Democrazy

    0
    64

    Oknews.co.id, Memang sulit dinalar, jika seorang penderita gangguan jiwa, masih diminta pertimbangan untuk menentukan pilihan atas sebuah perkara. Namun itulah yang terjadi di negeri ini, negeri demokrasi, negeri pancasila. Beberapa waktu lalu, menyeruak pemberitaan di media, tentang orang gila yang punya hak suara. Mereka akan tetap difasilitasi untuk mencoblos. Artinya, orang gila tetap berkesempatan untuk memilih pemimpin. Menggelikan sekali bukan?

    Inilah fakta di negeri ini. Banyak hal terjadi secara terbalik. Ketika seorang pembacok harus berhadapan dengan proses hukum, dia bisa bebas dengan alasan gila, meski publik sebetulnya meragukan kegilaannya. Namun, saat musim pemilu tiba, seseorang yang sudah jelas-jelas gila, tetap diberi kesempatan untuk menggunakan hak pilihnya, padahal kita semua tahu, orang gila tak memikirkan dirinya sendiri. Lantas dimana logikanya jika orang gila dipercaya untuk memberi arahan di atas kertas coblosan untuk sebuah nasib kepemimpinan lima tahun ke depan?

    Dalam pandangan Islam, orang gila tidak wajib menjalankan perintah agama. Dia tidak diganjar pahala saat beribadah. Dia pun tak berdosa tatakala melanggar perintah. Orang gila tak dibebani hukum, dan pendapatnya tidak bisa diterima. Sedangkan di negeri pancasila ini, orang gila memiliki hak suara. Sungguh tak bisa dicerna logika, seseorang yang tidak sanggup menggunakan akalnya secara normal, diakui suaranya dalam coblosan. Entah apa motifnya, apakah memang harus begitu atau sengaja dibuat demikian untuk pemanfaatan suara demi pihak tertentu, yang jelas kebijakan ini sangat tidak masuk akal.

    Di negeri ini, negeri demokrasi pancasila, banyak hal tak demokratis, banyak orang yang tak pancasialis. Demokrasi hanya menjadi alat penghalus untuk sebuah penjajahan, lewat jargon-jargon kebebasan berpendapat yang dipaksakan. Pancasila dibilang Islami, disebut-sebut sebagai sumber segala hukum, namun faktanya banyak hukum tidak Islami yang terlahir di negeri ini. Apabila begitu, dari tataran praktis, masihkah pantas pancasila disebut sesuai dengan syariat Islam? Wallahu a’lam bishshawab.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.