Hukum dan Dalil Puasa Daud

1
48

Oleh : Uzlifah

– أنَّ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ قالَ له: أَحَبُّ الصَّلَاةِ إلى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ عليه السَّلَامُ، وأَحَبُّ الصِّيَامِ إلى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ، وكانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ ويقومُ ثُلُثَهُ، ويَنَامُ سُدُسَهُ، ويَصُومُ يَوْمًا، ويُفْطِرُ يَوْمًا.
الراوي : عبدالله بن عمرو | المحدث : البخاري | المصدر : صحيح البخاري
الصفحة أو الرقم: 1131 | خلاصة حكم المحدث : صحيح

Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda padanya, shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Nabi Dawud dan puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Dawud, ia tidur separuh malam kemudian shalat di sepertiganya dan tidur lagi di seperenamnya, ia puasa sehari serta berbuka sehari.
[H.R. al-Bukhari No. 1131].

Kebiasaan kaum saleh-salihin adalah mendekat kepada Allah Ta’ala adalah dengan cara melanggengkan amal shaleh, bersungguh-sungguh ibadah di waktu malam dan siang. Dalam beribadah nabi menyarankan untuk proporsional sesuai kemampuan. Batas maksimal dalam beribadah puasa sunah adalah seperti yang dilakukan Nabi Dawud as, yaitu sehari puasa dan sehari tidak, seterusnya demikian. Kemudian Allah dan Rasulnya menetapkan bahwa itulah puasa yang paling baik dan afdhal.

Demikian juga dengan shalat malam yang terbaik adalah shalatnya Nabi Daud as. Hadis tersebut mengabarkan bahwa waktu malam Nabi Daud dibagi tiga: setengah malam pertama untuk tidur, sepertiga malam selanjutnya untuk shalat, dan sisanya, seperenam malam terakhir untuk tidur lagi.
Tengah malam secara konvensi tidak tertulis (menurut anggapan umum masyarakat) adalah jam 00.00. Nabi Daud tidur hingga tengah malam. Kemudian qiyam lail selama sepertiga malam. Artinya durasi shalat malamnya Nabi Daud adalah tiga jam. Lalu setelah itu tidur lagi selama 1/6 malam, hingga menjelang subuh. Bagi kita yang imannya rata-rata, baik puasa Daud maupun shalat malamnya Nabi Daud cukup berat. Al-Hafidz Ibnu Hajar menukil keterangan al-Muhallab mengatakan,

كَانَ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام يُجِمّ نَفْسه بِنَوْمٍ أَوَّل اللَّيْل ، ثُمَّ يَقُوم فِي الْوَقْت الَّذِي يُنَادِي اللَّه فِيهِ : هَلْ مِنْ سَائِل فَأُعْطِيَهُ سُؤْله , ثُمَّ يَسْتَدِرْك بِالنَّوْمِ مَا يَسْتَرِيح بِهِ مِنْ نَصَب الْقِيَام فِي بَقِيَّة اللَّيْل

Nabi Daud ’alaihis salam merutinkan bangun di awal malam, kemudian bangun di waktu mustajab doa, ketika Allah menyeru: ”Siapa yang meminta, akan Aku kabulkan permintaannya.” kemudian beliau tidur, untuk istirahat setelah mengalami capeknya qiyam lail di sisa malamnya.
[Fathul Bari, 3/16].

Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِى اللَّيْلِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Di malam hari terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah berkaitan dengan dunia dan akhiratnya bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberikan apa yang ia minta. Hal ini berlaku setiap malamnya.”
(HR. Muslim no. 757)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb Tabaroka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata: ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, aku akan memperkenankan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Kuampuni’.”
(HR. Bukhari no. 6321 dan Muslim no. 758).

Ibnu Baththol berkata, “Waktu tersebut adalah waktu yang mulia dan terdapat dorongan beramal di waktu tersebut. Allah Ta’ala mengkhususkan waktu itu dengan nuzul-Nya ( untuk menyangatkan bahwa waktu tersebut special banget untuk berdoa. Allah pun memberikan keistimewaan pada waktu tersebut dengan diijabahinya doa dan dikabulkan setiap yang meminta.” (Syarh Al Bukhari, 19/118)

Ada waktu untuk istirahat setelah melaksanakan shalat malam, karena Nabi Dawud tidur lagi setelah qiyam lail. Sehingga tidak kelihatan loyo atau mengantuk ketika melanjutkan dengan shalat subu dan dzikir pagi.

Secara kuantitas puasa Dawud adalah pusa dalam batas maksmimal seseorang berpuasa. Tidak boleh seseorang terus menerus berpuasa sepanjang hidupnya, sebagaimana tidak benar seseorang yang tidak pernah puasa dalam seluruh kehidupannya.
Puasa Dawud ini sebagai respon terhadap seseorang yang ingin secara terus menerus melakukan ibadah di malam hari dan puasa di siang hari, sehingga Nabi saw. menasehati untuk puasa setiap minggunya tiga hari saja. Tetapi orang itu masih mendesak untuk dapat melakukan puasa lebih dari tiga hari dan merasa punya kemampuan untuk melakukan puasa lebih dari itu. Oleh sebab itu dalam hadis disebutkan,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صُمْ صَوْمَ نَبِيِّ اللهِ دَاوُدَ، وَلَا تَزِدْ عَلَيْهِ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَهِ، وَمَا كَانَ صِيَامُ دَاوُدَ؟ قَالَ: كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا [رواه أحمد و غيره

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr [diriwayatkan] ia berkata, Rasulullah saw. bersabda kepadaku, puasalah seperti puasanya Nabi Dawud, dan janganlah menambahnya. Aku bertanya (‘Abdullah bin ‘Amr), Wahai Rasulullah, bagaimana puasa Nabi Dawud itu? Nabi saw menjawab, dahulu Nabi Dawud puasa sehari dan berbuka sehari.

[H.R. Ahmad dan lainnya No. 6867].

Dalam riwayat lain diurai dengan agak panjang sebagai berikut

وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوْتِ أزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَسْأَلُوْنَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا أُخْبِرُوْا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوْهَا، وَقَالُوْا: أَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ وَقدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. قَالَ أَحَدُهُمْ: أَمَّا أَنَا فَأُصَلِّيْ اللَّيْلَ أَبَداً، وَقَالَ الْآخَرُ: وَأَنَا أَصُوْمُ الدَّهْرَ أَبَداً وَلَا أُفْطِرُ، وَقَالَ الْآخَرُ: وَأَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَداً. فَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ، فَقَالَ: أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا ؟ أَمَا وَاللهِ إِنِّيْ لَأَخْشَاكُمْ لِلهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّيْ أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

Dari Anas Radhiyallahu anhu ia berkata, “Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang ibadah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Lalu setelah mereka diberitahukan (tentang ibadah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ), mereka menganggap ibadah Beliau itu sedikit sekali. Mereka berkata, “Kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ! Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diberikan ampunan atas semua dosa-dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang.” Salah seorang dari mereka mengatakan, “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.” Lalu orang yang lainnya menimpali, “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa terus menerus tanpa berbuka.” Kemudian yang lainnya lagi berkata, “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya.” Kemudian, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka, seraya bersabda, “Benarkah kalian yang telah berkata begini dan begitu? Demi Allâh! Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allâh dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat (malam) dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.”
(HR. Bukhâri :. 5063 & Muslim : 1401)

Hadits tersebut menegaskan bahwa pengamalan ubudiyah dalam Islam hendaknya pertengahan. Bahkan hendaknya tidak berlebihan dalam segala perkara. Karena jika meremehkan akan kehilangan pahala keutamaan, dan jika terlalu semangat maka akan bosan, lemah, dan futur di tengah jalan. Hendaknya proporsional, tawazun dan tawasuth dalam dalam setiap amalannya. Tidak berlebihan (ghuluw) dalam ibadah termasuk dari sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

سَدِّدوا وقارِبوا واعلموا أنه لن يُدخِلَ أحدَكم عملُه الجنَّةَ وأنَّ أحبَّ الأعمالِ إلى الله أدومُها وإن قَلَّ
الراوي : عائشة أم المؤمنين | المحدث : الألباني | المصدر : صحيح الترغيب
الصفحة أو الرقم: 3174 | خلاصة حكم المحدث : صحيح | شرح الحديث
التخريج : أخرجه البخاري (6464) باختلاف يسير، ومسلم (2818) مطولاً

Dari Aisyah ra, sampaikan, perkirakan, dan ketahuilah bahwa seseorang tidak akan masuk surga karena amalnya, ketahuilah bahwa amalan yang paling dicintai oleh Allâh yaitu yang dikerjakan secara terus menerus walaupun sedikit.

HR. Bukhari : 6464

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.