Bijak Berteknologi, Sehat Berinteraksi

0
102

OKNEWS.CO.ID, Malang – Revolusi industri 4.0 dibuat untuk menjadi penanda perkembangan peradaban manusia modern yang ditopang oleh teknologi. Saat teknologi mesin uap ditemukan oleh James Watt, disebut sebagai revolusi industri 1.0, kemudian diikuti penemuan listrik oleh Thomas Alva Edison yang disebut revolusi industri 2.0, selanjutnya munculnya teknologi informasi baik hardware berupa komputer dan software berupa berbagai program aplikasi hingga berpuncak pada jaringan internet, menjadi penanda revolusi industri 3.0. Saat ini teknologi informasi sudah merasuk ke hampir seluruh sendi kehidupan manusia sehingga mulai muncul tanda-tanda ketergantungan manusia terhadapnya, salah satunya adalah internet of things (IoT) dan belakangan ini heboh adalah cryptocurrency yang paling populer bernama Bitcoin.

Banyak negara di dunia melalui otoritas moneter masing-masing telah melarang penggunaan cryptocurrencydalam kegiatan ekonomi di wilayah hukumnya. Terlepas dari sikap pro dan kontra, namun satu hal yang pasti adalah masih belum banyak orang yang paham apakah itu cryptocurrency.  Di tengah asimetrik informasi ini maka banyak hal dapat terjadi, dan bila hanya segelintir elite yang paham akan hal itu maka mudah memanipulasinya untuk kepentingan tertentu. Sebaiknya dibuka luas pemahaman dan informasi cryptocurrency oleh otoritas moneter tiap negara tentang sehingga khalayak luas akan menjadi lebih paham dan dapat bersikap sepantasnya.

Bank Indonesia sejak 2014 telah mencanangkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan instrumen non tunai, sehingga berangsur-angsur terbentuk suatu masyarakat yang lebih menggunakan instrumen non tunai (Less Cash Society/LCS), khususnya dalam melakukan transaksi atas kegiatan ekonominya.

Pada 2017, catatan BI menunjukkan penggunaan transaksi non tunai mencapai 10 persen yang meliputi 3,8 persen transaksi kartu kredit, lalu 5,6 persen transaksi kartu debit dan sisanya transaksi kartu e-money atau voucher tunai. Transaksi non tunai tersebut akan terus meningkat, terlebih dengan ditiadakannya transaksi tunai di gerbang tol dan semakin maraknya aplikasi fintech seperti Go-pay dan Grab-pay sebagai pembayaran non tunai transportasi online. Nampaknya ke depan, transaksi non tunai tidak bisa dihindarkan oleh masyarakat kita untuk menggeser transaksi tunai demi alasan efisiensi dan keamanan.

Cryptocurrency masih dipandang BI belum sesuai untuk mendukung GNNT karena disebut tidak memiliki underlying asset atau jaminan terhadap nilainya sebagaimana mata uang yang dikenal selama ini. Oleh karena itu BI berpandangan bahwa Bitcoin yang merupakan salah satu cryptocurrency bukanlah mata uang, namun lebih cenderung sebagai suatu komoditas yang diperdagangkan karena adanya permintaan dan pasokan sehingga menciptakan pasar bervolatilitas tinggi. Meski cryptocurrency berhasil mengguncang sistem keuangan konvensional dengan konsep blockchain yang revolusioner, namun masih menjadi tantangan bagi pihak pendukung cryptocurrency untuk menyempurnakan konsep dan teknis operasionalnya sehingga dapat diterima otoritas moneter di berbagai negara dunia ini.

Apabila kita percaya bahwa gelombang revolusi industri 4.0 akan diikuti revolusi industri 5.0 dan seterusnya tidak bisa dibendung, maka perlu sikap bijak dengan pandangan visioner untuk mengintegrasikan perkembangan teknologi di setiap gelombang revolusi industri tersebut dengan dinamika peradaban kehidupan manusia yang ada. Hal ini termasuk pada penyiapan sumber daya manusia yang kompeten dan kompatibel untuk menyambut gelombang-gelombang revolusi industri yang akan datang. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukannya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.