Jalan Terjal Agama Pembebasan

0
42

Oleh : Nugraha Hadi Kusuma

Kenyataan bahwa peradaban islam pernah berada di posisi puncak peradaban dunia tidak terbantahkan oleh para pengamat sejarah. Saat itu, islam menjadi agama yang kosmopolit , inklusif, terbuka, dan mampu berinteraksi dengan berbagai peradaban manapun dibelahan bumi. Ketika itu, umat islam tampil dengan penuh percaya diri ( self confident) berhadapan dan berinteraksi dengan peradaban dunia yang kita kenal dengan peradaban Grico Roman. Umat islam merupakan umat yang eksis dalam peran dan dinamika zaman. Hal ini disebutkan oleh Nurcholish Madjid bahwa umat islam memandang diri mereka sebagai bagian kemanusiaan universal dan berada dalam lingkungan kewarganegaraan dunia dengan penuh percaya diri.

Dalam kaitan ini, kaum muslimin sangat yakin bahwa kecemerlangan (the golden era) atau kejayaan islam tercapai , salah satunya, berkat semangat tauhid. Tauhid telah menjadi spirit dan sumber energi bagi umat islam dalam menatap masa depan peradaban mereka. Selain itu, tauhid memiliki fungsi praksis sebagai energi yang membantu melahirkan perilaku dan keyakinan yang kuat untuk mentransformasikan kehidupan sehari-hari seorang muslim dan sistem sosialnya. Dalam kaitan ini, Hasan Hanafi menjelaskan bahwa akidah merupakan keimanan dan jiwa rakyat yang sedang revolusi, yang merupakan tuntutan zaman modern.

Sayangnya, seperti yang pernah disinyalir oleh Jamaluddin al-Afghani, seorang reformis kebangsaan Afghanistan (lihat Nikki R. Keddie:1968), yang menyebabkan runtuhnya peradaban islam adalah terjadinya kerusakan pada sistem dan semangat tauhid. Tauhid yang semestinya mengandung kekuatan revolutif dan memilikiperspektif universal dan inklusif telah berubah menjadi konsep ketuhanan milik kelompok yang sempit. Atau, menurut istilah Farid Esack, citra tuhan Yang Maha Agung berubah menjadi parokial atau sebagai milik kelompok kecil manusia.

Akibatnya, selain umat islam menjadi bangsa terbelakang dalam sejarah peradaban modern, dan dalam banyak kasus, umat islam juga menderita rasa minder dan rendah diri (inferiority complex) yang disebabkan oleh kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan ketertinggalan. Kemudian, dicarikan pelarian dari kondisi ini dalam bentuk kekerasan masif, seperti bom bunuh diri dan sejenisnya. Kemiskinan iti tidak saja terjadi pada buruknya mutu gizi makanan dan perumahan sebagai bentuk dari lemahnya sumber daya manusia pengelola pembangunan, atau pada hal-hal yang bersifat material. Tetapi, juga sudah sampai pada tahap kemiskinan yang menyeluruh, baik dalam struktur sosial mupun moral dan spiritual.

Memang, sangat ironis jika melihat fakta bahwa umat islam yang dilukiskan dalam al-Qur’an sebagai umat terbaik harus hidup terisolir serta termarginalkan. Hal tersebut disebabkan oleh terlalu banyak yang mengisi kantong-kantong kemiskinan,penghias permukiman-permukiman kumuh, serta kesatuan umat yang ternyata terlihat rapuh. Umat islam tersebar dalam kepingan-kepingan tribalisme kemanusian yang menyakitkan. Lihat misalnya fenomena Iran, Irak, Libya, Kuwait, Maroko, Sudan, Afghanistsan, Tajikistan, Uzbekistan, Turki, Pakistan, Saudi Arabia, Somalia, dan lani-lain.

Umat islam di indonesia jumlahnya terbesar di seluruh dunia. Sayangnya, sebagian besar elite umatnya sedang digerogoti penyakit kronis berupa korupsi yang serius dan degradasi moral yang memprihatinkan. Selain itu, sebagian besar umatnya juga perlu memiliki paham keagamaan yang representatif dan memadai, bukan paham konvensionalisme,konservativisme, dan sangat simbolik. Kenyataan itu seolah-olah memperlihatkan bahwa umat islam bukan lagi umat yang dipersatukan oleh nilai-nilai islam melalui semangat tauhid, yang menyebabkan umat islam menjadi komunitas marginal di negerinya sendiri, serta menjadi umat yang terbelakang dalam sisi peran yang seharusnya dapat dimainkan.

Keprihatinan serupa juga pernah dikemukakan oleh Yusuf al-Qardhawi. Menurutnya, keterbelakangan umat islam saat ini disebabkan oleh umat islam tidak lagi menjalankan islam yang autentik. Umat islam telah meninggalkan substansi ajaran islam yang sesungguhnya memiliki pengaruh besr dalam kehidupan umat sepanjang sejarah. Umat islam saat ini sudah terlalu jauh meninggalkan konsep ijtihad dan jihad. Para mujtahid bergerak dengan serius dibidang pemahaman keagamaan serta membawa panji keilmuan dan kecemerlangan. Sedangkan, para mujahid membawasenjata berjuang dalam membela dan memelihara ajaran Allah Swt. dengan besi yang kuat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.