Budaya ‘Prank’

0
711
Jpeg

Oleh: Uzlifah

Hari gini, siapa yang tak kenal dengan istilah ‘prank’. Terlebih lagi generasi muda zaman now sangat dekat dengan yang namanya ngeprank. Kebiasaan yang ditujukan untuk mencari kesenangan dengan cara mengusili orang lain ini, sekarang sudah menjadi trend di tengah-tengah pergaulan masyarakat.

Prank ini banyak kita jumpai di jejaring sosial, mulai dari instagram, facebook, apalagi youtube. Bahkan para youtuber di Indonesia hari ini sering kali memilih konten video-video mereka dengan konten prank atau mengisengi orang lain.

Bagi mereka/ para prankster, hal yang dilakukannya merupakan tindakan lucu-lucuan dan menyenangkan, tapi pernahkah mereka berpikir tentang imbas psikologis yang muncul terhadap si korban prank akibat keusilan mereka tadi? Ketika ada yang memarahi, para prankster dengan santai menjawab, “ini hanya prank, santai saja, jangan terlalu diambil hati” dan sebagainya.

Berbagai alasan-alasan ini pada akhirnya akan menjadi sebuah kebiasaan buruk. sebab, disadari atau tidak, saat seseorang sedang melakukan prank terhadap orang lain, secara tidak langsung, ia sudah melakukan kebohongan.

Menipu, mengusili, mempermainkan orang lain, dalam budaya ngeprank dianggap sebagai konten-konten yang lucu, seru, dan menghibur. Tapi, tidak itu semua, sebenarnya kita tengah menanamkan di kehidupan kita tentang kebohongan.

Tidak selamanya prank-prank yang dilakukan di tengah-tengah masyarakat dianggap biasa sebagai keusilan remaja. Tapi, beberapa prank yang sudah pernah terjadi justru menimbulkan petaka bagi prankster itu sendiri.

Misalnya, prank pocong yang dilakukan beberapa pemuda di Bogor untuk menakut-nakuti masyarakat. Akibat ulah usil mereka yang menakuti warga setempat, warga menjadi takut dan khawatir.

Saat diketahui bahwa pocong yang berkeliaran itu adalah palsu dan merupakan ulah usil beberapa remaja yang kurang kerjaan, masyarakat pun menghukum mereka dengan tidur di kuburan. Ini dipilih untuk memberikan efek jera kepada mereka agar tidak lagi berbuat usil.

Nah, bukankah pada akhirnya, para prankster itu sendiri yang terkena batu akibat ulah usil mereka? Tanyakan pada diri sendiri, dan posisikanlah diri Anda sebagai orang yang menjadi sasaran prankster, apakah Anda sedikitpun tidak merasa marah atau tersinggung dengan ulah mereka?

Mengapa harus memilih konten-konten mengisengi orang lain dalam berkarya? Masih banyak konten-konten baik dan motivatif yang bisa kita lakukan untuk menjadi orang baik. Berkontenlah dengan konten yang berfaedah dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan masyarakat ke arah yang lebih baik. Bukan, mencari konten-konten yang akan menyudutkan atau membully orang lain.

Hukum Prank Menurut Islam

Dari Abdurrahman bin Abi Laila, bahwa beliau mendapatkan berita dari beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahwa mereka pernah melakukan perjalanan di malam hari bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian ada salah satu sahabat yang tidur. Kemudian beberapa sahabatnya menggendongnya ke atas bukit, dan langsung membangunkannya, sehingga membuat orang yang tertidur ini kaget.

Hingga membuat banyak sahabat tertawa.

Melihat ini, Nabi shallalahu alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

“Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abu Dawud 5006, Ahmad 23064 dan sanadnya dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Sekalipun prank ini tujuannya hanya main-main, tidak serius, biar membuat orang tertawa ketika melihat kawannya kaget atau takut, ini semua dilarang. Karena menakut-nakuti muslim tidak dihalalkan dalam Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.