Indonesia Krisis Peneliti, LIPI adakan PIRN

0
524
http://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/para-calon-tkw-tengah-menjalani-proses-pelatihan-sebelum-diberangkatkan-_110626104302-246.jpg

Oknews.co.id, Jakarta – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggunakan kegiatan Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) guna mendorong peningkatan jumlah peneliti di masa depan dengan memunculkan bibit ilmuwan baru di tingkat sekolah menengah atas (SMA) atau sederajat.

“Jumlah peneliti kita itu sangat kurang, dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lainnya kita tertinggal jauh. Kita baru punya sekitar 9.500 peneliti, itu tidak cukup jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang lebih dari 250 juta jiwa,” kata Wakil Kepala LIPI Bambang Subiyanto pada pelaksanaan PIRN XVI di Aceh, Senin.

Menurut dia, setidaknya Indonesia membutuhkan 250.000 peneliti untuk saat ini. Kebutuhan peneliti tentu akan bertambah seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia.

Melalui kegiatan PIRN yang melibatkan sekitar 450 remaja dari SMA, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau sederajat dari 28 provinsi, ia berharap ada calon-calon peneliti baru yang siap mengisi kekurangan tersebut baik untuk di pusat maupun di daerah.

“Nah adik-adik ini kita ajari mulai dari urutan awal penelitian harus melakukan apa, standarnya seperti apa, dengan harapan lebih lanjut mereka suka meneliti dan mau menjadi peneliti,” ujar Bambang.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Laisani mengakui jumlah hasil karya ilmiah dari murid-murid SMA, SMK atau sederajat di Aceh masih kurang, ini karena baru beberapa sekolah saja dan kebanyakan sekolah berasrama yang mampu menghasilkan karya-karya ilmiah remaja.

“Mereka dari sekolah berasrama lebih banyak mempunyai waktu untuk melaksanakan kegiatan yang menghasilkan sebuah karya ilmiah,” ujar dia.

Dengan adanya kegiatan PIRN XVI di Aceh dan mempertemukan remaja dari berbagai provinsi untuk melakukan perkemahan ilmiah, ia berharap akan ada penemuan atau inovasi baru yang berasal dari hasil penelitian tentang budaya, sumber daya alam hingga kesenian Aceh yang nantinya dapat ditindak lanjuti mendukung perekonomian dan sosial masyarakat pada umumnya dan masyarakat Aceh khususnya.

Sementara itu, siswa kelas 11 SMA 10 Banda Aceh Ahmad Razaq (16) dan Raihan Tariq (16) yang mengaku baru pertama mengikuti kegiatan PIRN ini sangat tertarik belajar meneliti langsung dari peneliti-peneliti LIPI.

Mereka mengaku sudah sempat mendengar tentang kegiatan ini dari kakak kelas yang mengikuti PIRN XV di Bengkulu pada 2016. Dan kini berharap mendapatkan pengetahuan secara lengkap cara meneliti dan bagaimana menjadi peneliti melalui Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional XVI yang dilaksanakan di SMA Modal Bangsa Aceh dari 9 s.d. 16 Juli 2017.

Jika Razaq tertarik meneliti ilmu sosial seperti dampak pembangunan besar-besaran terhadap masyarakat sekitarnya, maka Raihan lebih tertarik meneliti untuk menciptakan robot yang membantu manusia menemukan sumber daya baru yang akan dibutuhkan manusia di masa depan.

Raihan sebelumnya menjuarai lomba membuat robot yang menjadi alat membantu aktivitas manusia yang rutin digelar Universitas Syiah Kuala. Dirinya menjadi juara 1 berkat robot “vacuum cleaner” yang dikerjakan bersama rekan sekelompok di 2016.

Peseta PIRN XVI akan mendapat materi metodologi penelitian di hari pertama, dilanjutkan dengan persiapan penelitian lapangan berupa penyusunan instrumen penelitian di hari kedua, dan melakukan pengumpulan data atau penelitian lapangan di hari ketiga. Pengolahan, analisis, pembuatan alat, penulisan karya tulis ilmiah dan persiapan presentasi dilakukan di hari keempat, yang dihari berikutnya dilanjutkan dengan presentasi laporan.

Sejumlah lokasi yang akan menjadi tempat penelitian mereka antara lain Pasir Putih, Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Lampulo, Semen Andalas, Kampung Lampulo, Lampisang, Waduk Keliling, Lampaya, Lhok Seudu.