Circle of Intelegence dan Tantangan Keluarga 4.0

0
147

Oleh: Fathan Faris Saputro

Keluarga merupakan sebuah bangunan kecil masyarakat dan pilar bagi keberlangsungan sebuah komunitas bernegara. Keberhasilan sebuah keluarga kecil dalam membangun kebahagiaan, keamanan, dan kesejahteraan menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah negara membangun masyarakatnya. Semakin baik keluarga yang tercipta maka semakin kondunsif dan stabil keadaan suatu negara.

Tidak salah jika kemudian semua kepercayaan (agama samawi) sangat menekankan pentingnya sebuah keluarga ini hingga harus diatur dan dipersiapkan sebaik-mungkin menjadi bangunan masyarakat yang aman, damai dan sentosa. Hal ini juga berlaku bagi keberlangsungan sebuah suku atau kabilah, yang sangat menjaga martabat dan eksistensi keluarganya dengan membangun struktur yang kuat yang terdiri dari unsur-unsurnya.

 

Di era industri 4.0 ini tantangan terberat adalah menjadikan sistem berkeluarga terintegrasi dengan sistem yang berjalan pada era digitalisasi. Digitalisasi menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditolak dan menyatu bersama dengan kehidupan itu sendiri. Artinya, dengan semakin masif dan terstrukturnya digitalisasi ditengah-tengah kehidupan masyarakat maka tuntutan untuk digitalisasi dalam hubungan berkeluarga menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari.

Kegagalan suatu keluarga dalam merespon zaman yang terus berjalan, yang menyebabkan ketidakmampuan beradaptasi dengan kemajuan yang terus dijalankan oleh waktu akan berakibat fatal dengan kerusakan sistem berkeluarga itu sendiri. Hubungan koneksi yang terintegrasi akan hancur, rusak dan berantakan yang mengakibatkan hilangnya tatanan masyarakat dan bangunan sistem bernegara.

Dewasa ini banyak diketahui berbagai bentuk kehancuran bangunan sebuah ikatan keluarga akibat dari kegagalan dalam merespon kemajuan zaman di era industri 4.0 ini. Misalnya, suami atau istri yang berselingkuh, kenakalan remaja, ketidakmampuan orang tua memberikan pendidikan, hilangnya waktu luang bermain untuk anak-anak, penyelesaian permasalahan domestik keluarga yang tidak tuntas, dan keadaan keluarga yang selalu dirundung masalah dan ketidaknyamanan. Semua ini bisa terjadi akibat dari kegagalan sebuah keluarga merespon, membentengi dan beradaptasi dengan kemajuan industri 4.0, dengan kata lain keluarga tersebut gagal melakukan digitalisasi dalam merawat sistem keluarga.

Ciri utama keluarga yang memiliki kecerdasan yang terawat dengan baik adalah kemampuannya untuk senantiasa meningkatkan kecerdasan yang dimilikinya, baik kecerdasan intelektual, sosial, maupun spritual. Kecerdasan yang terawat tidak hanya mampu dan rajin membaca buku saja, namun juga merespon perkembangan zaman dan peningkatan ruang waktu, sekaligus membentengi diri secara emosional dari kondisi yang kurang menentramkan. Namun di era IR 4.0 ini, yang juga mewarisi tradisi masa lalunya kondisi pasangan keluarga kesulitan untuk menghadapi hal itu.tidak sedikit yang merasa sudah “tertutup belajar” bagi ibu-ibu yang sudah mempunyai kesibukan merawat anak atau memiliki pekerjaan tetap di kantor, salah satu penyangga adalah lingkaran kecerdasan keluarga.

Lingkaran kecerdasan keluarga meliputi tiga dimensi, yakni bayani (tekstualitas), burhani (kontekstualitas) dan irfani (supranatural) dimiliki oleh setiap manusia yang mendirikan bangunan sebuah rumah tangga. Konektivitas relasi keluarga 1-4-5 (satu ayah, empat ibu maksimal, dan lima anak maksimal) tidak akan pernah bisa lepas dari eksistensinya memiliki lingkaran kecerdasan itu, karena jika tidak memilikinya maka kehancuran dan bencana pasti akan menimpahnya. Jika tidak menimpah hari ini akan menimpah ketika menjelang ajal tiba. Baik melalui suaminya atau istrinya, yang paling berpeluang besar sebagai penerima bencana adalah suami.

 

Lingkaran kecerdasan (Circle of Intelgence) ini perlu dimiliki, lalu dirawat dan perlu pula dipelihara agar tidak hilang. Cara terbaik merawat dan menjaga lingkaran kecerdasan tiga dimensi ini adalah dengan selalu memutar tasbih (memutar pusat kecerdasan—hati) dalam 24 jam beraktivitas sehari-hari. Baik pada kondisi terjaga maupun dalam kondisi tertidur.

Cara satu-satunya agar tubuh terkondisi 24 jam memutar tasbih adalah dengan cara rajin, berdzikir, tawajuh dan suluk disertai sedekah rutin. Dengan membiasakan hal ini maka proses memutar lingkaran kecerdasan tiga dimensi secara otomatis akan bisa dijalankan dan memberikan dampak yang meng-upgreat kecerdasan tiga dimensi itu sendiri.

Puncak kemampuan bayani, yakni kemampuan secara cepat memahami teks sebuah tulisan, baik yang bernafaskan agama maupun yang bersifat sekuler akan mudah diperoleh dan mudah dipahaminya, jika rutin menjalankan proses berdzikir, tawajuh dan suluk disertai sedekah rutin. Dan kemampuan tersebut akan datang dengan sendirinya dan meningkat dengan jalan yang tanpa disangka-sangka.

Puncak kemampuan burhani, yakni kemampuan secara cepat merespon kejadian di sekitarnya, melihat fenomena alam dan mengamati fenomen masyarakat, mendalami numena yang tak terlihat dibalik kenyataan yang tersembunyi (alam ghaib) dan membuat analisis yang tepat tentang hasil pengamatannya. Hal itu juga bisa dengan mudah diperoleh jika berdzikir, tawajuh dan suluk disertai sedekah rutin bisa dijalankan dengan baik, seolah memutar sebuah roda elektronik. Tidak ada fenomena yang tak terbaca dan tidak ada numena yang tak nampak, semua akan terbongkar dengan bantuan kekuatan kecerdasan tiga dimensi yang terus diputar dengan tasbih.

Dan puncak kecerdasan irfani, mengkondisikan dirinya selalu bersama (1) Allah Dzat Yang Maha Tinggi lagi Suci, atau (2) terkondisi melihat Allah, atau juga (3) merasa dalam pengawasan Allah. Hal-hal seperti ini tidak akan bisa terjadi jika berdzikir, tawajuh dan suluk disertai sedekah rutin tidak diputar secara rutin. Keharusan melakukan keempat hal itu tidak bisa dihindari dan tidak bisa ditolak oleh sebuah keluarga, terutama suami, karena hal itulah yang akan memberikan dampak yang mampu memutar kecerdasan tersebut.

Seorang suami yang bisa mendapatkan ketiga puncak kecerdasan tiga dimensi ini dengan pasti akan memberikan dampak yang sangat positif bagi bangunan keluarga yang dibangunnya. Pondasi peradaban umat manusia akan kuat dan mampu menciptakan sejarah yang lebih dinamis bagi masa depan generasi selanjutnya. Apalagi jika  istrinya bersama-sama juga ikut serta dalam menjalankan proses memutar tasbih ini, akan semakin menambah energi untuk memutar lingkaran kecerdasan tersebut.

Alangkah hebatnya  bersama-sama bergerak untuk memutar lingkaran kecerdasan tiga dimensi ini, insyaallah keluiarga akan tetap terjaga dalam ridla Ilahi Rabbi.

Penulis

Editor: Bariyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.