Bahaya Kufur Nikmat

0
178

Oleh: Uzlifah

Ternyata seringkali manusia berkeluh kesah atas segala ketetapan dan pemberian Allah Azza wa Jalla, sedikit sekali yang bersyukur.
Allah Azza wa Jalla berfirman,

ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُّوحِهِۦ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصٰرَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.”

(QS. As-Sajdah: 9)

Demikianlah tabiat manusia, memang sedikit sekali yang bersyukur, Allah Azza wa Jalla mengingatkan kepada kita bahwa kelengkapan seluruh anggota tubuh kita yang Allah Azza wa Jalla ciptakan hendaknya kita bersyukur, nikmat sehat sehingga mampu beribadah dan aktifitas, belum lagi curahan rejeki yang begitu banyak, tapi ternyata memang sedikit sekali yang bersyukur…

Allah Azza wa Jalla yang Maha Rahman, mengulang ulang kalimat mulia hampir 31 kali dalam Surat ArRahman,

فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

(QS. Ar-Rahman: 77)

وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْئَرُونَ

“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.”

(QS. An-Nahl: 53)

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

(QS. An-Nahl: 18)

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang mengingatkan kita betapa penting dan wajibnya mensyukuri nikmat itu,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”.

(HR Bukhari, No. 5933)

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan:

“Kenikmatan adalah keadaan yang baik. Ada yang mengatakan, kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain”.

(Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, penjelasan hadits No. 5933)

Ibnu Baththaal rahimahullah mengatakan: “Makna hadits ini, bahwa seseorang tidaklah menjadi orang yang longgar (punya waktu luang) sehingga dia tercukupi (kebutuhannya) dan sehat badannya. Barangsiapa dua perkara itu ada padanya, maka hendaklah dia berusaha agar tidak tertipu, yaitu meninggalkan syukur kepada Allah Azza wa Jalla terhadap nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Dan termasuk syukur kepada Allah Azza wa Jalla adalah melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Barangsiapa melalaikan hal itu, maka dia adalah orang yang tertipu”.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruvniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa pandai bersyukur atas segala ketetapan dan pemberian Allah Azza wa Jalla untuk meraih ridha-Nya…
Aamiin Ya Rabb.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.