Bagaimana Membersamai Belajar Keluarga Dalam Masa Pandemi

0
124

Oleh : Uzlifah

Siapa yang tak ingin memiliki keluarga  yang sukses . Pasti semua menginginkannya  tidak pandang si kaya atau si miskin .  Yang miskin aja berupaya keras untuk sukses apalagi yang kaya pasti merasa bisa sukses  karena  modal sudah ada .

Waktu  kecil  setiap ada yang tanya “ nanti kalau sudah besar apa cita-citamu nak ? “ apa jawabnya, hampir rata semua menjawab  “ ingin jadi dokter, ada juga yang menjawab  “ ingin jadi polisi “ dan ada juga yang menjawab  “ ingin jadi guru “, anehnya jawaban – jawaban itu selalu sama dari tahun ke tahun  hingga  masa kini.

Menurut penulis jawaban itu tidaklah spontan  karena keinginan mereka dari  lubuk hati yang paling dalam  akan tetapi  kalimat –kalimat itu memang hasil  instal dari lingkungan mereka yang terdekat. Bisa dari lingkungan keluarga bisa jadi dari lingkungan masyarakat. Nah berangkat dari persoalan tersebut   maka perlu ada sebuah instropeksi secara masal  baik di lingkungan masyarakat  terlebih lagi lingkungan keluarga bahwa  apapun yang  didengar dan dilihat  anak – anak pastilah akan membekas .  Untuk  itu perlu adanya  desain strategi  dalam membentuk karakter dan kepribadian anak , hal itu harus disiapkan sejak anak masih  berada dalam rahim seorang ibu.

Pembiasaan – pembiasaan itu wajib dimulai  dari anak masih berada di rahim seorang ibu. Bukankah rasulullah juga sudah mengingatkan  “ Tuntutlah ilmu mulai dari buaian ibu sampai ke liang lahat “.

Kata mutiara itu sebenarnya  mempunyai makna yang amat dalam terkait  dengan  pembiasaan   akhlakul karimah dan keilmuan  pada anak, dan itu tidak bisa dilepaskan  sedikitpun dari peran keluarga terutama seorang ibu. Jangan dikira anak yang ada dalam kandungan itu tidak bisa mendengar. Karena itu seorang ibu harus selalu menjaga ucapan  ketika membelai  perut  yang  di dalamnya ada bayinya , doa – doa untuk sebuah  kebaikan  perlu disenandungkan setiap saat   hal ini mempunyai fungsi ganda disamping doa  yang merupakan wujud ibadah  sang ibu, doa itu juga merupakan sebuah proses pembelajaran pada sang bayi.

Peletakan dasar  sebagai pembiasaan itu  bisa berawal  disaat  bayi masih berada dalam kandungan  kemudian dimatangkan saat bayi lahir hingga masa emas . Kalimat – kalimat orang tua itu  sebenarnya  ada unsur doktrin pada anak, coba kita perhatikan diri kita masing – masing betapa semua yang pernah kita dengarkan saat usia  anak –anak  akan selalu teringat jelas  hingga kita dewasa. Makanya  sangat manusiawi bila seseorang bercerita  kata –kata yang akan keluar pertama adalah  “ dulu saya………. “.

Maka sangat relevant sekali mutiara –mutiara kata  berikut ini

“ Belajar di waktu kecil bagai mkengukir di atas batu, sedangkan belajar diwaktu tua bagai mengukir diatas air “.

“ Barang siapa  yang membiasakan sesuatu sejak kecil , maka akan terbiasa  sampai tua”.

“ Barang siapa  yang tidak mau belajar  di masa mudanya , maka takbirkan  saja empat kali untuk kematianya “.

Mutiara –mutiara kata tersebut   benar –benar menunjukkan bahwa pemibiasaan mulai usia dini untuk kebaikan – kebaikan  adalah sebuah keniscayaan.

Seakan sudah menjadi stigma  bahwa anak dari keturunan  yang   kurang pandai  akan tumbuh menjadi anak  kurang pandai juga,  anak dari pejabat akan tumbuh  menjadi pejabat, anak  keturunan alim ulama akan tumbuh jadi alim ulama juga, anak dari para perampok, pemabuk  atapun yang lainnya akan tumbuh juga seperti mereka, begitu seterusnya.

Sehingga banyak cerita cerita  orang tua yang mengatakan  “ Wes ta lah le…. gak usah sekolah duwur – duwur lek akhire yo koyo bapak  cuma dadi  tukang aparkir “ ( Sudahlah nak…… tidak usah sekolah  tinggi – tinggi, kalau nanti akhirnya seperti bapak  jadi tukang parkir ). Dan hal seperti itu telah  berpuluh –puluh tahun  dan hampir disemua daerah.

Untuk mengajari anak sholat, puasa , zakat dan amalan shalih lainnya   maka hindari  berkata   “ masih kecil saja tidak apa-apa “  akan tetapi berkatalah  “ Mumpung masih kecil  atau justru masih kecil”  kita arahkan yang baik –baik . Dari usia bayi itulah proses pembiasaan sudah bisa dimulai, tentu dengan memberi keteladanan yang merupakan tugas dari orang tua. Memberi keteladanan  tidak hanya main suruh sana sioni. Akan tetapi  memberi keteladanan adalah dengan  mengajak dan memberi contoh secara istiqomah  serta menguatkan dalam setiap langkah menjalaninya, sampai anak benar  benar mengerti dan memahami  esensi dari amal shaleh itu merupakan sebuah kebutuhan otentik diri pribadi masing  masing dan hanya berurusan dengan sang pencipta manusia. Hal semacam itu sejatinya bisa  dilakukan siapa saja tergantung mau melakukannya apa tidak. Keyakinan  bahwa Allah akan mengabulkan setiap doa orang yang beriman itu sangat penting dan sebuah keharusan, karena  dengan modal itu akan ada sebuah motivasi bagi setiap manusia. Motivasi untuk meraih  yang lebih baik yang tidak pernah diperkirakan manusia  sebelumnya atas kehendak Allah.

Editor: Baba Barry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.