Fakta Geologis Dibalik Gempa Lombok

0
151

Oknews.co.id – Seminggu ini kita dikejutkan oleh dua gempa yg menghantam Lombok Utara. Dari sisi geologi, pada dasarnya tidak ada yg aneh dari dua gempa yg datang hampir berurutan ini. Tahun 1979 Lombok jg Bali Utara digoncang gempa bahkan saat itu diikuti tsunami. Tahun 1992 gempa dan tsunami dahsyat menghantam Flores.

Kenapa gempa muncul disana? Kalau kita cermati, di utara Flores hingga Lombok terdapat patahan atau sesar yg memanjang sejak dari Flores hingga Lombok. Patahan ini sebagai respons thd desakan Kontinen Australia. Patahan yg disebut Flores Thrust (Patahan Naik Flores) ini berada di bawah laut. Kenampakannya dari rekaman seismik refleksi (alat untuk melihat anatomi kerak bumi) sangat jelas. Dari ujung timur Laut Flores, tampak dasar laut terpatahkan, dimana bagian utara menyusup ke bawah. Patahan itu dapat diikuti dg jelas hingga Lombok. Di utara Bali, deformasi melemah atau tidak sekuat di bagian Lombok. Kebetulan pada tahun 1981saya ikut Ekspedisi Marine Geology – Rama 12 yg memetakan patahan ini. Ekspedisi dg menggunakan kapal riset R/V Thomas Washington ini dipimpin oleh Prof. Eli Silver dari University of California Santa Cruz.

Data gempa, baik lokasi gempa maupun focal mechanism (mekanisme pusat gempa) ke dua gempa jelas berhubungan dg keberadaan Flores Thrust.

Lantas apa yang penting (harus) dilakukan? Sejatinya baru Sumatra yg kita ketahui tentang kegempaannya. Selebihnya tak banyak kita ketahui. Jawa pun hanya sedikit yg kita ketahui. Saya kira kita perlu mempelajari deformasi yg terjadi di sepanjang Flores Thrust. Problemnya, letaknya ada di bawah laut. Apa boleh buat. Kita perlu memetakan patahan itu lebih detil. Untuk itu perlu membuat jaringan (temporary) OBS (Ocean Bottom Seismograph) untuk memetakan pola gempa, dan tentu saja kapal riset untuk memetakan anatomi patahan. Studi deformasi dg menggunakan GPS amat perlu. Kita beruntung ada beberapa pulau di utara NTB dan NTT yg memungkin kita menempatkan GPS.

Akhirnya sebagai catatan penutup, sebaiknya kita merubah pola pikir. Selama ini riset-riset gempa tak banyak beranjak. Kalaupun ada itu tidak menjadi fokus utama institusi. Kalau pun ada itu atas usaha para peneliti dg menggalanng kerjasama dg mitra LN. Bagaimana mungkin negara yang dikepung gempa dan gunung api seperti tak peduli. Kita baru terkejut kalau bencana itu datang.

Hery Harjono
Kapus Puslit Geoteknologi LIPI 2001-2006
Deputi Kepala LIPI Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian 2006-2011

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.