Bersahabat dengan Bencana

0
125
Foto kebakaran di kandang ayam Desa di Plosorejo, Kecamatan Kademangan wilayah Kabupaten Blitar

Oleh : Uzlifah

 

Musim hujan telah datang. Setelah kemarau lewat, hujan datang dalam intensitas yang cukup tinggi di banyak wilayah dinegeri ini. Belum lama berselang kita dikejutkan dengan bencana banjir dan tanah longsor akibat curah hujan yang teramat tinggi, akibat Siklon Cempaka dan Dahlia di selatan Jawa. Belakangan kita akrab dengan tayangan bencana banjir atau tanah longsor, menjadi pemandangan di berbagi media massa maupun media digital. Tapi apakah bencana akan usai segera?

Negeri kita sering di sebut sebagai dapur bencana, dimana pertemuan patahan bumi ada di negeri kita, dan berbagai posisi geografis yang membuat ancaman bencana menjadi salah satu agenda yang musti siap kita hadapi. Tentu pernyataan ini bukan bermaksud untuk mendahului rencana Tuhan, tapi tidak salah kiranya jika kita menyiapkan sistem peringatan dini kebencanaan (disaster early warning system).

Kenapa kehidupan bangsa ini seolah terus diliputi kecemasan akan bahaya bencana (tragedi) yang mengancap kehidupan di negeri ini? Barangkali kita perlu merefleksi diri. Kesombongan kita sebagai manusia yang menahbiskan diri sebagai manusia dengan corak pikir rasional nampaknya mulai diuji. Modernisasi barangkali menawarkan kehidupan yang lebih baik, dengan kemampuannya mengkalkulasikan segala sesuatunya secara lebih tepat.

 

Dalam perspektif agama bencana itu datang dikarenakan ulah tangan manusia. Hal ini Allah tegaskan dalam Quran surat Ar-Rum ayat 41. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Untuk itu ada 3 hal yang harus kita lakukan –terutama oleh pemerintah sebelum dan ketika bencana terjadi. Ketiga hal ini saling terkait dan tidak bisa menafikan salah satunya.

1. Aspek spiritual yaitu dengan berserah diri dan berdoa. Belajar dari kisah para nabi terdahulu kita mendapati kaum yang ditimpa bencana adalah kaum yang melakukan pembangkangan terhadap perintah nabi mereka. Seperti bencana tsunami yang menimpa kaum Nabi Nuh adalah karena mereka tidak mentaati perintah Nabi Nuh untuk beriman kepada Allah pemilik alam semesta. Maka dari itu hal yang pertama harus kita lakukan ketika bencana terjadi adalah berserah diri dan berdoa mohon ampun kepada Allah atas segala dosa yang kita lakukan.

2. Aspek Kemanusiaan yaitu Membantu Korban Bencana. Setiap ada bencana pasti ada korban yang mengalami kerugian. Mereka membutuhkan bantuan makanan, pakaian, obat-obatan, dan lain-lain. Ini adalah persoalan kemanusiaan akibat bencana yang harus segera kita bantu. Yang paling bertanggung jawab terhadap korban bencana alam adalah pemerintah, di mana pemerintah harus cepat bertindak memberikan bantuan kemanusiaan kepada korban bencana dan mengatasi dampak sosial akibat bencana. Jangan sampai bantuan dari pemerintah kalah cepat dibanding bantuan yang diberikan oleh parpol dan LSM.

3. Aspek Teknis yaitu Membangun Sarana dan Prasarana. Dan, yang tidak kalah pentingnya adalah perbaikan sarana dan prasarana yang rusak akibat bencana. Namun, perbaikan pasca bencana harus dibarengi dengan keseriusan
upaya antisipasi terhadap bencana berikutnya.

Oleh karenanya  moment ini merupakan moment  yang sangat penting untuk menjadi moment membuka mata hati,  sayang sekali kalau dibiarkan lewat begitu saja. Bertubi – tubi bencana dahsyat menimpa beberapa daerah di negeri tercinta dan yang paling update bencana tsunami Banten  -Lampung  tepat di hari Ibu hendaknya ini menjadi perhatian yang amat serius bagi semua insan.

Moment yang sangat berharga  mulai pergantian tahun dan menjelang pergantian pemimpin  yang  sebelumnya beruntun   terjadi bencana  menunjukkan  bahwa Allah sudah mengingatkan agar Indonesia melakukan refleksi terhadap keberpihakan pada kepentingan umum, alat deteksi  tsunami yang penting saja tidak terawat bahkan dikorupsi, dana BPJS yang dihimpun dari rakyat digunakan tidak sebagaimana mestinya, dan banyak hak rakyat diambil hanya untuk kepentingan sesaat. Cermin yang diberikan Allah telah nyata, dan waktunya kita berubah untuk lebih baik dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan kita.

Penulis adalah aktifis gerakan perempuan kota Malang

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.