Aris Nasution : Melaku-Melaku Ing Melaka

0
105
aris nasution kepala SD Aisyiyah 1 Nganjuk
Oknwes.co.id, Malaka – Malam ini sedikit ada waktu untuk rehat bersama. Menyimak kabar dari Mas Harvit sebagai Leader tim, kita akan diajak menikamti malam di kota tua Malaka. Melepas kepenatan setelah seharian kami berjibun di sekolah. Selesai sholat maghrib bis sudah siap menjemput kami. Dengan sedikit waktu menunggu para Ibu yang masih berdandan. Perjalanan menuju jantung kota Malaka tidak butuh waktu lama. Sekitar 10 menit dari homesatay kami sudah dianjurkan bersiap turun dari bis. Melihat kanan kiri sudah nampak panorama bangunan yang klasik (Tempo duloe). Bangunan lama yang nampak kokoh, dan berarsitektur belanda. Suasana yang eksotik di kota penuh sejarah ini, saya menikmati sekali. Merasakan kecantikan kota Malaka kurang elok jika tidak mampir rumah makan ikan bakar. Terdaoat banyak jenis ikan laut untuk kita pilih. Tempat ini berada tepat di pinggir sungai Malaka. Sungai yang nampak bersih dan taman yang indah di sepanjang bantaran, menjadikan betah memandangnya. Kerlip lampu di atas sungai menambah rasa enggan meni ggalkan tempat ini. Lalu lalang perahu wisata sangat memberi warna kehidupan sungai lama ini. Tiba waktunya untuk berjalan keliling kota tua ini. Dipandu seorang guede tourism keturunan Thiongha kami diajaknya. Bermula di depan Suaru kecil pinggir sungai. Mr. Edy, dia memperkenalkan diri. Perawakan yang sudah tua ini penuh ssemangat menjelaskan detail sejarah kota Malaka. Tak jauh kami berpijak ditunjukan sebuah jembatan yang melintas di sungai Malaka. Jembatan Yong Ker (Yong kei) nama yang sudah dikenal seluruh dunia. Panjang jembatan tersebut sekitar 30 m. Berjalan ternyata belum selesai. Setelah melintas jembatan kami diberikan kesempatan menikmati keanggunan kota lama Malaka. Tepatnya berdiri si ujung jalan sempit. Aambil menunjukan benerapa bangunan lama yang masih dirawat sebagai cagar budaya, Pak Edy menjelaskan kebesaran nama jalan tersebut. Hereen Street nama yang sangat mendunia. Dijelaskan oleh Pak Edy, jalan yang berpangkal di sungai malaka ini, menjadi sejarah panjang peradaban kaum penjajah eropa. Mualai Portugis, Belanda, Inggris, Jepang dan Sekutu. Hampir semua penjajah pernah menikmati dan membesarkan kota Malaka. Bangsa Belanda dengan VOC nya sebagai pemecah rekor mengukir kejayaan di Malaka, sebelum masuk le Indonesia. Sejarah ini diabadikan dengan berdirinya menara jam merah, rumah merah, dan dermaga di sungai Melaka. Berjalan menyuauri kota cantik di Melaka terasa masih panjang. Pak Edy dengan gayanya yang berapi-api melupakan kami yang sudah lelah. Waktu menunjukan pukul 23.20 wkl. Ternyata hampir 3 jam melaku ing melaka aksi kami berlangsung. Berakhir untuk menjadi inspirasi membangun peradaban. Butuh waktu lama dan sabar kunci kokohnya peradaban para penjajah waktu itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.