Cerita Kepala SD Aisyiyah 1 Nganjuk : Soto Vs Thomyam

0
108
Aris Nasution, Kepala Sekolah Aisyiyah 1 Nganjuk
Oknews.co.id – Empat hari mehibah Singapura-Malaysia-Thailand barusan selesai. Cerita yang panjang selama perjalanan menjadi hasanah sangat menarik. Perilaku masyarakat, infrastruktur, cuaca, budaya, perkembangan dunia pendidikan, dan bahkan kuliner juga tidak luput menjadi cerita. Judul tulisan ini bukan bermaksud beradu lomba antara kedua makanan tersebut. Bukan pula membandingkan Soto vs Thomyam , nasi Briyani dengan nasi goreng, nasi gurih dengan nasi lemak, nasi padang dengan Kwitau. Namun saya hanya mencoba bagaimana rasa yang sementara hilang kerena macam makanan yang harus saya santap di negeri orang itu. Sehingga terasa lidah saya kehilangan rasa. Saya mencoba terua tersenyum, walaupun saat-saat waktu makan dan berada di warung makan rasa kental nasi pecel, nasi rawon, masi lodeh berada di angan-angan. Namun yang terasa di mulut bertolak dengan angan-angan itu. Tendangan rasa Thomyan, nasi briyani, nasi lemak dan lainnya telah membuyarkan rasa khas Indonesia saya. “Aku gak mau makan” celetuk Mbak Adawiyah saat aku ajak makan. “Wah kenapa ?” tanya balik saya. ” “lidahku sudah gak kuat nahan Pak Aris”. Gumannya. “Memang nasi di sini beratnya berapa kilo”. candaku. “Nggak begitu Pak Aris”, Mbak Adawiyah memantapkan pilihannya. “Maksudku aku sudah nggak kuat nahan ingin makan soto, ayam, nasi geprek, nasi goreng jawa, dan juga soto daging. Saat itu Pak Tomy nampaknya ingin juga memastikan kalau dirinya kurang cocok dengan makanan di sini ( Ha tay, Thailand). Dengan mengatakan aku makan sambil membatangkan makan nasi pecel aja Pak Aris, haa…haa.. ya kalaunasi pecel di sini memang tidak ada. Namun Pak Tomy sudah cerdas sekali, tetap makan dengan gaya seolah-olah makan nasi pecel. “Wah asal kalau ke enakan membayangkan makan nasi pecel nggak bisa di bagi-bagi Pak Tomy”. candaku. Saya tidak tahu apa kehilangan rasa yang saya alami ini juga dirasakan oleh teman-teman lainnya. Tiba waktunya kita akan kembali ke tanah air. Melalui Airpot di kota cantik Pinang, Malaysia, rombongan akan terbang langsung ke Surabaya. Waktu tempuh dari pinang sampai ke Surabaya sekitar 2 jam 30 menit. Sepanjang perjalanan sudah banyak berangan untuk mengembalikan rasa. Rasa nasi goreng yang sebemarnya, rasa rawon yang sebenarnya, rasa nasi gurih yang sebenarnya, dan semua seakan akan terasa lebih nikmat. Menahan rasa lapar untuk nantinya diganti dengan makan sepuasnya. Kuliner Indonesia nampaknya sangat menjadi favorit lidah kita. Siang ini ada agenda menuju kota malang. Travel Car memjadi pilihan untuk sejenak beristirahat di perjalanan. Saya coba tawarkan ke Mas Anto ( driver). Bagaimana kalau kita rehatnya dirubah di ayam panggang bangi ? Mas Anto setuju saja. Selanjutnya saya tawarkan ke penumpang lain di travel car ini. Kebetulan hanya berdua dengan saya, Mbak Anisa namanya. Seorang mahasiswi di Universitas Brawijaya Malang ( UB ). Sambil berkenalan Mbak Anisa berasal dari Bekasi, Jawa Barat. Sambil sedikit merayu saya beritahu bahwa ayam panggang bangi rasanya paling enek se dunia. Nah manjur dan Mbak Anisa ikut setuju, maka kita berhenti sejenak. Saat inilah berasa lidah saya kembali, cerita saya kepada mereka berdua. Sambil menikamti pedasnya sambal kelapa san bumbu khas panggang ayam bangi. Selama 4 hari saya makan dengan kondisi hilang rasa. Maksudnya rasa si angan lepas jauh dengan rasa di lidah. (Aris/DKI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.