Era ‘Nir Reading’, Menulis Atau Mati

0
174

Oleh : Fathan Faris Saputro ( Aktifis Rumah Baca Api Literasi)

Sebagian orang menganggap menulis bukanlah hal yang mudah. Tapi biasanya jika ada orang yang berkata seperti itu saya segera membantahnya. Kenapa? Karena kita lihat di era media sosial sekarang semua orang bisa menulis. Di sekolah atau bangku kuliah, mereka semua juga bisa menulis catatan dan tugas-tugas karya tulis. Jadi entah apa yang ditulis, mereka semua ternyata bisa menulis.

Tetapi kenapa banyak orang bilang bahwa menulis itu berat? Setidaknya ada dua kemungkinan. Pertama, yang berkata seperti itu mungkin orang yang tidak memiliki tradisi membaca dan tradisi diskusi yang baik. Dari pengalaman saya orang yang tak memiliki tradisi membaca dan diskusi akan punya kesulitan untuk menulis. Apa yang mau ditulis kalau ia tak memiliki referensi memadai untuk ditulis? Jika memaksakan menulis orang seperti ini hanya akan menulis keluh kesah dan segala bentuk kebaperan lainnya. Atau jika tidak, alternatif tulisannya berbentuk jurus copy paste.

Kedua, mereka yang berat menulis adalah yang memang tidak terbiasa menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Untuk yang seperti ini saran saya cukup sering-seringlah baca tulisan orang, amati, tiru dan modifikasi. Itu awalnya, lama kelamaan jika tekun ia akan punya gaya kepenulisan sendiri. Jadikan media sosial menjadi bagian dari pembiasaan tulis menulis ini. Atau buat catatan, biasakan jika mau bicara tulis dalam catatan itu apa yang mau dibicarakan.

Adapun tentang menulis buku, apa berat? Jika orang punya tradisi membaca dan diskusi, tentu tidak sulit belajar menulis buku. Bisa dimulai dengan menulis potongan-potongan buku. Baik berupa makalah, catatan terhadap suatu yang diamati, rangkuman kliping peristiwa, resensi suatu buku, yang jika dikumpulkan akan jadi satu buku. Tinggal edit sana sini kumpulan tulisan itu pun menjadi buku.

Memang menulis satu buku yang khusus, yang bukan dari kumpulan tulisan / makalah, sedikit lebih berat. Tapi sekali lagi, jika kita punya tradisi membaca dan diskusi, kita takkan kesulitan mencari dan menentukan referensi mana yang bisa mendukung penulisan buku tersebut, termasuk tingkat akurasi datanya. Selanjutnya tinggal membiasakan merangkai pokok-pokok pikiran menjadi satu kesatuan yang jalin menjalin.

Yang paling berat sekarang ini bagi penulis buku justru bukan bagaimana menulis. Mereka tidak berat untuk menulis buku-buku berat sebab mereka telah terbiasa menulis. Yang berat sekarang ini adalah menulis kepada orang-orang yang tak memiliki tradisi membaca buku. Bayangkan seorang penulis buku yang menulis dengan pencarian referensi penuh perjuangan, tiba-tiba bukunya dihadapkan pada orang yang tak mau membaca secara lengkap. Seorang pembaca yang hanya membaca judul lalu membayangkan isinya dan memberi komentar pada buku itu. Komentar itu sesungguhnya adalah komentar pada bayangannya, karena pembaca seperti itu sesungguhnya tak pernah membaca. Bisa dibayangkan betapa beratnya menghadapi pembaca yang tak pernah membaca seperti ini.

Jujur saja pembaca yang tak pernah membaca seperti ini sekarang ini cukup banyak. Menghadapi pembaca yang seperti ini saran saya kepada para penulis adalah belajarlah membuat quote-quote atau kutipan-kutipan pendek dari apa yang dianggap penting. Idealnya menyampaikan gagasan itu utuh, lengkap berisi inti gagasan dan dilengkapi argumen-argumen pendukungnya. Tapi apa gunanya anda menulis yang lengkap utuh dan cukup ideal, tetapi jika tak dibaca orang? Tentu saja tetap ada saja orang yang mau membaca buku-buku berat anda. Tapi terhadap pembaca yang tak membaca tadi, cukup anda suruh baca quote-quote yang anda bikin. Meski jangan terlalu berharap banyak dari kutipan yang pendek-pendek itu bisa benar-benar mencerahkan mereka. Minimal kita telah berusaha menyajikan menu tulisan untuk mereka para pembaca yang tidak membaca itu.

Editor: Bariyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.