Gawat Ekonomi Indonesia, Gambaran Ketergantungan Pada China

0
233

Oknews.co.id – Jakarta, Wabah Covid-19 sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi dunia, di samping itu, kinerja perdagangan global dipastikan akan terganggu akibat lambatnya perbaikan kinerja manufaktur, khususnya di Tiongkok hingga menjelang semester pertama tahun ini. Ditambah dengan jalur distribusi logistik yang juga terganggu, dampak negatif dari pertumbuhan ekonomi global secara tidak langsung akan berimbas kepada ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu ke depan.

 

Pusat Kajian Visi Teliti Saksama (VTS) melalui riset kajian berjudul ‘Limbung Roda Terpasak Corona sudah memproyeksikan kondisi ekonomi pasca Covid-19. Peneliti Visi Teliti Saksama Widyar Rahman mengatakan pandemi coronavirus di Indonesia diperkirakan akan reda pada awal Juni 2020. Menurut analisisnya, pandemi tidak akan bertahan bertahun-tahun di  Indonesia. Melalui peran aktif seluruh warga negara, penurunan jumlah kasus Covid-19, seharusnya dapat lebih cepat.

 

Namun, hal ini tetap dipengaruhi oleh kebijakan yang diambil pemerintah dalam upaya menekan penyebarannya. Angka kemiskinan diprediksi meningkat selama masa Pandemi Corona. Foto: SP/Joanito De Saojoao “Kami memperkirakan, peningkatan permintaan barang dan jasa akan terjadi di bulan Ramadan dan Idulfitri, meski tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujar dia dalam siaran persnya di Jakarta(5/5).

Pemenuhan stok yang seharusnya dilakukan dua sampai tiga bulan jelang Ramadan tidak bisa terpenuhi akibat impor yang mandek. Melihat dampaknya yang masif, kerugian yang ditimbulkan pandemi Covid-19 tentu tidak main-main. Dalam kaitan analisa dampak ini, Visi  mengumpulkan berbagai informasi untuk memperkirakan dampak yang terjadi pada perekonomian Indonesia.

 

Adapun studi dilakukan di bulan Februari hingga awal Maret. Analisa yang dilakukan berawal dengan melihat hubungan ekonomi antara Indonesia dengan Tiongkok, sebagai episentrum awal penyebaran virus. Dalam lima tahun terakhir, Tiongkok selalu menempati tiga besar mitra dagang utama Indonesia. sejak tahun 2014,Tiongkok merupakan negara asal impor dengan nilai terbesar bagi Indonesia. Angka kemiskinan diprediksi meningkat selama masa Pandemi Corona.

 

Berdasar kategori barang konsumsi, bahan baku, dan barang modal sepanjang Januari hingga Desember 2019, terlihat ketergantungan Indonesia terhadap Tiongkok. Dari ketiga kategori barang yang diimpor oleh negara ini, sebanyak 37% barang konsumsi, 25% bahan baku penolong, dan 44% barang modal jelas diimpor dari Tiongkok. Dalam hal investasi langsung, selama rentang lima tahun terakhir (2016-2019), Indonesia menerima aliran investasi Tiongkok sebesar US$13,2 miliar atau peringkat ketiga terbesar bagi Indonesia. Selain di bidang investasi, Tiongkok juga memiliki peran besar dalam sektor pariwisata di Indonesia.

 

Dalam kurun 8 tahun, turis Tiongkok meningkat jumlahnya sebanyak 309%, yaitu dari 511 ribu pada tahun 2010 menjadi 2,14 juta pada tahun 2017. Peneliti Senior Visi , Sita Wardhani menuturkan, dari sisi produksi, rata-rata produsen dalam negeri memiliki stok bahan baku hingga Maret dan April 2020. Jika pada bulan-bulan tersebut belum juga ada pasokan dari Tiongkok atau hanya terpenuhi sedikit, proses produksi pabrik di Indonesia dapat terhambat.

 

Ada sedikit harapan dari rilis Biro Statistik Nasional (NBS) Tiongkok  soal Indeks Pembelian Manajer (Purchasing Manager Index/PMI) resmi Tiongkok yang naik menjadi 52 pada Maret 2020. Pada bulan Februari, ketika pandemi meninggi, PMI Tiongkok hanya 35,7, rekor terendah yang pernah dialami. Untuk informasi, angka di atas 50 menunjukkan, industri mengalami ekspansi.

 

Sebaliknya, angka di bawah 50 menggambarkan kondisi kontraksi. Tapi, hal ini diyakini belum menandakan stabilisasi dalam kegiatan ekonomi. Pasalnya, di tengah biaya produksi yang makin tinggi karena terganggunya jalur distribusi, permintaan pasar juga belum sembuh sepenuhnya. Apalagi, ada penurunan permintaan impor dari negara lain, termasuk Indonesia.

 

Visi Teliti Saksama  sendiri merupakan  pusat kajian dan publikasi multiplatform dari berbagai isu ekonomi, politik, sosial, hukum, dan lingkungan hidup yang berdiri 3 tahun lalu. Tim periset Visi berasal dari berbagai perguruan tinggi terkemuka, dengan pengalaman terlibat dalam pembuatan beragam kebijakan di bidang komoditas, perdagangan, dan program komunikasi.

Editor: Baba Barry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.