Efek Kekalahan Telak Amerika di ASEAN, Fakta dan Analisa

0
91

Oknews.co.id – Jakarta, Sebuah kesepakatan baru, yaitu the Outlook on the Indo-Pacific. Indo-Pasifik versi ASEAN. Konsepsi ASEAN yang diberi nama Outlook on the Indo-Pacific itu menegaskan pentingnya sentralitas dan kontribusi dari seluruh negara-negara yang yang berada di kawasan Asia-Pasifik, untuk menciptakan perdamaian dan kesejahteraan di Indo-Pasifik.

Wang Yinghui, Associate professor di Universitas di National Security College, National Defense University, menggambarkan the outlook on the Indo-Pacific versi ASEAN tersebut sebagai konsepsi tandingan terhadap konsepsi Indo-Pasifik versi Amerika Serikat.

Apa yang salah dari konsepsi Indo-Pasifik versi AS? Pada 1 Juni2019 lalu, Kementerian Pertahanan AS merilis the Indo-Pacific Report, dua tahun setelah Presiden Donald Trump mengajukan konsepsi Indo-Pasifik untuk pertama kalinya. Sejalan dengan National Security Strategy maupun National Defense Strategy, the Indo-Pacific Report menegaskan kembali adanya persaingan global dewasa ini. Yang mana Republik Rakyat Cina dan Rusia ditegaskan sekali lagi sebagai pesaing AS.

 

Namun demikian, sebagaimana analisis  Wang Yinghui dalam artikel di atas, the Indo-Pacific Report  setebal 78 halaman tersebut yang sangat bernada penuh permusuhan terhadap Cina dan Rusia tersebut, boleh dikatakan hampa kata-kata, tidak ada langkah-langkah konkret yang cukup memadai, dan juga tidak ada rumusan tujuan yang bisa jadi panduan sebagai tolok ukur keberhasilan.

Selain itu, the Indo-Pacific Report yang dirilis Kementerian Pertahanan AS itu materi yang ada di dalamnya penuh kontradiksi. Pada satu sisi, menegaskan pentingnya free and open Indo-Pacific yang diberlakukan bagi semua negara, namun pada saat yang sama menyingkirkan Cina, Rusia, dan Korea Utara dari skema kerjasama Indo-Pasifik. Dengan mencanangkan Rusia dan Cina sebagai musuh utama dan kekuatan revisionis untuk mengubah statusquo global.

Dengan kata lain, the Indo-Pacific Report menekankan Cina dan Rusia sebagai faktor ancaman yang destruktif bagi stabilitas kawassan, tanpa mengemukakan bukti-bukti nyata atas tesisnya tersebut.

Sebagai misal, the Indo-Pacific Report mengecam militerisasi Cina dan kegiatan-kegiatannya di grey area atau wilayah abu-abu di Laut Cina Selatan. Namun sama sekali tidak menyinggung semakin intensifnya pengerahan pasukan militer AS di kawasan Asia-Pasifik. Dengan dalih untuk latihan militer bersama dengan negara-negara sekutunya, maupun kebebasan untuk operasi pelayaran.

 

Bukan itu saja AS menerapkan pendekatan yang kontradiktif. Pada satu sisi menekankan pentingnya kesiapsiagaan, kemitraan maupun terciptanya jaringan terorganisir di kawasan Asia-Pasifik, namun pada saat yang sama skema AS tersebut diarahkan untuk memperkuat postur angkatan bersenjata maupun keberlangsungan pengaruh AS di kawasan Asia-Pasifik.

Rupanya, yang dimaksudkan dengan preparedness atau kesiapsiagaan oleh AS, adalah memperkuat kehadiran tentara AS di Indo-Pasifik dengan meningkatnya akses, latihan militer bersama, maupun investasi pengembangan  persenjataan canggih di kawasan ini.

Pada satu sisi menegaskan pentingnya free and open, peaceful and stable regiona. Kawasan Asia Pasifik yang bebas, terbuka, damai dan stabil. Namun pada saat yang sama AS menekannya pentingnya penggunaan sarana-sarana militer, dengan melakukan lebih dari 90 latihan militer bersama di kawasan Asia-Pasifik setiap tahunnya. Dalam konstelasi yang demikian, semakin meningkatnya eskalasi kehadiran militer AS di kawasan Asia-Pasifik, pada perkembangannya akan meningkatkan ketegangan militer antara AS versus Cina di kawasan ini. Seperti terlihat dengan semakin gentingnya situasi di Laut Cina Selatan dalam beberapa tahun belakangan ini.

Adapun partnership atau kemitraan maupun terciptanya jaringan yang terorganisir yang dimaksud AS, adalah upaya AS untuk meningkatkan hubungan kerjasama pertahanan dengan negara-negara sekutunya dengan melibatkan sekutu-sekutunya di kawasan ini melalui organisasi-organisasi berskala regional. Kerjasama dalam skema the Indo-Pacific Report itu, memperluas lingkup hubungan kerjasama dalam kerangka multi-lateral maupun trilateral.

 

Dengan demikian modus AS dengan mudah dapat dibaca. Pertama. Mengindentifikasi negara-negara di kawasan Asia-Pasifik atau Indo-Pasifik, termasuk pulau-pulau kecil di kawassan Pasifik, ke dalam persekutuan strategis dengan Amerika. Seraya menyingkirkan Cina, Rusia dan Korea Utara dalam skema kerjasama tersebut.

Kedua. Melalui strategi tersebut, tergambar tujuan strategis AS adalah menggalang negara-negara sekutu maupun negara mitra, sekaligus menambah keikutsertaan negara-negara baru sebagai sekutu atau mitra AS. Untuk kemudian membentuk jaringan kekautan membendung pengaruh Cina, Rusia dan Korea Utara.

Namun demikian, negara-negara di kawasan Indo-Pasifik, atau kami masih tetap menyebutnya Asia-Pasifik, belum tentu setuju dengan skema kerjasama AS berdasarkan the Indo-Pacific Report versi Kementerian Pertahanan AS tersebut.

Setiap negara di kawasan Asia-Pasifik, pada hakekatnya ingin kawasan ini tercipta situasi dan kondisi yang damai sehingga kondusif bagi pertumbuhan ekonomi. Dan negara-negara di kawasan ini menyadari sepenuhnya bahwa memihak salah satu dari negara-negara superpower atau adikuasa, untuk melawan negara adikuasa lainnya, sama sekali bertentangna dengan kepentingan nasional masing-masing negara tersebut.

Apalagi beberapa negara di kawasan Asia dan Pasifik, sudah menjalin kerjasama dengan Cina melalui skema Belt and Road Initiative. Dan lepas adanya pro dan kontra, banyak negara yang memandang skema kerjasama Belt and Road Initiative dengan Cina itu menghasilkan hal-hal yang cukup positif.

Menariknya lagi, India yang selama ini dipandang sebagai poros dari Strategi the Indo-Pacific Report, New Delhi menegaskan Indo-Pasifik hanya sekadar istilah geografis belaka. Sehingga India pun sama sekali tidak antusias untuk mendukung strategi AS itu. Dan tidak secara aktif mendukung langkah AS membendung Cina.

Negara-negara yang tergabung di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) pun, juga skeptis dengan skema Indo-Pasifik AS tersebut. Meskipun berulangkali AS menegaskan peran penting ASEAN dalam strategi Indo-Pasifik AS, namun negara-negara ASEAN tidak terang-terangan mendukung maupun menolak Strategi Indo-Pasifik versi AS tersebut.

Apalagi kini mendekati akhir tahun 2019  beberapa negara ASEAN, termasuk Indonesia, telah menjalin kerjasama ekonomi dan perdagangan yang cukup solid dengan Cina. Sehingga rasanya ASEAN pun cukup enggan terang-terangan memihak AS dalam persaingan globalnya dengan Cina di Asia-Pasifik. Alhasil, negara-negara  ASEAN nampaknya saat ini secara aktif berkonsultasi untuk merumuskan sebuah consensus regional menyikapi skema the Indo-Pacific Repot AS itu. Besar kemungkinan dengan mengedepankan frase pentingnya sentralitas dan kontribusi negara-negara di Indo-Pasifik dalam ikut menciptakan perdamaian dan kesejahteraan, maka ASEAN bermaksud mematahkan skema the Indo-Pacific versi AS.

Menariknya lagi, tren global belakangan ini, khususnya sejak pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump, Australia dan Jepang pun  secara bertahap bermaksud menentang skema Indo-Pasifik AS. Gagasan Presiden Trump agar negara-negara sekutu AS berbagi memikul beban dengan ikut serta menanggung pengeluaran anggaran pertahanan, nampaknya mengundang protes dan penolakan dari beberapa negara sekutunya.

Lebih daripada itu, baik Tokyo dan Canberra nampaknya sulit secara total bersekutu dengan Washington memukul Cina. Mengingat kedua negara tersebut saat ini punya ketergantungan ekonomi dan perdagangan yang cukup mendalam dengan Cina.

Pada akhirnya, skema Indo-Pasifik AS itu tidak memberikan sebuah perencanaan yang konkret dan kebijakan yang cukup praktis dan aplikatif, untuk mengimplementasikan strategi Indo-Pasifik AS itu.

The Indo-Pacific Report hanya menjabarkan beberapa kerjasama pertahanan yang sudah dilakukan beberapa waktu lalu, yang mana sebagian besar atas prakarsa pemerintahan Presiden Barrack Obama. Seperti Souteast Asian Maritime Security Initiatives. Begitu banyak istilah yang dikumandangkan seperti “Kerjasama” dan Koordinasi”. Namun tidak tergambar suatu perencanaan yang jelas.

Konstruksi dan gambaran sebagaimana terpapar di atas, sepertinya akan bermuara pada sebuah kesimpulan penting. Bahwa AS telah melakukan kesalahan strategis, dengan menggalang kerjasama dan persekutuan strategis dengan negara-negara di kawasan Asia-Pasifik, untuk membendung pengaruh Cina di kawasan ini.

Bagaimanapun juga,Cina merupakan negara adidaya di Asia Pasifik. Jika AS memang bermaksud ikut menciptakan perdamaian, Stabilitas dan Kesejahteraan di Asia-Pasifik. Maka AS harus menjalin kerjasama dengan semua negara-negara di kawasan ini, termasuk dengan Cina.

Setelah Perang Dunia ke – II Amerika tampil sebagai mono superpower menggantikan Kerajaan Inggris.Seluruh fasilitas militer Inggris di dunia diambil alih Amerika.Dengan perangkat lunak dan keras Amerika dapat berbuat semena – mena atas semua negara.Amerika menjadi polisi dunia,satu tangan memegang wortel, satu tangan memegang pentung.Negara yang berani melawan kehendak Amerika, CIA akan menghalalkan segala cara menjatuhkannya.Contohnya, Presiden Allende dari Chili yang terpilih secara demokrasi,karena menantang kehendak hegemoni Amerika, CIA menyuap Jenderal Pinochet melakukan kudeta berdarah membunuh Allende.

Di Indonesia, Bung Karno yang menolak memberi izin Freepot menggarap pertambangan emas di Irian Barat dan menjalankan politik anti imperialisme dan kolonialisme, mengutuk kekejaman Amerika dalam perang Vietnam yang luar biasa biadab.Bung Karno dengan gagah berani berkata : “Go to hell with your aid ” akhirnya dijatuhkan dengan menggunakan tangan para jenderal Angkatan Darat ( Soeharto cs) klik kanan, dengan kudeta merangkak menyingkirkan Bung Karno.Indonesia pun jatuh dalam genggaman Amerika dan blok Barat,secara ekonomi Indonesia dijajah kembali.

Dengan kekuatan bersenjata dan hegemoni nuklir,dolar sebagai mata uang internasional, nilai dunia Barat : Demokrasi dan kemerdekaan dijadikan senjata untuk menjatuhkan negara yang tidak sepaham dengan Amerika.

Setelah bubarnya Uni Soviet, blok sosialis Eropa Timur dan Pakta Warsawa,jika Amerika dan Blok Barat memang mau menciptakan dunia yang damai sejahtera, seharusnya membubarkan Pakta NATO,perindustian senjata diubah fungsinya memproduksi peralatan pertanian atau transportasi dan lain lain yang menyejahterakan umat manusia.Namun, Amerika dan blok Barat tetap mempertahankan Pakta NATO dengan menyasar Rusia dan Tiongkok sebagai musuh bayangannya.Dimana – mana membangun pangkalan militer, armadanya menjelajahi Laut Baltik bahkan Laut Hitam untuk menantang ketabahan Rusia. Armada ke – tujuh Amerika dengan alasan menjaga “kebebasan berlayar” bercokol di Laut Tiongkok Selatan menantang Tiongkok yang sedang bangkit, mengancam dengan mesin perangnya.

Namun, dunia mencatat Tiongkok bukanlah negara yang bisa ditundukkan dengan kekuatan bersenjata.Tanggal 1 Oktober 1949 Ketua Mao Zedong berdiri di atas podium Tian An Men memproklamasikan lahirnya Tiongkok baru.Tanggal 25 Desember 1950 Tentara Sukarelawan Tiongkok yang masuk ke Korea Utara sudah berperang dengan Tentara gabungan PBB yang dimotori Amerika.Persenjataan Tentara Tiongkok tertinggal jauh,namun dengan gagah berani melawan dengan heroik.Perang Korea berlangsung selama 3 tahun, akhirnya Amerika telan pil pahit,menanda tangani perjanjian gencatan senjata. Panglima Amerika di medan Korea Jenderal Clark pun berkata dengan gundah : ” Pada waktu yang keliru,di tempat yang keliru berperang dengan musuh yang keliru. Saya satu – satunya Panglima Amerika yang tidak berhasil memenangkan perang.”

Dunia menyaksikan suatu keajaiban telah terjadi di dunia : Republik Rakyat Tiongkok menggunakan waktu hanya 40 tahun bangkit dari kemiskinan parah menjadi negera nomer dua perekonomiannya melampaui Jepang dan Jerman. Tiongkok menjadi pabrik dunia, barang – barang produksi Tiongkok menguasai hampir seluruh pasaran dunia. Dari mainan anak – anak yang murahan sampai pesawat angkasa ulang alik yang paling canggih dapat diproduksi Tiongkok.Rakyat Amerika menikmati produk Tiongkok yang murah meriah membanjiri masyarakatnya.Terjadilah ketidak seimbangan neraca perdagangan antara Amerika dan Tiongkok. Menurut Presiden Donald Trump Tiongkok meraih surplus dagang sampai US $ 400 milyar.Ditambah lagi Tiongkok adalah kreditor terbesar Amerika, mencapai US $ 1,1 Triyun.Amerika merasa Tiongkok akan melampaui Amerika sebagai new superpower dunia.

Melihat perkembangan yang tidak menyenangkan ini, Trump pun mengeluarkan trik – trik untuk menekan Tiongkok dengan manaikkan bea cukai barang impor dari Tiongkok. Tidak tanggung – tanggung sampai 25 % mencakupi sekian ratus milyar dolar.Sifat manusia Tiongkok kalau di tekan, akan bangkit melawan dengan segala kekuatan. Jikalau pada awal tahun 50-an yang masih miskin terbelakang berani melawan, sekarang Tiongkok sudah menjadi negara maju tidak hanya ekonominya, juga kekuatan militernya sudah seimbang dengan Amerika dan Rusia, tentu saja tidak mudur selangkah pun melawan perang dagang yang dikobarkan Amerika.Sikap Tiongkok sangat jelas : Mau nego,okey.Tetapi harus pegang janji.

Mau lanjutkan perang dagang ? Kami melayani.Jika berniat memaksa kami menyerah kalah, jangan mimpi di siang hari bolong.Dewasa ini gigi dilawan gigi,Tiongkok membalas dengan menaikkan bea cukai atas produk Amerika. Memboikot kacang kedelai dan jagung yang menjadi komoditi ekspor pertanian unggulan Amerika, membuat petani Amerika mengalami kerugian besar.Barang impor Tiongkok yang harganya sudah naik,yang harus menanggung biayanya ialah masyarakat Amerika.Tentu saja membangkitkan kemarahan rakyat Amerika.Ketidak puasan atas kebijakan Trump pun meningkat tajam.

Trump menggunakan seluruh kekuatan negaranya menjegal Perusahaan swasta telekomunikasi swasta Huawei,memakai hukum dalam negeri dengan tuduhan tidak berdasar menahan Petinggi Huawei, Ny. Men Wan Chou yang transit di Canada. Kemudian melarang produk Huawei masuk ke Amerika.Tiongkok pun mengambil langkah – langkah mengimbangi Amerika. Perusahaan raksana Huawei membalas dengan menutup ke – 5 pabriknya di Amerika,puluhan ribu karyawan penduduk Amerika di PHK menjadi penganggur.

Perusahaan besar Alibaba yang berjanji melakukan investasi besar-besaran di Amerika dengan komitmen menciptakan jutaan lapanganan kerja untuk masyarakat Amerika menyatakan solidaritasnya pada Huawei,langsung membatalkan investasinya di Amerika.Inilah dampak buruk perang dagang Amerika yang langsung memukul perekonomian Amerika dan dunia.
Suplplier bahan-bahan ke Huawei dan Alibaba kena imbasnya, tidak ada order dari Huawei dan Albaba, mereka tidak ada pemasukan, sehingga tidak mampu membayar gaji karyawannya, terpaksa mem-PHK karyawannya dan menutup pabriknya.

Kentuckey Fried Chicken dan Mac Donald minta Trump bertanggung jawab ganti kerugiannya karena 800 outlet mereka di China terpaksa tutup, karena tidak ada seorang Chinese pun yang masuk ke outletnya.Bahkan karyawan orang Chinese pun berhenti semua.Saham saham milik supplier yang biasanya menjual produk ke Huawei dan Alibaba sekarang sahamnya terjun bebas.

HP iphone dan Apple tidak ada seorang Chinese pun yang membelinta, dalam dua bulan terakhir terjadi zero sales, karena diboikot konsumen China.
Perang dagang membawa kerugian kedua belah pihak,dampaknya komprehensif,terstruktur dan massif.Ekspor Tiongkok mengalami pukulan berat,mempengaruhi pertumbuhan ekonominya.Total impornya ikut terpuruk,negara – negara yang mengandalkan ekspor bahan mentahnya ke Tiongkok turut menderita kerugian, karena Tiongkok memangkas impornya.Australia dan Canada yang mengekor kebijakan Amerika sudah merasakan dampak negatifnya.

Amerika harus menghentikan perang dagangnya, kembali ke jalan yang benar.Jangan melakukan kebijakan unilateral menproteksi perdagangannya yang melawan arus mainstrem dunia dan kebijakan WTO yang menjamin multi lateral perdagangan dan kebebasan perdagangan internasional.

Amerika harus menyadari bahwa mono super power sudah kadaluarsa.Selama 40 tahun Tiongkok tidak membuang satu sen pun untuk berperang mengagresi negara lain, dananya digunakan untuk membangun infrastruktur dan pembangunan nasional semesta;namun Amerika menghambur-hamburkan US $ 3 triyun berperang dimana-mana : Afghanista, Syria,Irak dan Libya.Dengan biaya tinggi memelihara mesin perangnya di seluruh dunia.Menyebarkan maut,kehancuran dan permusuhan, dibenci di seluruh dunia,puluhan ribu tentara anak muda Amerika menjadi korban agresi Amerika.Mati dengan sia-sia.Sedangkan Tiongkok dengan payung hukum dari PBB mengirim pasukan pemeliharaan perdamaian di negara -negara yang bergolak untuk memulihkan perdamaian dan ketertiban.Mendapat apresiasi dari PBB dan dunia.

Perang dagang AS dan China masih berlanjut,sama – sama mengalami kerugian cukup besar.Kapan perang dagang ini berakhir ? Ada prediksi jika Donald Trump yang ugal-ugalan habis masa jabatannya dan tidak terpilih lagi. Sebab Trump adalah presiden Amerika yang paling tidak disukai baik dalam negeri dan luar negeri. Ketua DPR Amerika dengan gamblang berkata, dia lebih suka melihat Trump langsung dijeblos ke penjara dari pada dimakzulkan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.