Falsafah Jawa dan Pandangan Islam Tentang Wanita

0
17

Oleh: Uzlifah

Orang Jawa sering mengatakan begini : Orang perempuan itu Suwargo nunut Neroko katut. Artinya: Apabila suami masuk Syorga maka isteripun begitu saja ikut masuk Syorga. Dan apabila suami masuk Neraka, maka istripun ikut masuk Neraka. Itu artinya Suwargo nunut Neroko katu. Ucapan ini sering dibuktikan dengan apa yang berlaku sehari-hari. Misalnya apabila suami menjadi guru, maka istri biasa di panggil dengan ibu guru. Kemudian suamim pindah jabatan menjadi Lurah, maka istripun dipanggil menjadi bu Lurah. Seorang wanita menjadi istri Letnan. Maka istri itu dipanggil bu Letnan. Beberapa tahun kemudian, suami naik pangkat menjadi Kapten, maka istripun dipanggil bu Kapten, dan seterusnya. Ucapan Suwargo nunut Neroko katut ini, diartikan bahwa istri itu sebenarnya tidak ada peranannya, menurut saja bagaimana suami. Apabila masuk Syorga dia ikut masuk Syorga, dan sebaliknya apabila suami masuk Neraka dia masuk Neraka juga.

Walaupun ucapan ini sebenarnya ini sebenarnya tidak betul, tetapi apabila di dunia ini bisa dibenarkan yakni suami jadi Lurah, istri disebut bu Lurah. Suami jadi guru, istri disebut ibu guru dan seterusnya. Tetapi tentang ke-Akheratan, tidaklah demikian. Masing-masing mempunyai bahagianya, masing-masing menurut amal kebajikannya. Tetapi karena pepatah seperti itu, akibatnya wanita atau kaum inu ditinggalkn peranannya oleh kaum suami. Bahkan hal itu bukn saja berlaku di Jawa Tengah, tetapi juga di daerah yang lain. Hampir-hampir mereka itu tidak dianggap, hampir-hampir mereka itu di luar perhitungan, hampir-hampir mereka itu tidak masuk dalam hitungan. Kami perjatikan dalam perayaan-perayaan Maulid Nabi, Isra` Mi`raj dan lain-lain. Tempatnya bagus, tematnya indah, paki lampu yang terang. Kemudian ibu-ibu para wanita di pinggir-pinggir rumah, di bawah pohon pisang misalnya. Di sana sini tidak disediakan tempat yang khusus.

Begitu juga pengajian ibu-ibu kadang-kadang tidak diperhatikan. Kaum suami saja yang disediakan dengan tempat yang baik, diurus dengan sebaik-baiknya menerima undangan resmi. Dan ditempatkan di tempat yang resmi. Dapat pelayanan yang resmi pula. Kadang-kadang ada jamuannya. Tetapi sebaliknya, ibu-ibu tanpa undangan, ibu-ibu menempel-nempel saja di pinggir rumah, menempel-nempel saja di pinggir pagar. Mendengar pasang telinga dari kejauhan, tidak dapat menyaksikan dan bagaiman guru menyampaikan isi pidatonya, isi pelajarannya, sayup-sayup sampai suara itu pada tilnganya. Pendeknya sang ibu tidak dapat perhatian, mereka tidak termasuk dalam hitungan. Yang dihitung sebagai anggota yang resmi hanyalah kaum bapak semata-mata.

Bahkan  ada sebagaian daerah kaum ibu dilarang ikut masuk ke dalam masjid, walaupun dalam keadaan suci sekalipun. Di sebagian daerah, di sebagian tempat, bahkan juga di Jakarta seorang inu atau wanita dilarang masuk masjid. Dilarang masuk Musholla, walaupun dalam keadaan  suci. Untuk keperluan sholatkan, untuk keperluan menghadiri majelis Ta`limkah, untuk menghadiri pengajiankah. Mereka diharamkan oleh kaum laki-laki, mereka dianggap tidak masuk masjid itu. Mereka hanya mendatangkan fitnah semata-mata.oleh karena itu dilarangnya kaum ibu masuk Masjid, atau ke dalam Musholla. Kaum suami bersikap sewenang-wenang, bahkan kadang-kadang sikap suami  kepada istri lebih tinggi, karena aku katanya mencari nafakah, perempuan tidak berhak apa saja yang dilakukan oleh suami. Dia pulang malam tidak perduli, sang istri menunggu dengan sabar sang istri menunggu dengan tabah. Dia pulang ham 1.00, jam 2.00 malam. Lumayan kalau perginya karena pengajian , dia hanya main kartu, domino, main catur. Kalau ditegor oleh istri karena pulang pagi, suami terus marah. Suami yang berhak menentukan apa saja yang dilakukannya.

Aoakah ajaran agama Islam menentukan demikian, tentu tidak, tetapi mengapa hal itu terjadi. Inilah yang akan kmai bahas pada kesempatan kali ini, bagaimana hak kaum wanita itu, bagaimana keduduklan kaum wanita itu menurut tuntuntgan agama Islam.

Padahal kalau kita perhatikan, bahwa sesungguhnya martabat kaum wanita itu tidak kalah pentingnya dengan kaum pria. Marilah kita lihat betapa banyak kaum wanita yang mempunyai jabatan sama dengan kaum pria, ada yang jadi Perdan Menteri, ada yang jadi Menteri, ada yang menjadi Sarjana Hukum, Dokter, Sarjana Ekonomi dan lain-lain, prestasi mereka kemampuan mereka tidak kalah disbanding dengan pria. Memang di dalam Al-Qur`anul Karim dinyatakan:

Artinya :

            “Kaum laki adalah pemimpin (lenih kuat) bagi kaum wanita”.

Tetapi lebih kuat di sini dimaksudkan, memang ototnya lebiohkuat, fisiknya lebih kuat, badanlah lebih kuat, tetapi tidak berarti bahwa kaum laki-laki lebih penting, tidak berarti bahwa martabat kaum laki-laki lebih tinggi disbanding dengan kaum wanita.

Marilah kita sadari bahwasannya kaum wanita itu menurut statistic, menurut hitungan di Indonesia ini jumlahnya justru bukan saja separuh, bukan saja sama dengan pria, tetapi bahkan lebih banyak disbanding kaum pria. Sehingga kalau diabaikan kaum wanita, sama dengan kita mengabaikan sejumlah manusia. Pengajian kita abaikan, pembinaan mereka kita abikan, dan seterusnya mereka tidak perhatikan pembinaan keagamaannya, pengajiannya dan lain-lain. Perananya kita anggap sepele semata-mata, alangkah kerdilnya pendirian seperti ini. Padahal menurut pengalaman, bahwa pembinaan agama di kampung-kampung, di komplex-komplex dan lain-lain wanita utilah yang lebih jinak. Mereka lebih tekun, mereka lebih religious, mereka lebih dekat jiwanya dengan agama. Dan apabila mereka telah dibina biasanya lebih tekun melakukan perintah agama. Dengan segera saja apa yang didapat dalam pengajian itu kemudian dia laksanakan, apakah itu sholat Tahajud, apakah itu cara mendo`a, memohon kepada Allah, ataukah itu sholat sunnat, apakah itu membaca shalawat dan lain-lain, semuanya dilakukan dengan sebaik-baiknya. Mereka relative lebih giat melaksakan tuntutan agama dibandingkan dengan kaum pria. Tetapi selama ini kaum prialah yang mendapatakanperhatian lebih banyak dibandingkan dengan kaum wanita, yang jumlahnya relative lebih besar disbanding kaum pria.

Bagaimankah kedudukan kaum wanita dalam agama Islam? Suwargo nunut Neroko katut tidak berlaku dalam tuntunan agama Islam. Barangkali itu hanya berlaku dalam hal ke duniaan.

Allah s.w.t. dalam Al-Qu`anul Karim menyatakan bahwa martabat kaum pria sama dengan martabat kaum wanita, tidak lebih dan tidak kurangg tuhan menyatakan :

Artinya :

“(Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan. (An-Nisaa 32).

Sama tidak  kurang, ibaratnya seorangt laki-laki melakukan satu ibadat, gajarannya seribu misalnya. Maka wanita melakukan seperti itu diapun dapat seribu pula. Oleh karena masing-masing dicatat amalnya menurut perbuatannya masing-masing.

Seorang lelaki sedekah misalnya, maka pahalanya akan diterima oleh laki-laki itu. Dan apabila sang istri tidak melakukannya, maka dia tidak akan mendapatkan pahala. Begitu juga sebaliknya sang wanita, sang istri yang melakukan, maka dia yang akan menapatkan pahala itu, sang suami tidak dan begitu dan seterusnya.

Bahkan Rasulullah s.a.w menempatkan maratabat kaum wanita lebih tinggi dari kaum pria.

            “Bahwa syorga itu terletak di bawah telapak kaki ibu”.

Wanitalah yang menentukan Syorga but anak-anaknya. Oleh karena wanitalah, sang ibulah yang membina, yang mendidik, yang menuntun putra putrinya, apakah anak-anaknya mendapatkan syorga atau tidak, lebih banyak tergantung dengan perlakuan dan tuntutan ibunya, karena sang bapak mencari nafkah ke luar rumah. Malah Rasulullah s.a.w. pernah menyatakan”

“Sesungguhnya wnita itu saudara sekandung daripada kaum Pria. Dan sebaik-baiknya kamu ialah siapa yang paling baik sikapmu bagi ahlinya, bagi istrinya. Dan saya adalah yang paling baik terhadap istriku dan ahliku”.

Itu ucapan Rasulullah s.a.w satu anjuran satu patokan bahwa orang yang paling baik di antara kamu hai manusia adalah siapa yang paling baik sikapmu terhadap istrimu. Memperlakukan istri dengan sikap sebaik-baiknya.

Malah di dalam Hadist yang lain Rasullah s.a.w. menyatakan:

“Apabila orang tuamu ayah dan ibumu memanggil engkau hai anak bersama-sama maka patuhilah panggilan ibumu lebih dahulu”

Di sini nyata bahwa martabat kaum wanita justru lebih tinggi dibanding dengan kaum pria. Paggilan sang ibu lebih didahulukan untuk dipenuhi. Oleh karenakita mengerti bahwa ibulah yang perjuangannya lebih banyak, ibulah yang lebih banyak merawat, bahkan juga dalam kandungan.

Pantas kalau panggilan si ibu lebih dahulu untuk dipenuhi, baru kemudian kepada sang bapak.

Bahkan apabila kita perhatikan sehari-hari mana sesungguhnya lebih berat tugas ibukah, dibandingkan dengan tugas seorang suami dalam kehidupan sehari-hari.

Ibarat sepeda roda dua, sang istri adalah roda bagian belakang. Roda bagian depan sang suami adlah lebih enteng. Tetapi roda bagian depan sang suami adalah lebih enteng . tetapi roda belakang lebih berat. Oleh karena muatan letaknya agak di belaknag. Betapa tidak. Pagi-pagi jam 04.03 pagi, suyami masih Tarik selumt masih kedinginan, belum bangun, sang istri sudah bangun karena membuat the, membuat kopi mengurus anak, dan lain-lain. Istri sudah bangun lebih dulu, kemudian sang suami bangun tahu beres, kopi atau the, sarapan dan lain-lain. Pergi ke kantor, pergi kerja cuci mata-mata, cuci mata disini, di jalanan, sang istri cuci piring di rumah. Bukan itu saja tetapi juga yang belanja, yang mengatur rumah, kemudian merawat anak dan lain-lain daripagi sampai sore tidak habis-habisnya, bahkan sampai malam anak-anak tidur semua. Urusan untuyk anak-anak sudah selesai, ganti mengurus suami lagi. Begitu bertahun-tahun, tetapi kadang-kadang ada saja sang suami yang berbuat sewenang-wenang pada istri. Karena istri sudah tambah tua, karena istri tidak cantik lagi seperti dulu karena anak sudah banyak, begitu saja mau dilempar, mau ditendang, suami durhaka yang model begitu. Perlu diingatkan bahwa semua sukses yang dicapai oleh suami itu pada hekekatnya separuh bahkan lebih adalah andil istri yang ada di rumah. Seorang tentara misalnya, biar betapa bintang yang ada di pundaknya, satu bintang dari padanya adalah andil istri yang ada di dapur. Tanpa ada istri yang membantu di rumah tak mungkin sukses itu dapat dicapai. Oleh karena itu marilah kita perbaiki sikap kita masing-masing antara suami dan istri, dan memang begitu ajaran agama kita agama Islam. Martabat kaum pria dan kaum Wanita adalah sama dihadapan Allah s.w.t.-

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.