Dialog Wacana Kristen dan Islam tentang Isa atau Yesus

0
352

Oknews.co.id – Malang, Isa atau Yesus ialah figur penting di dalam Alquran. Perbincangan mengenai Yesus menjadi sarana membicarakan berbagai ajaran Al-Quran. Ayat-ayat Al-Quran mengenai Yesus Putra Maryam menjembatani iman Islam dan Kristen. Pada saat yang sama, Al-Quran menunjukkan beberapa pandangan berbeda mengenai Yesus. Tapi, perbedaan pandangan tersebut tak menjadi tembok pemisah antara kedua agama dan umatnya. Lebih jauh lagi, komunitas Muslim yang awal hidup dalam suasana antariman yang nirsektarian. Juga tidak mengarah kepada benturan peradaban.

 

Islam muncul di Jazirah Arab pada abad keenam Masehi, di tengah masyarakat pagan atau politeis, dan juga masyarakat Kristen dan Yahudi. Konteks kesejarahan ini, tentu saja, memengaruhi perkembangan Islam sebagai agama dan umat yang baru. Para sejarawan melaporkan Kristen di Jazirah Arab, dan juga di wilayah sekitarnya seperti Suriah, menganut gagasan trinitas, yaitu kesatuan Tuhan Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Karenanya, Al-Quran juga merespon pandangan keagamaan ini.

 

Di dalam Al-Quran, Isa atau Yesus dipandang sebagai hamba Allah (abdullah), nabi, dan rasul. Tuhan mengajarinya Taurat, memberinya Injil (3:48), dan membantunya dengan Roh Kudus (2:87). Yesus adalah ‘kata’ atau kalimah dari Tuhan, yang dihormati di dunia ini dan di akhirat (3:45). Yesus diciptakan dari debu seperti halnya Adam (3:59). Serupa nabi lain, nama Yesus disebut bersama frase alaihis salam (A.S.), semoga damai menyertainya.

 

Al-Quran menyebut beberapa mukjizat Isa A.S. Ia dapat menyembuhkan orang buta dan yang sakit kusta, dan membangkitkan orang yang sudah mati menjadi hidup kembali. Begitu pula, Yesus dapat menciptakan burung dari tanah lempung. Ketika para pengikutnya meminta, Nabi Isa dapat menghadirkan meja yang penuh hidangan. Mukjizat lain yang disebut Al-Quran adalah kemampuannya mengetahui apa yang dimakan orang dan apa yang mereka simpan di rumah mereka (3:49). Berbagai mukjizat ini bukan bukti ketuhanan Yesus, melainkan bukti nyata kerasulannya.

 

Isa lahir dari perawan Maryam. Maryam ialah perempuan paling menonjol di dalam Al-Quran. Ia disebut dengan nama pribadinya. Selain itu, ada Surah yang menggunakan namanya. Surah Maryam adalah satu-satunya Surah yang menggunakan nama perempuan. Al-Quran berkali-kali menggambarkan Maryam sebagai perempuan baik-baik yang saleh dan beriman. Pada saat yang sama, Al-Quran menekankan Maryam dan anak satu-satunya adalah ciptaan Tuhan.

 

Surat Maryam menceritakan dengan cukup rinci tentang kehamilannya sebagai perawan (19:16-34). Jibril atau Ruh dari Tuhan datang ke Maryam dalam bentuk laki-laki. Jibril mengatakan ia diutus Tuhan menyampaikan bahwa Maryam akan mendapat anugerah berupa anak laki-laki yang suci. Maryam bertanya bagaimana mungkin dia hamil tanpa disentuh laki-laki. Tapi Jibril mengatakan, bagi Tuhan itu perkara mudah. Maka Maryam mengandung. Ia mengasingkan diri ke tempat yang jauh. Ketika persalinan mendekat, ia merasa sakit sekali sehingga merasa lebih baik ‘mati dan dilupakan’. Jibril menghiburnya, dan memintanya supaya tetap makan kurma dan minum dari air yang mengalir di dekatnya.

 

Kalau ada yang penasaran mengenai siapa yang membentu proses kelahiran Yesus, maka jawabnya adalah, Maryam melahirkan Yesus tanpa bantuan siapa-siapa. Ketika ia kembali ke komunitasnya, Maryam dituduh macam-macam dan tidak bersedia menjawabnya. Dengan mukjizatnya, Bayi Yesus sendiri yang memberikan jawaban. Dia adalah hamba Allah, yang mendapatkan Alkitab, yang menjadi nabi, yang diberkati di mana-mana, yang melakukan salat, membayar zakat, berbakti pada ibu, dan tidak arogan. Itulah Isa putra Maryam, menjadi representasi ajaran Islam.

 

Jadi, kesamaan pandangan Kristen dan Islam, meliputi banyak segi. Termasuk di antaranya adalah monoteisme. Tuhan Islam dan Tuhan Kristen adalah satu. Ajaran kitab sucinya banyak yang mirip dan tumpang tindih, termasuk keyakinan mengenai kelahiran Yesus dari Perawan Maryam. Kedua agama juga memiliki keyakinan eskatologis yang sama mengenai datangnya hari kiamat, ketika Yesus muncul dan menyingkirkan dajjal (al-masih al-dajjal) atau anti-kristus.

 

Bedanya, Al-Quran menolak keyakinan tentang Isa sebagai anak Tuhan. Menurut Al-Quran, Tuhan tidak punya anak (5:17). Tuhan tidak beranak atau diperanakkan (112:3). Tidak punya sekutu (4:48). Al-Quran juga tidak menerima paham tentang kematian Yesus di tiang salib. Yang disalib Yahudi adalah orang lain yang menyerupai Yesus (4:156-59). Yesus sendiri naik ke langit hidup-hidup.

 

Yang perlu diperhatikan adalah apakah perbedaan mengenai ketuhanan Yesus memengaruhi interaksi Muhammad dan pengikutnya dengan Kristen di sekeliling mereka. Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tersebut tidak mengganggu kerjasama. Ini dapat dipahami tidak dari sudut toleransi atau benturan peradaban yang merupakan fenomena moderen. Fenomena modern ini ditandai dengan batasan-batasan yang jelas mengenai agama dan bagaimana politik sesekali menggunakan perbedaan sebagai modal meraih kuasa.

 

Sebaliknya, ciri lokal masyarakat ketika itu lebih berperan. Muhammad dan pengikutnya hanyalah minoritas di tengah komunitas Yahudi, Kristen, dan pagan. Selain itu, batasan antariman kabur, dalam konteks saling ketergantungan agama dan budaya setempat. Selain itu, ada juga usaha menjalin kerangka kerjasama, misalnya melalui Piagam Madinah, semacam konstitusi yang disepakati Muhammad dan pemimpin Yahudi dan pagan di Madinah. Beberapa ilustrasi dapat disebutkan di sini.

 

Ketika Muhammad dan pengikutnya mengalami penindasan di Makkah, Nabi Muhammad meminta sebagian pengikutnya mengungsi ke Abesinia atau Etiopia sekarang. Pengungsian ini berlangsung dalam dua gelombang pada tahun 615 dan 616. Ketika itu, Abesinia dipimpin Najasyi, Raja Kristen yang menerima dan melindungi pengungsi pengikut Muhammad. Belasan tahun kemudian, mereka kembali ke Madinah, yang telah menjadi domisili Nabi. Tetapi, sebagian tinggal di Ethiopia dan menjadi cikal bakal masyarakat Muslim pertama di luar Jazirah Arab.

 

Di Madinah, Muhammad beberapa kali menerima kunjungan tokoh agama Kristen di Najran, di bagian Selatan Jazirah Arab (sekarang di Saudi Arabia, dekat perbatasan dengan Yaman). Beberapa dari kunjungan ini, tidak urung, menyangkut perdebatan teologis. Tetapi, ada juga persaudaraan. Ketika berkunjung, Kristen Najran melakukan kebaktian di Masjid Nabi. Tidak aneh jika beberapa khalifah sesudah Nabi biasa sembahyang di gereja-gereja di Yerusalem dan Suriah, misalnya.

 

Yang juga penting adalah bagaimana saling ketergantungan dan kerjasama terjadi dalam konteks perang di jalan Allah. Pada masa Nabi, Nabi sendiri memimpin sebanyak 27 ekspedisi dan perang. Di dalam Sunan al-Tirmidhi, ada uraian mengenai hak Kristen dan Yahudi mendapatkan bagian dari pampasan perang (b?b ma j?’a fi ahli al-dhimmah yagz?na ma`a al-muslimin hal yushamu lahum). Disebutkan bahwa Nabi Muhammad memberikan bagian sekelompok Yahudi yang berperang dengan Nabi (al-Tirmidhi 368-369). Riset sejarah yang dilakukan U. Rubin dan R. Hoyland juga menyimpulkan bahwa Yahudi tidak hanya berpartisipasi dalam mendanai perang Nabi, tapi juga memainkan peran aktif dalam perang. Bagian mereka dari pampasan perang sama dengan bagian pengikut Nabi.

 

Para penerus Nabi, sejak dari periode empat khalifah pertama dan seterusnya, melanjutkan penaklukan-penaklukan ke berbagai daerah baru yang cakupannya jauh lebih luas dari kawasan Islam periode Nabi, seperti Palestina, Suriah, Mesir, Irak, Persia, sampai ke India. Dalam proses ini, umat Islam bertemu dengan berbagai komunitas dengan perkembangan politik yang bervariasi. Walaupun interpretasi sejarah yang belakanga cenderung menganggap bahwa perang yang terjadi sesudah Nabi hanya dilakukan kaum Muslim (mitos Islam disebarkan dengan pedang), riset yang belakangan menunjukkan bahwa perang fi sabilillah diikuti Kristen, Yahudi, dan pagan.

 

Ciri majemuk dan antariman tersebut berlanjut setidaknya sampai abad ke-9 Masehi atau abad ketiga Hijriah, ketika beberapa suku Nasrani di wilayah Libanon ikut serta dalam pasukan Muslim. Yang juga pernah menjadi unsur angkatan perang Muslim adalah kaum Majusi atau Zoroaster Persia. Tentu saja, pada masa tersebut baik laskar Nasrani maupun laskar Zoroaster tidak dipungut pajak kepala atau jizyah. Jizyah sebagai pajak kepala bagi non-Muslim, serta pajak untuk penganut Islam, masih dalam proses pembentukannya dan penerapannya masih bervariasi. Peran serta unsur-unsur Zoroaster mengisyaratkan perluasan pengertian ahlu-l-kitab sehingga mencakup Zoraster dan kemudian Hindu, selain Yahudi dan Kristen yang sudah lebih dulu tercakup.

 

Sekarang kita hidup di zaman yang ditandai dengan fasisme keagamaan. Yang ditekankan adalah sikap beragama yang kaku dan tidak menerima kritik. Doktrin keagamaan kadang-kadang dijadikan olok-olok. Kapasitas menjembatani perbedaan budaya cenderung diperlemah dan dimatikan. Komunitas agama-agama seakan ingin hidup independen, terpisah dari agama dan penganut agama lain.

 

Yang dilupakan, baik di Indonesia maupun di tempat lain, adalah kapasitas bekerja sama dalam rangka mencapai kepentingan bersama, dalam kondisi yang majemuk dan antariman. Kisah Isa A.S. di dalam Al-Quran dan pengalaman historis umat Islam masa awal menjadi amat bermakna dalam konteks ini.

 

Dari Pandangan Kriten

Yesus (bahasa Yunani: Ἰησοῦς Iesous; kr. 4 SM sampai 30–33 M; Arab: يسوع; Ibrani: יֵשׁוּעַ), juga disebut sebagai Yesus dari Nazaret atau Yesus Kristus, adalah tokoh sentral Kekristenan. Menurut ajaran sebagian besar denominasi Kristen, Yesus dipandang sebagai Putra Allah (Anak Allah). Umat Kristen meyakini bahwa Yesus adalah Mesias (atau Kristus, Yang Diurapi) yang dinantikan.

 

Hampir semua akademisi antikuitas modern setuju bahwa Yesus ada secara historis, dan para sejarawan menganggap bahwa Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) adalah sumber-sumber terbaik untuk meneliti historisitas Yesus.

 

 

 

 Kebanyakan akademisi sepakat bahwa Yesus adalah orang Galilea, rabi Yahudi yang mewartakan pesannya secara lisan, dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, dan disalibkan sesuai perintah Prefek Romawi Pontius Pilatus.

 

Menurut pandangan aliran-aliran utama saat ini, Yesus adalah seorang pewarta apokaliptik dan pendiri suatu gerakan pembaruan di dalam Yudaisme, kendati beberapa akademisi terkemuka berpendapat bahwa Yesus bukanlah apokaliptik.

 

Setelah kematian Yesus, para pengikutnya percaya bahwa Yesus bangkit dari kematian, dan komunitas yang mereka bentuk kemudian menjadi Gereja Kristen.

 

 

 

Era kalender yang paling umum, disingkat “M” (Masehi) dalam bahasa Indonesia atau disingkat “AD” dari bahasa Latin “Anno Domini” (“dalam tahun Tuhan kita”), didasarkan pada kelahiran Yesus. Kelahiran Yesus dirayakan setiap tahun pada tanggal 25 Desember (atau beragam tanggal pada bulan Januari di dalam beberapa gereja timur) sebagai suatu hari raya yang dikenal sebagai Natal.

 

Umat Kristen percaya bahwa Yesus memiliki suatu “signifikansi yang unik” di dunia. Doktrin-doktrin Kristen mencakup keyakinan bahwa Yesus dikandung oleh Roh Kudus, dilahirkan dari seorang perawan bernama Maria, melakukan berbagai mukjizat, mendirikan Gereja, mati karena penyaliban sebagai kurban untuk penebusan, bangkit dari kematian dan naik ke Surga, serta akan datang kembali ke bumi.

 

 

 

Sebagian besar umat Kristen percaya bahwa Yesus memungkinkan manusia untuk didamaikan dengan Allah. Pengakuan Iman Nicea menegaskan bahwa Yesus akan menghakimi orang mati baik sebelum atau setelah kebangkitan tubuh mereka, suatu peristiwa yang juga dikaitkan dengan Kedatangan Kedua Yesus di dalam eskatologi Kristen; walaupun beberapa kalangan meyakini peranan Yesus sebagai juru selamat memiliki kepentingan yang lebih sosial atau eksistensial daripada akhirat, dan beberapa teolog terkenal telah mengemukakan bahwa Yesus akan membawa suatu rekonsiliasi universal.

 

Sebagian terbesar dari kalangan Kristen menyembah Yesus sebagai penjelmaan dari Allah Putra, pribadi kedua dalam satu Trinitas Ilahi. Beberapa kelompok Kristen menolak Trinitarianisme, baik sebagian ataupun seluruhnya, karena mereka menganggapnya tidak selaras dengan kitab suci.

 

Dalam Islam, Yesus (umumnya ditransliterasikan sebagai Isa) dipandang sebagai Al-Masih (Mesias) dan salah satu nabi Allah yang penting.

 

 

 

Menurut umat Muslim, Yesus merupakan seorang pembawa kitab suci dan dilahirkan dari seorang perawan, namun bukan Putra Allah. Bagi sebagian besar kalangan Muslim, Yesus tidak disalibkan tetapi secara jasmani diangkat ke Surga oleh Allah.

 

Yudaisme menolak keyakinan bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan, dengan alasan bahwa kematian Yesus di kayu salib menandakan bahwa ia ditolak oleh Allah dan kebangkitannya adalah suatu legenda Kristen.

 

Etimologi

Informasi lebih lanjut: Yesus (nama), Nama Yesus Yang Tersuci, Nama Allah dalam Kekristenan, Yesua (nama), Yasu dan Isa (nama)

 

Orang Yahudi biasa pada zaman Yesus hanya memiliki satu nama, terkadang dilengkapi dengan nama ayahnya atau kampung halamannya.

 

 

 

Dengan demikian, dalam Perjanjian Baru, Yesus umumnya disebut sebagai “Yesus dari Nazaret” (mis. Markus 1:9) atau “Yesus orang Nazaret” (mis. Markus 10:47). Para tetangga Yesus di Nazaret mengenalinya sebagai “tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon” (Markus 6:3), “anak tukang kayu” (Matius 13:55), atau “anak Yusuf” (Lukas 4:22). Dalam Injil Yohanes, Filipus menyebut Yesus sebagai “Yesus anak Yusuf dari Nazaret” (Yohanes 1:45).

 

Nama “Yesus” berasal dari nama Latin Iesus, transliterasi dari nama Yunani Ἰησοῦς (Iesous). Bentuk Yunani tersebut merupakan terjemahan dari nama Ibrani ישוע (Yeshua; “Yesua” dalam bahasa Indonesia), suatu varian dari יהושע (Yehoshua; “Yosua” dalam bahasa Indonesia) yang adalah nama sebelumnya. Nama Yesua tampaknya telah digunakan di Yudea pada waktu kelahiran Yesus. Karya-karya abad pertama dari sejarawan Flavius Yosefus, yang menulis dalam bahasa Yunani Koine, yaitu bahasa yang sama seperti yang digunakan dalam Perjanjian Baru, menyebutkan setidaknya dua puluh orang berbeda dengan nama Yesus (yaitu Ἰησοῦς). Etimologi dari nama Yesus dalam konteks Perjanjian Baru pada umumnya disampaikan sebagai “Yahweh adalah keselamatan”.

 

Sejak awal Kekristenan, umat Kristen telah lazim menyebut Yesus sebagai “Yesus Kristus”.

 

Kata Kristus (Christ dalam bahasa Inggris) berasal dari kata Yunani Χριστός (Christos), yang adalah terjemahan dari kata Ibrani מָשִׁיחַ (Meshiakh), artinya yang “diurapi” dan biasanya ditransliterasi ke dalam bahasa Inggris sebagai “Messiah” (“Mesias” dalam bahasa Indonesia).

 

Umat Kristen menetapkan Yesus sebagai Kristus karena mereka percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan, dinubuatkan dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama. Dalam penggunaan pasca penulisan Alkitab, Kristus menjadi dipandang sebagai sebuah nama—salah satu bagian dari “Yesus Kristus”—tetapi pada awalnya merupakan sebuah gelar.

 

Istilah “Kristen” atau “Kristiani” (artinya “orang yang terikat kesetiaan kepada pribadi Kristus” atau cukup “pengikut Kristus” saja) telah digunakan sejak abad pertama.

 

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Yesus

 

Dari Pandangan Islam

Isa (bahasa Arab: عيسى, `Īsā; Essa; sekitar 1 – 32M) adalah nabi penting dalam agama Islam dan merupakan salah satu dari Ulul Azmi. Dalam Al-Qur’an, ia disebut Isa bin Maryam atau Isa al-Masih.

 

Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 29 M dan ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestina.

 

Namanya disebutkan sebanyak 25 kali di dalam Al-Quran. Cerita tentang Isa kemudian berlanjut dengan pengangkatannya sebagai utusan Allah, penolakan oleh Bani Israil dan berakhir dengan pengangkatan dirinya ke surga.

 

Etimologi

Kata Isa ini diperkirakan berasal dari kata Eesho atau Eesaa yang tidak di ketahui asal kata ini, karena identifikasi kebenaran sejarah atas penamaan Yesus Kristus yang umum digunakan umat Kristen ber- bahasa Aram untuk menyebutnya adalah nama Yeshua Hamasiakh, dan sedangkan orang Kristen Arab menyebutnya dengan Yasu’a al-Masih (bahasa Arab: يسوع المسيح).

 

Dalam Islam, kemudian ia diyakini mendapatkan gelar dari Allah Swt dengan sebutan Ruhullah dan Kalimatullah. Karena Isa dicipta dengan kalimat Allah “Jadilah!”, maka terciptalah Isa, sedangkan gelar ruhullah artinya ruh dari Allah karena Isa langsung diciptakan Allah dengan meniupkan ruh kedalam rahim Maryam binti Imran.

 

Genealogi

Narasi Qur’an tentang Isa dimulai dari kelahiran Maryam sebagai putri dari Imran, berlanjut dengan tumbuh kembangnya dalam asuhan Zakariya, serta kelahiran Yahya. Kemudian Al-Qur’an menceritakan keajaiban kelahiran Isa sebagai anak Maryam tanpa ayah.

 

“ (Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). (Ali ‘Imran: 45) ”

 

Dikisahkan pula bahwa selama Isa berada didunia, ia tidak menikahi seorang wanita karena ia terlebih dahulu diangkat oleh Allah kelangit. Akan tetapi, ada riwayat yang mengatakan bahwa Isa akan menikah dengan salah satu umat Muhammad ketika ia turun dari langit, kejadian ini dikisahkan menjelang akhir zaman.Ini juga merujuk kepada hal yang hampir mirip dalam kitab Wahyu 19.

 

Wujud

Dalam buku dikatakan bawa wujud fisik Isa digambarkan oleh Muhammad yaitu, rambutnya terbelah dua, wajahnya tampan, kulitnya putih agak kemerah-merahan. Muhammad bertemu dengan Isa, ketika ia sedang dalam Isra Mi’raj ke Sidrat al-Muntahā, dilangit kedua yang disebut sebagai Al-Maa’uun.

 

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Isa

Penulis : Uzlifah

Editor : Baba Barry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.