Dampak Pariwisata Terhadap Kebudayaan Lokal (Hasil Kajian Terhadap Desa Wisata Brayut, Nglanggeran dan Kalibiru)

0
3747
https://3.bp.blogspot.com/-iIv7wzjxaGs/VsgvoBaQxOI/AAAAAAAAA2Q/oAvCDCCVpHU/s1600/timthumb.jpg

A. Pengantar

Era globalisasi telah membawa perubahan dan perkembangan terhadap pariwisata yaitu, motivasi wisatawan dalam memilih objek wisata. Hal tersebut secara empiris dapat dilihat dari kecenderungan wisatawan dalam memilih produk wisata. Saat ini banyak wisatawan yang meninggalkan produk-produk standar berskala massal dan lebih memilih produk-produk unik yang beragam dan bermutu tinggi, Weile dan Hall (dalam, Danamik, 2003).

Kondisi di atas mengakibatkan daerah-daerah baru, kawasan pedalaman, atau desa-desa tradisional yang kaya akan potensi sumber daya alam dan budaya tidak luput dari sasaran kunjungan wisatawan. Anggapan Danamik (2003) bahwa lahirnya pariwisata pedesaan disebabkan oleh permintaan pasar wisatawan atas objek dan atraksi wisata yang baru dan berbeda dengan objek konvensional, terutama yang berbasis resort-resort besar.

Konsep pariwisata pedesaan merupakan objek dan daya tarik kehidupan desa dengan ciri-ciri khusus masyarakatnya, panorama alam dan budayanya, (Ahimsa-Putra, dkk, 2001). Sedangkan Damanik (2003) memberikan batasan bahwa pariwisata pedesaan merupakan aktivitas masyarakat dan wisatawan di desa.
Hadirnya pariwisata di pedesaan akan membentuk sebuah aktivitas bersama, sehingga akan membentuk sebuah pola interaksi antara wisatawan dengan masyarakat setempat. Pola interaksi tersebut pada akhirnya akan memberikan dampak terhadap lingkungan baik positif maupun negatif.

Dampak positif dapat dilihat yaitu, peningkatan pendapatan masyarakat, peningkatan pendapatan devisa, peningkatan kesempatan kerja dan peluang usaha, peningkatan pendapatan pemerintah (Pitana dan Gayatri, 2005). Selain itu, keberadaan pariwisata itu harus mengedepankan upaya untuk mewujudkan hubungan interaksi yang symbiosis mutualistic antara industri kepariwisataan dan lingkungan setempat. Hal ini, kemudian disebut dengan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, serta mampu melestarikan kebudayaan lokal (Sunaryo, 2013). Dan hal tersebut sesuai dengan amana UU No 10 Tahun 2009.

Masyarakat lokal memiliki peran penting dalam proses pembangunan dan pengelolaan pariwisata. Hal ini sejalan dengan hakekat pariwisata pedesaanyang memanfaatkan unsur-unsur yang ada dalam masyarakat desa yang berfungsi sebagai atribut produk wisata menjadi suatu rangkaian aktivitas pariwisata yang terpadu. Maka model pembangunan desa wisata yang seperti ini dapat melestarikan eksistensi budaya lokal (Demartoto dan Utami, 2009).

B. Konsep Desa Wisata Budaya

Desa wisata merupakan sebuah kawasan atau destinasi yang berada di desa yang di dalamnya terdiri dari potensi sumber daya sesuai dengan kondisi aslinya. Pariwisata pedesaan merupakan bentuk wisatu baru dan sekaligus telah menjadi trend baru di dunia internasional. Biasanya wisatawan yang datang ke sebuah desa wisata yang letaknya terpencil. Kedatangan wisata untuk mempelajari tentang kehidupan desa dan lingkungan setempat (life in) (Inskeep, 1991).

Secara eksplisit mengenai desa wisata budaya merupakan pariwisata pedesaan sebagai suatu bentuk integrasi antara atraksi, akamodasi dan fasilitas yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. Istilah tersebut sangat menekankan kepada budaya setempat, sehingga hal tersebut sesuai dengan UU No 10 Tahun 2009 bahwa tujuan pariwisata untuk memajukan kebudayaan yang ada di Indonesia.

Hadiwijoyo (2012) mendefinisikan desa wisata merupakan sebuah kawasan pedesaan yang menawarkan kseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian pedesaan. Kondisi tersebut harus ditunjang dengan adanya kehidupan sosial ekonomi, sosial budaya, adat istiadat, keseharian, memiliki infrastruktur bangunan dan struktur tata ruang desa yang khas, atau kegiatan perekonomian yang unik dan menarik.

C. Dampak Adanya Desa Wisata Terhadap Budaya Lokal di (Brayut, Nglanggeran dan Kalibiru)
1. Dampak Positif
Pariwisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat,
sehingga membawa berbagai dampak terhadap masyarakat setempat, (Pitana dan Gayatri, 2005),
diantaranya budaya dan kesenian lokal. Dalam masyarakat terdapat kebudayaan (acuan anggota
masyarakat dalam bersikap dan bertingkah laku), struktur sosial (bentuk interaksi antar anggota
masyarakat) dan kepribadian (karakteristik individu dalam memberi respon individu lain).

Asumsi dasarnya adalah suatu usaha atau kegiatan yang diintrodusir berpengaruh terhadap ketiga
aspek tersebut. Dalam proses introduksi usaha atau kegiatan tersebut, nilai-nilai sosial yang oleh
masyarakat (penduduk lokal) ditempatkan sebagai acuan terhadap the way of thinking dan the way of
doing diuji kembali. Boleh jadi sebagian tetap dipakai (dengan beberapa modifikasi) dan sebagian
yang lain dibuang, digantikan dengan yang dianggap mampu menajwab kebutuhan masyarakat, (Demartoto
dan Utami, 2009).

Tren perkembangan dan pertumbuhan desa wisata khususnya yang berada di daerah Yogyakarta telah
mampu memberikan dampak yang positif terhadap budaya dan kesenian lokal. Hadirnya pariwisata
memberikan angin segar di tengah redupnya dan lesunya budaya dan kesenian lokal. Beberapa desa
wisata yang mampu memberikan dampak terhadap budaya dan kesenian lokal yaitu, Desa Wisata Brayut,
Desa Wisata Ngelanggeran, dan Desa Wisata Kalibiru Ahimsa,(b) (2011), Sucipto, dkk (2015), dan
hasil wawancara.

a. Desa Wisata Brayut
1) Budaya Bertani
Kondisi masyarakat sebelum adanya aktivitas pariwisata masyarakat bertani dengan cara membajak
dan dikerjakan sendiri. Setelah berkembangnya pariwisata masyarakat tetap bertani namun,
aktivitas pertanian tersebut menjadi daya tarik wisata dan masyarakat mendapat penghasilan
tambahan dari hasil penjualan paket bertani dan masyarakat diringankan dalam pekerjaannya
karena wisatawan ikut dalam aktivitas pertanian tersebut.
2) Genduri
Bagi masyarakat Jawa merupakan upacara makan bersama yang diselenggarakan dalam rangka
merayakan, memperingati atau mengenang suatu peristiwa penting. Seiring dengan hadirnya
pariwisata Genduri mempunyai nilai kebersamaan, suasana Jawa tradisional (yang hadir
lewat cara duduk, jenis makan, dan alat yang digunakan untuk makan) yang ada dalam kenduri
inilah yang “dijual” oleh pengelolah desa wisata di Brayut.
3) Jathilan
Kesenian ini sudah hampir punah dan bahkan masyarakat sudah mau melupakan, tetapi aktivitas
pariwisata menjadi pemicu untuk menghidupkan kembali kesenian-kesenian lokal yaitu
jathilan.

b. Desa Wisata Kalibiru
1) Sedekah Bumi
Masyarakat lokal memiliki tradisi sedekah bumi. Hal tersebut dilakukan sebagai rasa syukur atas
hasil bumi yang diperoleh. Kesadaran dan pengetahuan masyarakat tradisi tersebut dijadikan
sebagai event tahunan dengan tujuan untuk menghadirkan dan meningkatkan kunjungan wisatawan ke
Desa Wisata Kalibiru.

c. Desa Wisata Gunung Api Purba Nglanggeran
1) Ngangon
Angon atau menggembala ternak kambing dan sapi adalah kebiasan warga desa Nglanggeran sebelum
pariwisata masuk ke desa mereka. Tempat menggembala mereka di kawasan Gunung Api Purba. Namun,
sayang saat ini masyarakat sudah tidak bisa mengembala hewan di kawasan tersebut karena sudah
menjadi objek wisata.
2) Bercocok Tanam
Sebelum pariwisata masuk ke desa mereka, budaya bercocok tananm warga mendominasi aktivitas
masyarakat desa Nglanggeran, mulai dari bertani sampai memanfaatkan hasil hutan. Budaya
bercocok tanam menjadi salah atraksi yang bisa dijual kepada wisatawan dan masyarakat
mendapatkan keuntangan dari itu.

Adanya desa wisata mampu menghidupkan kembali tradisi-tradisi yang mulai hilang. Justru hadirnya
pariwisata mampu memelihar keunikan dari setiap seni dan budaya lokal karena memang wisatawan
mencari sesuatu yang tidak ada di daerah asalnya. Dan rata-rata wisatawan yang berkunjung ke desa
wisata berasal dari daerah perkotaan.

2. Dampak Negatif
Hadirnya desa wisata di Brayut, Nglanggeran, dan Kalibir ternyata tidak hanya memberikan dampak
positif terhadap lingkungan sekitar. Namun, juga memberikan dampak negatif terutama terhadap
keberadaan kebudayaan masyarakat setempat. Interaksi yang terjadi antara pengelola, masyarakat
setempat dengan wisatawan yang datang memberikan perubahan.

Kehadiran wisatawan ke desa wisata menimbulkan terjadinya interaksi dengan penduduk sekitar.
Masyarakat akan menerima masuknya unsur-unsur asing dan akan memberikan respon tertentu.
Namun, secara tidak langsung pengaruh kebudayaan telah menggeser aturan dan pola kehidupan lama.
Akibat dari pergeseran tersebut akan menyebabkan terjadi pemudaran terhadap beberapa institusi
sosial seperti gotong royong dan adanya keretakan sosial lainnya. Berkurangnya jiwa kebersamaan
dan tolong menolong di satu sisi semakin menumbuhkan jiwa individualisme yang mengakibatkan
kehidupan masyarakat cenderung kompetitif – konsumtif yang nampak dominasi uang dalam kehidupan
masyarakat.

Dampak pengembangan pariwisata pedesaan akan memberikan pengaruh terhadap kehiduap sosial budaya
masyarakat terlihat melalui perubahan sikap dan tingka laku masyarakat yang disebabkan oleh telah
terjadinya pergeseran-pergeseran nilai sosial yang pada akhirnya bermuara kepada perubahan tata
nilai sosial budaya dalam hidup dan kehidaupa masyarakat, H. Baiq Titiek Widani, dkk (dalam,
Azizah, 2013).

Beberapa contoh dampak negatif yang bisa dilihat secara umum pada desa wisata Brayut, Nglanggeran
dan Kalibiru yaitu terjadinya pergeseran pemahaman agama, dan terjadinya pergeseran nilai yaitu
lunturnya kebersamaan dalam masyarakat antara lain hilangnya / berkurangnya sifat kegotong-
royongan, munculnya sikap individualistis. Hal itu bisa dirasakan pada tiga desa wisata yang
disebutkan di atas.

D. Kesimpulan
Setiap pembangunan pasti akan memberikan dampak terhadap lingkungan sekitarnya. Termasuka pembangunan wisata pedesaan akan mamberikan dampak baik positif maupun negatif. Secara positif hadirnya pariwisata pedesaan mampu menjaga eksistensi budaya dan kesenian lokal. Namun, pada saat yang bersamaan pariwisata pedesaan juga memberikan dampak negatif yaitu terjadinya pergeseran nilai, berkurangnya sifat kegotong-royongan.

Proses selanjutnya untuk menjadikan budaya sebagai atraksi untuk menunjang sebuah destinasi desa wisata perlu adanya kreatifitas terutama oleh para pelaku seni dan masyarakat setempat. karena di beberapa wilayah masih dijumpai lemahnya inovasi dalam pengembangan produk mengakibatkan pariwisata budaya belum mampu menawarkan alternatif yang memiliki daya tarik yang beragam.

E. Daftar Pustaka
Ahimsa-Putra, H.S., Sujito, A dan Trisnadi, W. (2001). Pengembangan Model Pariwisata Pedesaan Sebagai Alternatif Pembangunan Berkelanjutan. (Laporan Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi). Yogyakarta: Lembaga Penelitian UGM.
Ahimsa-Putra, H.S. (b) 2011. Pariwisata di Desa dan Respon Ekonomi: Kasusu Dusun Brayut di Sleman, Yogyakarta. Jurnal Patrawidya, Vol. 12, No. 4, hal 635-660.
Azizah, Khimatul. 2003. Dampak Kegiatan Pariwisata Terhadap Lingkungan Sosial Budaya Masyarakat di Sekitar Objek Wisata Guci Kabupaten Tegal. Tesis Ilmu Huku Universitas Gadjah Mada.
Damanik, Janianton. 2003. Pariwisata Indonesia: Antara Peluang dan Tantangan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Demartoto, Argyo dan Utami, Trisni. 2009. Dampak Pembangunan Pariwisata Pedesaan Terhadap Pemberdayaan Potensi Sosial Budaya Masyarakat. Dalam Pembangunan Pariwisata Berbasis Masyarakat. Penyunting: Argyo Demartoto. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Hadiwijoyo, Suryo Sakti. 2012. Perencanaan Pariwisata Perdesaan Berbasis Masyarakat (Sebuah Pendekatan Konsep). Graha Ilmu. Yogyakarta
Inskeep, Edward, 1991. Tourism Planning, An Integrated and Sustainable Tourism Development Approach. Van Norstrand Reinhold, New York, USA
Nugroho, I. 2011. Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nuryanti, Wiendu. 1993. “Concept, Perspective and Challenges”, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional Mengenal Pariwisata Budaya. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Pitana, I Gde, dan Gayatri, Putu G. 2005. Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta: andi.
Sucipto, dkk. 2015. Analisi Dampak Lingkungan Pada Desa Wisata Nglanggeran. Makalah:Mata Kuliah Analisis Dampak Pembangunan Pariwisata. Magister Kajian Pariwisata Sekolah Pascasarjana Universitas Gajah Mada
Sunaryo, Bambang. 2013. Kebijakan Pembangunan Destinasi Pariwisata Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Yogyakarta: Gava Media.

(Sucipto/Arya)