Hidup Atau Mati-kah Sekolah Kita, Refleksi Hardiknas 2020

0
293

Oleh : Bahrus Surur-Iyunk

Bagi masyarakat Jawa Timur, 02 Mei 2020 adalah hari ke-47 “dikembaliakannya” proses pembelajaran peserta didik ke orang tua masing-masing, mulai dari TK/RA hingga SMA/MA/SMK. Empat puluh tujuh hari bukanlah waktu yang pendek, karena masa liburan peserta didik saja tidak ada yang mencapai angka ini. Liburan Semester hanya dua minggu. Liburan kenaikan kelas paling lama 1 bulan.

Meski berbenturan dengan Bulan Ramadhan, pembelajaran normal masih berjalan efektif fakultatif. Itupun masih diisi dengan kegiatan keagamaan yang cukup padat. Menariknya, semua berjalan biasa-biasa saja. Guru-guru tidak pernah mengaduh, apalagi mengeluh. Justru kegiatan seperti inilah yang sering dirindukan oleh guru dan siswa.

Namun, ketika kebijakan “merumahkan” peserta didik menghadapi pandemi Covid-19 menyeruak, semua orang seakan berteriak. Teriakan pertama datang dari peserta didik yang (awalnya) merasa senang, karena diliburkan –meminjam bahasa mereka. Teriakan kedua dilantunkan oleh ibu-ibu dan sedikit bapak-bapak yang ikut stress melihat anaknya ketumpukan tugas dari gurunya melalui WA.

Teriakan ibu-ibu didengar oleh Kepala Dinas Pendidikan yang akhirnya ikut berteriak dengan mengeluarkan Surat Edaran bahwa tugas yang diberikan kepada siswa maksimal dua mapel perhari. Padahal, dalam keseharian, peserta didik ini mengerjakan tugas di sekolah minimal 2-5 mata pelajaran. Anehnya, guru-guru ini tidak ada yang mengeluh saat mengajari, mendidik dan mendampingi mereka.

Belakangan, anak-anak yang sudah sebulan bersekolah itu pun berteriak lagi, “Bu, kapan sekolah masuk lagi? Kami ingin belajar di sekolah saja.”

Guru wali kelasnya yang asli Madura itu penasaran, “Emangnya arapa (kenapa) Cong? Kan enak dur-tiduran di rumah. Mainan HP bisa puas lagi.”

Dalam grup WA kelas itu anak-anak saling bersahutan, “Saya tak endik pesse (tidak punya uang), Bu. Ndak dikasih sangu harian dari Mama.” Satunya lagi, “Bosan Bu..” Siswi yang rajin juga nyahut, “Kesulitan ngerjakan tugas, Bu. Ndak ada yang ngajarin.” Seorang siswa yang biasanya loncat pagar sekolah nimbrung komentar, “Ternyata bosan juga ya Bu kalo lama-lama liburan di rumah. Dimarahin dan disuruh-suruh terus. Kayak pekerjaan di rumah ndak ada kelarnya.”

“Matinya” Sekolah

Sesungguhnya, bukan itu saja yang menjadi sangat penting untuk direnungkan ketika pembelajaran peserta didik bergeser ke rumah. Tetapi, fungsi sekolah secara perlahan mulai mati. Sebuah lampu dianggap mati, manakala lampu itu sudah tidak lagi memberikan fungsinya sebagaimana mestinya. Jika lampu itu mulai meredup karena cahayanya yang lemah, maka lampu itu dianggap sudah “setengah mati” (bukan rindu setengah mati).

Begitu juga sekolah yang selama ini mampu melayani peserta didik dan orang tua dalam pendidikan, juga mulai meredup fungsinya. Bukan karena kepala sekolah atau gurunya yang ingin mematikan, tetapi sekolah yang “mau mati” itu tidak berusaha dihidupkan dan difungsikan dengan baik. Bisa dibayangkan, saya ambil contoh sekolah yang ada di perkotaan, dalam minggu pertama masih lancar, 60-70 persen siswa menyetorkan tugas. Minggu kedua, ketiga dan keempat, anak-anak mulai jenuh menyelesaikan tugas dan tinggal 10-20 persen. Padahal kalau di sekolah, semua bisa diselesaikan dengan baik tanpa teriakan ini itu dan tidak mengeluh.

Itu untuk siswa yang bersekolah di daerah perkotaan.Teman saya yang menjadi kepala sekolah SD di pedesaan hanya menyerahkan begitu saja kepada orang tua. Dihubungi sering tidak diangkat. Mau diberi tugas via WA mereka tidak punya WA. Jangankan beli HP android, untuk makan sehari-hari saja harus banting tulang setiap hari.

Pembelajaran daring dibebani banyak masalah. Peserta didik tidak semua online dan ikut serta. Keseriusan siswa pun berkurang jauh dibandingkan belajar di sekolah. Pantauan orang tua yang harus merangkap dengan pekerjaannya sendiri juga lemah. Dan tidak semua orang tua ada di rumah. Siswa juga merasa terbebani dengan tugas dan jenuh.

Bukan hanya siswa. Jika guru mungkin masih bisa dipantau oleh jurnal online (bagi sekolah yang agak canggih) saat menjalankan tugas belajar online, meski dengan tertatih-tatih. Tapi, karyawan tenaga pendidikan bisa dipastikan kurang efektif.

Kondisi keuangan sekolah juga mulai menipis. SPP yang biasanya lancar (70-85 persen) mulai Maret-April tersendat-sendat (25-30 persen). Gaji guru dan karyawan tidak ada perubahan. Bersyukur, biaya kegiatan sekolah dikurangi, kalau tidak dihilangkan, diganti dengan kegiatan pencegahan Corona. Menariknya, para orang tua mulai “protes” minta dispensasi pengurangan SPP karena sudah 2 bulan ini tidak ada kegiatan dan dampak ekonomi wabah Covid-19.

Atas “kematian” sekolah inilah pembelajaran di rumah akhirnya diberikan seadanya. Kegiatan membantu orang tua, mencuci piring di dapur, menjemur pakaian, membuat mie instan, belanja sayur dan jajanan ke pasar, menggoreng pisang dan gorengan tempe, di-video-kan. Itulah pembelajaran pengganti pembelajaran di sekolah. Naïf, tapi begitulah adanya.

Belakangan, muncul pembelajaran melalui TVRI. Anak saya yang masih kelas VI SD mau nonton dan ikut belajar. Saat ditinggal ibunya membalik ikan di dapur, channelnya sudah berubah ke film kartun. Tetangga saya yang anaknya SMP juga mengikuti, meski dengan sinyal yang buram. Tapi, kalau tidak ditungguin, TV sudah ganti tayangan sinetron. Alasannya, isinya cuma tugas melulu. Luar biasa, sekolah di zaman NOW (Nok Omah Wae) ini sepertinya belum bisa tergantikan.

Apalagi guru dengan segala cibiran dan pujian atasnya. Guru di sekolah bukan hanya menyampaikan pelajaran, tapi mendidik anak-anak dengan karakter mulia. Belaian tangan seorang guru mendamaikan hati anak yang sedang bergejolak. Cubitan kecil yang disertai senyum sang bunda guru menjadikan anak-anak sadar betapa dirinya diperhatikan dan disayangi.

Seseorang boleh bangga dengan kehadiran Mbah Google yang hebat itu. Tapi, ia hanya memberikan eksplorasi ilmu, tidak memberikan siraman kalbu. Ia hanya memberitahukan, tidak membangun kedekatan hati yang menggetarkan. Ia hanya menghasilkan kepintaran pikiran, tapi tidak menyemaikan perasaan dan kasih sayang sebagai seorang manusia seutuhnya.

Hidupkan Lagi Sekolah

Dalam konteks yang demikian, pertama, sebagaimana disampaikan para ahli pendidikan yang bijak, momentum Corona ini seharusnya memantik hikmah bahwa tanggung jawab pendidikan itu sesungguhnya ada di pundak orang tua. Jangan karena merasa sudah bayar, lalu dipasrahkan penuh kepada sekolah.

Kedua, seorang guru dituntut kreatif dalam menggunakan metode dan model pembelajaran. Jangan ada lagi guru yang masih berorientasi kepada penuntasan capaian pembelajaran sebagaimana yang diminta Kemendikbud. Apalagi untuk mengejar nilai kelulusan. Jadikanlah belajar di rumah sebagai media membangun soft skill dan semangat kemandirian belajar siswa.

Ketiga, Peran Guru Wali Kelas dan Guru Kelas harus dimaksimalkan. Saya kira sesekali seorang guru berkunjung ke rumah siswa diperbolehkan, selama ada physical distancing. Jika tidak memungkinkan, kedua guru tersebut harus ditambah pulsanya dalam rangka membangun komunikasi pembelajaran online saat ini.

Keempat, Mas Menteri yang sukses melejitkan Gojek hari ini ditantang untuk melejitkan dan menghidupkan fungsi sekolah. Yaitu, bagaimana caranya pembelajaran dan pendidikan di era digital ini bisa sukses seperti layaknya keberadaan Gojek yang sukses mendunia itu. Inilah tantangan Mas Menteri di era Covid-19. Semoga Covid-19 segera dipanggil oleh Allah. Amin.

Penulis adalah Tokoh penggerak Pendidikan di Sumenep Jawa Timur

Editor: Baba Barry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.