Berjamaah Melawan Kebodohan dan Keterbelakangan (Kultum seri-2)

0
24

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, dengan sebenar-benar taqwa.

Pada kesempatan ini kita akan membicarakan masalah bagaimana memberantas kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan.

Kita tidak perlu menutup mata bahwa disekitar kita masalah kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan masih mengitasi kita semua. Bahkan menurut Dr. Nabil Subhi At-Thawil seorang penggerak pelayanan kesehatan dan kegiatan WHO dalam bukunya “Kemiskinan dan keterbelakangan di negara-negara miskin” antara lain menyatakan bahwa pada masa sekarang, bertebaran pulujan juta kaum muslimin yang lapar, sakit, dan buta huruf. Dan banyak dari negara mereka yang dilanda paceklik, kekeringan, kena wabah serta kemelaratan. Kemiskinan, sampai batas-batas tertentu, menyebabkan buta huruf serta kebodohan, yang pada gilirannya juga menyebabkan orang tidak tahu tentang mutu, jenis makanan serta jumlah yang diperlukan untuk kesehatan tubuh. Kemiskinan juga dapat memudahkan berjangkitnya berbagaimacam penyakit, yang pada gilirannya sangat mempengaruhi gizi serta melemahkan tubuh.

Seorang miskin yang sakit dan lapar tidak akan memperoleh pekerjaan. Kalaupun memperolehnya, ia tidak akan mendapatkan penghasilkan yang diperlukan ataupun kemampuan yang cukup untuk memperoleh penghasilannya. Begitulah secara terus menerus berputar-putar pada lingkaran setan yang tidak ada jalan keluarnya, sampai akhirnya hamba Allah yang menderita ini mencapai ajalnya dalam kemiskinan. Dan ini banyak sekali terjadi di sekeliling kita, yang menjadi tanggung jawab kita. Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa’ ayat 36 :

Artinya :

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu.

Sementara itu kaum muslimin banyak yang keliru ibadah itu yang hanya langsung berhubungan dengan Allah SWT. Betapa banyak umat yang hanya sibuk dengan ibadah mahdhah tersebut seperti sholat, puasa, haji, tetapi mengabaikan ibadah sosial seperti memberantas kemiskinan, kebodohan, penyakit, dan kelaparan.klesengsaraan dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara kita sesama kaum muslimin.

Betapa banyak orang kaya yang dengan tenang meratakan dahinya diatas sajadah shalat, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh kuyub digerogoti penyakit dan kekurangan gizi, tidak dihiraukan. Atau betapa mudahnya jutaan rupiah dihabiskan untuk upacara keagamaan, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak mampu membayar rumah sakit, atau ribuan umat terpaksa menjual iman demi sesuap nasi. Disinilah perlunya parta hartawan lebih menyadari di samping ibadah mahdhah tersebut, kiranya juga mensyukuri nikmat harta kekayaan, kdengan mengeluarkan sebagian harta untuk fakir miskin.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ma’arij ayat 24 dan 25 :

Artinya :

Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagia tertentu bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta

Ibadah yang secara khusus untuk ulama adalah menyampaikan kebenaran, memerintahkan yang ma’aruf yang baik dan mencegah yang mungkar atau yang tidak baik agar manusia tidak tersesat. Dan ibadah yang secara khusus bagi papa penguasa dan pimpinan adalah agar memerintah dengan adil, berdiri di samping si lemah, dan si miskin dari kedzaliman dan kelalaian si kaya. Sedangkan ibadah secara khusus bagi para fakir miskin ialah dengan tabah dan sabar menghadapi kenyataan yang pahit. Dan tidak menyerah pasrah. Dia juga harus menjaga kehormatan jiwanyadan terus mengabdi serta menampilkan bakat dan kemampuan yang terpendam membuka pikiran, menghimpun segala daya dan kegiatan untuk menutup kebutuhan hidup.

Demikianlah Rasulullah SAW menggambarkan  kesetiakawannan sosial yang diharapkan dengan sangatn menak sekali dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Muslim dan Ahmad :

Artinya :

Perumpamaan dalam jalinan kasihsayang kecintaan dan kesetiakawanan, seperti satu tubuh, yang bila satu anggotanya sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya dengan tidak dapat tidur merasa sakit demam.

Kesetiakawanan dan cinta kasih sayang Rasulullah SAW dicontohkan pula oleh beliau  saat berkumpul dengan para sahabat menjelang siang hari, pada saat kedatangan serombongan orang dari bani Mudhar dengan pakaian compang-camping nyaris telanjang, bertelekan pedang-pedang mereka. Tiba-tiba Rasulullah SAW melihat penderitaan mereka , kemudian beliau kekamar, lalu menyuruh bilal adzan. Setelah shalat Rasulullah membaca beberapa ayat Al-Qur’an antaralain yang artinya :

Wahai manusia, takutlah kamu kepada Tuhan Pemeliharamu yang menciptakanmu dari diri yang satu (sampai akhir ayat) dan hendaklah setiap orang mempersiapkan bekal untuk masadepannya (Al-Hijr)

Beliau menganjurkan supaya setiap orang mengeluarkan sodaqoh baik berupa sandang maupun berupa pangan. Berbondong-bondonglah para sahabat menyumbangkan apa yang mereka miliki. Ada dua tumpukan makanan dan pakaian, dan terlihat wajah Rasulullah yang bersinar gembira. Setelah itu nabi ber4sabda :

Artinya :

Barang siapa memulai kebiasaan yang baik dalam Islam, maka baginya ganjaran dan ganjaran orang mengikuti kebiasaan yang baik sesudahnya itu. Dan barang siapa yang memulai kebiasaan yang tidak baik dalam Islam, maka baginya dosa karena memulai kebiasaan tidak baik itu, dan dosa orang yang melanjutkan kebiasaan jelek itu sesudahnya.

Dan kebiasaan yang baik di sini ialah menggerakkan umat Islam untuk bersama-sama membantu penderitaan sesma muslim. Sedangkan kebiasaan yang tidak baik iyalah membiasakan bersikap acuh kepada penderitaan orang lain.

Marilah kita meningkatkan kebioasaan yang baik ini, sambil berusaha memberantas kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan, agar terciptanya masyarakat yang sejahtera sesuai dengan tuntunan agama kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.