Ilusi Persatuan Umat Islam Indonesia

0
77

 

Oleh : Anton Permana.

Didalam sebuah wawancara di TV Aljazeerah setelah Amerika dan sekutunya menginvansi Irak, seorang Jendral NATO ditanya oleh wartawan Aljazeerah.

Wartawan : “Jendral. Di layar TV kami sekarang ini anda bisa melihat prosesi 2 juta ummat Islam yang sedang berkumpul di masjidil haram Makkah Arab Saudi. Ada yang sedang melaksanakan tawaf, ada juga yang duduk dan melaksanakan sholat sunat. Sebagai seorang ahli militer, saya ingin bertanya kepada anda. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat 2 juta manusia yang berkumpul itu bisa berbaris dengan rapi dan serentak ?”

(Tanya si wartawan sambil menunjuk kelayar TV besar yang ada di studio)

(Sejenak sang Jendral melihat dengan tatapan tajam kearah layar TV yang ditunjukkan oleh wartawan itu. Tak selang beberapa lama lalu Sang Jendral menjawab) :

Jendral : “Dalam hitungan saya, kalau mereka itu masyarakat sipil biasa butuh waktu satu bulan untuk melatihnya. Tapi kalau yang berkumpul itu tentara, butuh waktu 10 hari melatihnya. Dan kalau itu pasukan khusus, minimal butuh waktu 3 hari untuk melatihnya”.

(Jawab Sang Jendral dengan optimis).

(Lalu si wartawan menjawab)

Wartawan : “Oke baik, terimakasih atas jawaban anda Jendral. Sekarang mari kita buktikan kepada ummat Islam yang berkumpul di Masjidil Haram itu saat ini. Berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk membentuk barisan yang rapi dan bergerak dengan serentak. Karena kebetulan, sebentar lagi sudah masuk waktu sholat Isya”.

(Jelas si wartawan kepada Jendral tersebut).

(Lalu tak lama kemudian, terdengarlah suara iqomat dari Mu’dzin sebagai penanda akan dimulainya sholat Isya berjamaah. Otomatis, seluruh manusia yang ada di dalam dan di luar Masjid langsung bergerak serentak mengambil posisi sholat bersaf-saf membentuk lingkaran mengelilingi Ka’bah. Otomatis pemandangan ini membuat kaget dan takjub Sang Jendral yang kebetulan beragama Nasrani. Karena, hanya dalam hitungan 1-2 menit, manusia yang tadinya bertebaran sekejab mata langsung membentuk barisan lingkarang yang begitu rapi sekali bagai garis lingkaran yang begitu simetris. Baik di dalam, di luar, di depan ka’bah, maupun di lantai atas Masjid.

Sontak pemandangan ini membuat buluk kuduk Sang Jendral merinding takjub melihat sebuah pemandangan yang bagi dirinya langka ini. Berarti, prediksinya salah yang mengatakan membutuhkan waktu 3 bulan melatih masyarakat biasa berjumlah 2 juta jiwa itu, ternyata bisa dibuat oleh ummat Islam hanya dalam hitungan detik dan menit. Malah melebihi prediksi waktu pasukan khusus sekalipun)

Nahhh, apa yang dapat kita ambil pesan tersirat dari cerita diatas ? Menarik bukan ?

Begitulah kira-kira hakikat gambaran umum Ummat Islam saat ini. Seakan tercerai berai, seakan acuh, seakan sibuk dengan urusannya masing-masing. Namun pada dasarnya, hatinya tetap pada satu titik pusaran kiblat bernama ka’bah. Tempat paling terbaik dimuka bumi ini.

Seharusnya, kalau ummat Islam sadar akan hakikat kekuatannya ini, Hakikat bahwa sesama muslim itu bagaikan satu tubuh, maka ummat Islam akan mudah bersatu padu dan bermental superior. Dan ummat Islam Indonesia adalah penguasa sejatinya penguasa. Bukan malah jadi “korban” penguasa

Setidaknya, cerita diatas dapat dijadikan inspirasi dan motivasi, bahwa ummat Islam itu mempunyai keistimewaan yang luar biasa. Mempunyai instrumen keagamaan yang dahsyat. Yaitu : punya satu Tuhan, satu kitab suci, satu Nabi, satu kiblat, yang berarti bisa bernaung menjadi satu payung komando dan satu orientasi tujuan.

Makanya di Masjidil Haram tadi, walaupun dua juta manusia dari berbagai negara berkumpul dari semua aliran, tetapi ketika komando iqomat dibacakan semua serentak berbaris mengambil posisi taat komando mengikuti sang imam.

Hal ini kalau diterapkan kedalam kehidupan berjamaah akan sangat luar biasa dahsyatnya. Lupakan perbedaan mahzab, perbedaan aliran, perbedaan suku dan bangsa, perbedaan cara ibadah, perbedaan partai politik, perbedaan kiyai dan ulama panutan.

Coba semuanya sepakat satu komando, Taat kepada Ulama-Imam, dan menjaga soliditas ukuwah antar sesama ummat Islam. Dalam beramar makruf nahi munkar. Hhmm.. MasyaAllah.. Sungguh tak terbayangkan indahnya.

Kalau ini terjadi, niscaya tak akan ada yang berani menistakan ajaran dan symbol Islam. Tak akan ada yang berani memperolok-olok dan mengkriminalisasi Ulama dan Habaib.

Sebagaimana sejarah monumental perang 10 november di Surabaya. Palagan Ambarawa. Serangan umum 1 maret, hingga penumpasan pemberontakan G/30S/PKI pada tahun 1965.

Ketika ada sebuah komando datang, seruan dan momentum yang tepat, maka niscaya ummat Islam akan turung berduyun-duyun bagai gelombang tsunami bersatu padu dalam satu barisan yang tak terkalahkan.

Faktanya, tentara sekutu yang begitu canggih peralatan tempurnya hengkang dari tanah Surabaya. Belanda yang begitu moderen senjatanya, menyerah kepada Indonesia. PKI yang ketika itu sudah begitu kuat mencengkram Istana, punya pasukan cakrabirawa serta angkatan ke5, hancur lebur ditumpas ummat Islam bersama Tentara. Semua itu bisa terjadi atas izin Allah dan persatuan ummat dalam satu barisan.

Cuma sayang. Saat ini ummat Islam sedang terpedaya tipu daya ala Fir’aun. Raksasa tapi dikerdilkan. Mayoritas tapi dimarginalkan. Banyak tapi mentalnya dijajah oleh permainan sihir tipu kekuasaan. Padahal itu semua hanya halusinasi tali busuk yang disulap jadi ular.

Namun saat ini, sihir ala fir’aun ini berhasil sementara waktu menutup mata dan telinga ummat, terpedaya oleh bahasa manis dan stigma tipu daya yang melenakan. Sehingga ummat Islam merasa inferior, seakan lemah tak berdaya, merasa kecil bagaikan buih dilautan. Padahal para Fir’aun moderen itulah yang sangat takut akan kebangkitan Islam. Mereka sangat ketakutan ummat Islam tersadar dan serentak dari pengaruh sihir dan merapatkan barisan melakukan perlawanan. Kalau ini terjadi di Indonesia ?? Selesai semuanya…

Begitulah gambaran ummat Islam saat ini di Indonesia. Babak belur di hantam agenda Islamphobia, padahal mayoritas di Indonesia.

Tapi yakinlah, diamnya ummat Islam itu bukan berarti pengecut. Tertindasnya ummat Islam bukan berarti bodoh. Ummat Islam Indonesia hanya karena “begitu sayang” kepada negeri ini. Negeri yang didirikan oleh darah dan nyawa para syuhada. Para pendahulu kita.

Sampai saatnya nanti pada sebuah titik puncak batas kesabaran. Seruan itu datang, komando itu turun, bumi pertiwi memanggil, insyaAllah, Wallahi dalam sekejab mata semua akan berubah siap tempur dalam satu barisan. Demi kehormatan agama, demi kedaulatan bangsa.
Sebagaimana barisan saff sholat di Masjidil Haram.

Dan ketika musuh-musuh bangsa itu sudah terlalu bertindak kelewat batas. Sebagaimana penjajah Belanda dan PKI ditahun 1965, maka yakinlah, dengan segera ;

Masjid-masjid akan jadi pos perjuangan. Pesantren, sekolah akan jadi medan pelatihan dan rekrutmen pejuang. Ulama/ulama akan jadi panglima. Pendekar dan jawara akan turun gunung. Santri-santri akan jadi laskar tentara. Uang, jabatan, harta dan nyawa sudah tidak dipedulikan lagi. Demi membela bangsa dan agama.

Instrumen ini semua sudah ada dalam Islam. Wahdatul Fikrah, Wahdatul Harokah, Wahdatul Tarbiyah. Dan puncaknya Jihad Fusabilillah. Yaitu : kesamaan fikir, kesamaan gerak, dan kesamaan nilai dan berjuang di jalan Allah dengan segenap jiwa raga.

Instrumen inilah yang membuat negeri ini merdeka dari penjajahan belanda. Instrumen inilah yang membuat PKI bisa ditumpas dan dihancurkan.

Dan ketika ummat Islam ditindas, maka penindasan itu akan menjadi titik letup lahirnya sebuah gelombang perlawanan.

Yang bisa menjadi momentum kebangkitan Islam agar menjadi Tuan dinegerinya sendiri. Agar dapat berdakwah dan memberikan kebaikan kepada negerinya sendiri, Indonesia yang rahmatanlillalamin. Tanpa korupsi, tanpa penjajahan, tanpa ketidak adilan, dan tanpa kesewenang-wenangan.

Sejarah pasti akan terus berulang. Sejarah kejayaan negara kertagama. Seperti Majapahit dan Sriwijaya yang gemilang. Seperti Mataram, Samudra Pasai yang cemerlang.

Konsepsi negara kertagama, yang menjadikan agama mayoritas rakyatnya sebagai panduan utama selayaknya Pancasila dalam rumusan bernegara kita hari ini yang bersanding indah dengan agama di bumi nusantara. InsyaAllah..

Batam, 20 Mei 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.