Dampak Covid-19 Terhadap Penggunaan E-Wallet

0
131

Oknews.co.id – Dunia sedang dihebohkan dengan munculnya Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19), yang membawa dampak signifikan ke perubahan dunia. Mulai dari aspek ekonomi, sosial, hingga kehidupan sehari-hari, hampir tak ada yang bisa berkelit dari kemunculan virus Covid-19 ini, tidak terkecuali terhadap pelayanan publik sejak virus corona pertama kali muncul akhir Desember 2019 lalu.

Sejak diumumkan kasus positif virus Covid-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020 lalu, pemerintah meningkatkan langkah-langkah dalam menangani pandemi global dari Covid-19.

Sebelum itu, pemerintah juga telah meningkatkan kesiagaan banyak rumah sakit dan peralatan yang sesuai dengan standar internasional, termasuk pada anggaran yang secara khusus dialokasikan bagi segala upaya pencegahan dan penanganan.

Sejak awal Maret 2020, berbagai kebijakan telah dikeluarkan oleh pemerintah pusat dan daerah. Mulai dari membatasi hubungan sosial (social distancing), menghimbau untuk bekerja di rumah (work from home) bagi sebagian besar Aparatur Sipil Negara (ASN), meniadakan kegiatan ibadah, dan meminta masyarakat untuk tetap di rumah serta mengurangi aktivitas ekonomi di luar rumah. Kebijakan tersebut bermaksud baik, namun dampak dari kebijakan tersebut memiliki resiko tinggi, hingga akhir Maret 2020 kebijakan pemerintah bukan hanya social distancing tapi dilanjutkan dengan Physical Distancing, dan juga pemerintah telah menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Dampak pandemi covid-19 akan memperburuk ekonomi Indonesia, bahkan pertumbuhan ekonomi diprediksi bakal tumbuh hanya sebesar 2,5 persen bahkan bisa mencapai 0 persen. Selama kondisi pandemik covid-19 ini masyarakat dihadapkan pada berbagai alternatif pilihan yang tidak banyak untuk melakukan transaksi guna menghindari penyebaran virus corona ini. Konsumen menghindari kontak fisik (physical distancing) sehingga dalam melakukan transaksi mereka lebih banyak menggunakan transaksi secara digital. Penggunaan e-wallet memang sangat mempermudah masyarakat dalam melakukan transaksi, terlebih untuk membatasi penggunaan uang tunai atau kertas. Perkembangannya sekarang masyarakat banyak yang berbelanja secara online, dan berdampak pula pada penggunaan transaksi yang sebelumnya menggunakan uang tunai, kini memanfaatkan e- wallet. Bahkan untuk mencegah penyebaran pandemi virus covid-19 penggunaan aplikasi belanja online melonjak hingga 300%.

Dalam bidang ekonomi kebiasaan masyarakat banyak berubah dari yang bisasanya konsumen senang untuk berbelanja secara fisik, berubah menjadi berbelanja secara online atau dengen menggunakan e-money atau disebut dengan electronic payment. Elektronik payment adalah model pembayaran yang memudahkan dan menawarkan kenyamanan kepada penggunanya dalam melakukan transaksi pembayaran. Pengguna hanya perlu melakukan transaksi dengan memanfaatkan internet yaitu secara online, tanpa harus bertemu atau datang jauh-jauh untuk menemui penjual.

Sedangkan E-Wallet atau Dompet Elektronik adalah layanan web atau program yang berguna untuk menyimpan dan mengontrol informasi belanja online seorang user, seperti informasi login, password, alamat pengiriman pembeli, dan informasi detail tentang kartu kredit user. Informasi pelanggan tersebut akan disimpan dalam suatu tempat sentral yang cukup aman. E-Wallet menyediakan cara yang nyaman, cepat, dan aman kepada penggunanya untuk melakukan transaksi secara online di seluruh dunia dari toko manapun dan siapapun. Dompet elektronik atau e-wallet dapat menggantikan fungsi dompet biasa ke dalam suatu aplikasi atau program dan menghilangkan kebutuhan masyarakat akan beberapa kartu yang ada dalam dompet. E-Wallet juga menyediakan beberapa fitur keamanan yang tidak dimiliki oleh dompet biasa. E-Wallet memungkinkan penggunanya untuk melacak informasi tagihan dan pengiriman sehingga transaksi menjadi lebih cepat dan aman.

Berdasarkan data dari Analytics Data Advertising (ADA), “pada akhir Februari 2020 hingga minggu ketiga Maret, aktivitas di kawasan pusat bisnis Jakarta mengalami penurunan sebesar 53%”. Tentu saja hal tersebut berdampak pula pada penggunaan transaksi, yang sebelumnya menggunakan uang tunai, kini lazim memanfaatkan e-wallet.

Pembelian produk secara online oleh konsumen akan disimpan oleh perusahaan sebagai big data dalam bentuk algoritma komputer sehingga perusahaan e-commerce dapat menargetkan lebih besar target pasarnya dengan lebih spesifik dan personal, serta sebagai database untuk membuat startegi pemasaran dari perusahaan tersebut.
Kondisi pandemi yang dialami berimplikasi pada perubahan pola konsumen dalam berbelanja, dimana konsumen akan lebih sering berada di rumah untuk melakukan transaksi mereka.

Dengan menggunakan gadget konsumen akan memiliki preferensi yang lebih luas mengenai tujuan berbelanja, mereka akan lebih banyak untuk mencari tahu tentang sebuah produk, dan harga yang ditawarkan oleh berbagai penjual.
Sebaliknya, kondisi krisis seperti adanya pandemik ini dari sisi konsumen adalah munculnya adaptive shopper, maka dari segi penjual dikenal adaptive selling (penjualan adaptif) dimana tenaga penjual menyesuaikan strategi mereka dengan persyaratan pelanggan atau dinamika situasi selama penjualan agar konsumen merasa senang dan puas. Dengan menjaga hubungan yang baik dengan konsumen maka bisnis mereka akan berlangsung tidak hanya jangka pendek, tetapi jangka panjang menciptakan pelanggan yang loyal.

Seiring dengan menurunnya pandemi covid-19 di berbagai negara pelaku e-commerce tentunya dituntut untuk menyusun strategi bisnis untuk jangka panjang. Sebab, pada masa covid-19 ini perusahaan-perusahaan e-commerce harus memberikan kesan yang baik melalui peran service solution seperti barang yang dikirim aman, penggunaan e-wallet sebagai solusi ketika berada di rumah, dan membeli barang tidak menggunakan uang tunai.

Penulis : Abud Musaad

Editor : Cakra Yudha Bhakti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.