Antara Rezim Gila dan Rekayasa Kegilaan

0
511

Ditulis oleh Uzlifah *)

Fenomena orang gila yang mengusik ketentraman umat islam akhir – akhir ini telah membuat risau kebanyakan orang.

Rasa empati seketika telah memenuhi media sosial. Lagi – lagi saya bergumam dalam hati ” apakah ini salah satu watak dari masyarakat Indonesia lagi ? ” yang dengan mudahnya untuk digiring pada sebuah isu dan selalu bertepatan dengan moment politik, entah ini kebetulan atau tidak.

Terlepas itu semua, apakah kita yang juga senang dikatakan sebagai manusia cerdas akan membiarkan saja hal seperti ini. Waspada, siaga , rasa empati, rasa perhatian dan sejenisnya hanya akan muncul karena sebuah peristiwa yang tidak diinginkan.

Mari kita lihat kasus Ahmad Budi Cahyanto, seorang guru yang meninggal akibat dianiaya muridnya dimana dalam kesehariannya, kabarnya sang murid tidak punya etika sama sekali.
Pasca kejadian itu seketika seorang pejuang pendidik yang jauh dari layak disaat digembar gemborkan peningkatan kesejahteraan guru, faktanya masih belum menyentuh keseluruhan.

Sedih mendengar pengakuan dan kesaksian para guru di tanah garam tersebut.

Betapa hati ini terhenyak seketika ketika mereka bilang bahwa ini bukan kasus yang pertama, ada ribuan kasus serupa yang tidak terekspose dan para guru baik di sekolah formal maupun dipesantren – pesantren hanya bisa bisa diam dan merasakan sendiri paitnya diperlukan kasar oleh murid – murid mereka sendiri dan itu tidak dipungkiri kadang prilaku bejatnya itu justru didukung orang tua mereka masing – masing.

Kesedihan belum berlalu, kini dihebohkan oleh ulah para orang gila. Haruskah jatuh kurban dulu kemudian akan ada empati yang berlipat ? Egoisme manusia tetaplah sebuah sifat yang sangat mendominasi. Sehingga kepekaan pun tidak mampu menjangkau. Sehingga mereka tidak sadar bahwa ada para pejuang Muhammadiyah yang puluhan tahun dalam melaksanakan gerakan dakwahnya selalu dirongrong oleh orang gila. Tapi Allah senantiasa melindungi mereka, betapa sebenarnya rasa empati dan saling memberi kekuatan sangatlah dibutuhkan para pejuang tersebut ?

Penulis kok yakin bahwa hal tersebut tidak bisa diharapkan kecuali kalau kejadian buruk terjadi pada para pejuang tersebut…..memang begitukah potret masyarakat Indonesia ?

Uzlifah, Penulis yang tinggal di Gang Sempit Di Pojok Kampung Kota Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.