“KADO HARAPANKU ATAS USIA SENJAMU”

0
89

Oknews.co.id – Yogyakarta, “5 Februari 1947 – 5 Februari 2019”  Bagi sapiens, mungkin usia itu adalah usia yang tepat untuk menghitamkan jidat. Usia yang tepat untuk memetakan lahan tanah abang. Dan usia di mana akal dan rasa lebih pantas ditampilkan daripada perabotan morfologisnya. Usia senja singkatnya.

“72 Tahun”  Sebuah digit angka yang tak lagi sedikit. Hampir menyentuh ujung nyawa Ibu Pertiwi. Seharusmya, kematangan tak boleh lagi dipersoalkan, namun nyatanya kematangan usia muda lebih nikmat dipandang mata daripada kondisi usia senja. Ini bukan tentang kondisi internal tubuh organisasi, tapi ini tentang stigma penonton layar kaca.

“Kerusuhan, politis, dan demonstrasi” Tiga kata yang cukup sulit dienyahkan dari tubuh renta ini. Insan Ulul Albab katanya, namun dalam cukup banyak kesempatan, perkumpulan Ulul Albab ini seringkali menanggalkan predikat Albabnya sejenak demi tujuan pragmatis belaka. Berdakwah paling manjur memang dengan tongkat kuasa, akan tetapi Sang Rasul tak pernah memperkenalkan metode barbarian dalam kutipan haditsnya. Pecah kaca, bakar kasur penginapan, berkelakar di jalanan. Ya, Rasul tak pernah mengajarkan metode chauvinis. Demi maksud politik, kanda-yunda beberapa kali rela meletakkan mahkota Ulul Albab. Apa itu yang di nanti masyarakat? Tentu tidak. Masyarakat merindukan sosok Cak Nur, masyarakat haus akan Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Anies Baswedan, dan Mahfud MD. Masyarakat merindukan masa-masa itu. Masa di mana intelektualitas, rasa, karsa, dan cipta organisasi terasa nyata. Mungkin satu sampai dua dekade yang lalu, berteriak dengan membopong tongkat bendera masih relevan. Namun perlu diketahui, manusia jaman sekarang benci kerepotan, benci kesia-siaan, dan itulah yang dialami organisasi-organisasi mahasiswa saat ini. Aspal adalah destinasi terakhir penyaluran suara rakyat. Press release lewat media massa lebih dinanti dan minati daripada kerusuhan di bahu jalan. Masyarakat akan lebih kagum akan usaha berwujud dialog dan press conference ketimbang menengok rubrik berita organisasi kita demo dan berakhir baku hantam.

Sebagaimana cita-cita kita ketika Kongres XXXI di Sorong, yaitu salah satunya ialah menjaga keutuhan bangsa. Di mana saya selaku orang yang kagum atas perjuangan HmI di masa lampau, sangat geli dan mengharapkan cita-cita kongres dapat diwujudkan sebagaimana mestinya.

Cukup menggelikan ketika ada orang yang menanyakan, “Kapan HmI berhenti demo?”. Sebuah pertanyaan yang cukup menampar datang dari luar institusi. Ciri HmI bukan pada DEMO nya, akan tetapi terletak pada proses daripada akal sehat berjalan. Jika dalam konteks demo maka yang harus dilestarikan dari HmI ialah proses dan hasil penggalian konten DEMO, bukan DEMO nya. Karena perlu diketahui, bahwa demo itu stigma, bukan sebuah predikat penghargaan kepada HmI. Dan perlu diketahui pula bahwa demo hanyalah sebatas metode yang bisa diubah dengan metode yang lebih elegan.

Terakhir, sekali lagi bahwa tradisi khas dari HmI ialah proses berlangsungnya akal sehat, bukan sebuah metode yang tak lagi ampuh dan mutakhir yang seringkali kita sebut sebagai, DEMONSTRASI!

Selamat Milad Himpunan Mahasiswa Islam.

Di usiamu yang senja ini, di sini aku masih yakin denganmu melalui iman, dan aku masih mau berjuang dan berusaha denganmu melalui ilmu., dan pun aku juga masih dengan senang hati percaya bahwa kamu bisa mengamalkan dan menyampaikan ini semua dengan segala amalmu.

Yakin Usaha Sampai!

Racha Julian C

Kader HmI Fisipol UMY

(Raisul Haqi)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.