, Bung Tomo pernah menulis surat terkait penahanannya. Beliau berjanji bila sudah keluar dari tempat dirinya ditahan, baik bila dibebaskan sama sekali atau dalam status tahanan luar, beliau tidak akan berbicara lagi mengenai hal-hal yang sensitif dan dapat mengeruhkan suasana (misalnya perihal Presiden RI) saat itu.

Sekeluar dari penjara setahun kemudian, Bung Tomo terbukti lebih mencurahkan perhatiannya untuk merawat dan mendidik keempat anaknya. Pada 7 Oktober 1981 Bung Tomo meninggal dunia saat tengah menunaikan ibadah haji di Padang Arafah, Arab Saudi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.