Kaptalisme dan Qarun

0
183

Oknews.co.id – Qarun adalah sebuah nama yang sangat fenomenal. Ia hidup di masa Fir’aun dan Musa dengan ‘duit’ (baca: harta-benda) berlimpah.  Tetapi, ia lupa bersyukkur dan bahkan bersikap kufur. Dengan sikap rakus dan sombongnya dia tepuk-dadanya dan – dengan lantang – berteriak: “inilah aku”. Dia lupa bahwa semua yang dia miliki adalah titipan Allah yang harus dikembalikan dengan sikap syukurnya. Dia kesampingkan ibadahnya, dan – pada akhirnya – dia pun hars meyesali semuanya. Dia tenggelam bersama hartanya karena azab Allah.

Bang Imad (panggilan akrab Prof.Dr. ‘Imaduddin ‘Abdurrahim, M.Sc.), pernah menulis beberapa paragraf dalam buku Best Seller-nya “Kuliah Tauhid”. Dia nyatakan bahwa  “tuhan tandingan”, yang paling populer di zaman modern ini ialah ‘duit’, karena ternyata memang ‘duit’ ini termasuk “ilâh” yang paling berkuasa di dunia ini. Di kalangan orang Amerika terkenal istilah “The Almighty Dollar” (Dollar yang maha kuasa). Memang telah ternyata di dunia, bahwa hampir semua yang ada di dalam hidup ini dapat diperoleh dengan duit, bahkan dalam banyak hal harga diri manusia pun bisa dibeli dengan duit. Lihatlah di sekitar kita sekarang ini, hampir semuanya ada “harga”-nya, jadi bisa “dibeli” dengan duit. Manusia tidak malu lagi melakukan apa saja demi untuk mendapat sesuatu dengan dan demi ‘duit;, pada hal malu itu salah satu bahagian terpenting dari iman. Betapa banyak orang yang sampai hati menggadaikan negeri dan bangsanya sendiri demi mendapat ‘duit’. Memang – kata Bang Imad — “tuhan” yang berbentuk ‘duit’ ini sangat banyak menentukan jalan kehidupan manusia di zaman modern ini.

Semua orang – utamanya orang-orang ber’ duit’ di negeri kita — sebenarnya paham, bahwa pada mulanya manusia menciptakan ‘duit’ hanyalah sebagai alat tukar untuk memudahkan serta mempercepat terjadinya perniagaan. Maka ’ duit’ bisa ditukarkan dengan barang-barang atau jasa dalam berbagai bentuk. Oleh karena itu, duit juga disebut sebagai “harta cair” (liquid commodity). Kemudian, fungsi ’ duit’ sebagai alat tukar ini menjadi demikian efektifnya, sehingga di zaman ini, terutama di negeri-negeri yang berlandaskan materialisme dan kapitalisme, ’ duit’ juga dipakai sebagai alat ukur bagi status seseorang di dalam masyarakat.

Dalam al-Quran, kita kenal seorang yang bernama ”Qarun”, seseorang yang menganggap dirinya dan dianggap oleh para pengikutnya ”serba-hebat” karena ’duit”-nya. Bahkan, Dia pun sempat dan membuat para pengikutnya (juga) ’terlena’ untuk mempertuhankan ’duit’. Mereka terpuruk dalam jebakan ”thaghut” yang berbentuk ’duit’. Karena tumpukan ‘duit’-nya yang sangat banyak, sehingga diilustrasikan dalam al-Quran — sampai-sampai kunci untuk membuka gudang ‘duit’-nya harus dipikul oleh sejumlah orang yang memiliki kekuatan fisik yang luar biasa (QS al-Qashash, 28: 78).

Qarun – yang diceritakan dalam kitab-kitab tafsir al-Quran – adalah sepupu Nabi Musa a.s.. Ia dikenal sebagai seorang hartawan di Mesir. Dalam al-Quran, nama Qarun disebut sebanyak empat kali. Satu kali dalam surat al-Ghâfir (al-Mu’min) dan al-‘Ankabût, dua kali dalam QS al-Qashash. Allah SWT memberikan anugerah kepadanya berupa limpa han ‘duit’. Tetapi, tak mampu bersyukur kepada Allahdengan ‘‘duit’-nya.

Pola pikir Qarun yang materialitistik, menyeretnya semakin jauh dari rasa syukur. Syariat Allah (baca: Agama) dianggapnya tidak memiliki korelasi dengan kecemelangan kehidupan. Dengan sikap sekulernya, syariat Allah dan kesuksesan di dunia dianggap sebagai dua entitas yang berbeda dan tidak saling berhubungan sama sekali. ‘Tuhan’ – dalam diri Qarun — sama sekali tak mendapat ruang dan tempat dalam praktik kehidupan ekonominya. Bahkan, karena penampilannya yang ‘glamour’, ternyata telah menarik perhatian para pengikutnya. Begitu luar biasa kayanya Si Qarun ini, orang-orang pun mengidolakannya dan  bahkan bercita-cita untuk menjadi seperti dirinya (QS al-Qashash, 28: 79). Mereka berusaha meniru langkah Qarun dalam memperkaya dirinya. Karena, mereka anggap sikap-sekuler Qarun sebagai penyebab keberhasilan ekonominya.

Tetapi, akibat kesombongannya dan sikap tamaknya, Qarun dihancurkan oleh Allah SWT. Dirinya beserta hartanya dibenamkan ke dalam perut bumi oleh Allah SWT dan tidak ada seorang pun yang sanggup menolongnya (QS al-Qashash, 28: 81).  Musnahlah Qarun beserta segala keangkuhannya. Kemudian, orang-orang yang sebelumnya merindukan menjadi seperti Qarun, khirnya sadar. Mereka pun selamat karena menyadari bahwa menentang aturan Allah hanya akan membinasakan siapa saja, sekuat dan sehebat apa pun ia.

Kisah Qarun ini mengajarkan kita tentang bahaya sifat kufur, cinta dunia, dan sombong, sekaligus mengajarkan kepada kita tentang signifikansi (arti penting) sikap syukur. Al-Quran mengajarkan kepada kita bagaimana cara menghindari karakter Qarun dengan berbagai cara. Di antaranya adalah dengan “membudayakan sedekah”.

Dari kisah Qarun, kita bisa mengambil pelajaran, sehebat apa pun kita. Kita akan menjadi manusia yang beruntung dan tidak terkena dampak kehancuran itu kalau kita mau kembali menerapkan prinsip syariat-Nya. Jangan ulangi kegagalan “Qarun”, yang karena kesombongannya dengan ‘duit’ dan – juga — keserakahannya terhadap ‘duit’, akhirnya menjadi manusia (yang) tak berdaya.

Jangan pertuhankan ‘duit’, kalau kita tak ingin mengalami kegagalan seperti “Qarun”.

Dahsyatnya nama Qarun juga sampai di Indonesia lho, karena setiap harta yang didapat atau diperoleh dari dalam tanah kita menyebutnya harta Qarun, wooww begitu dahsyatnya kekayaan Qarun menurut pikiran saya.

Pada zaman nabi Muhammad SAW kalangan Yahudi juga merupakan kaum yang menentang ajaran islam yang dibawa oleh Baginda Rasulullah, senjata yang ampuh digunakan adalah Harta kekayaan yang mereka miliki, dan mereka terus menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan islam sampai pada masa kekhalifahan seperti kekuasaan Khalifah Al. Muqtadir pada periode dinasti Abbasiyah, terkadang pola mereka dalam melaksanakan aksinya tidak terlihat, mereka juga menyusup sebagai pegawai-pegawai kerajaan dan memegang peranan penting didalam suatu kerajaan, sehingga mereka mempunyai akses yang besar terhadap kekuasaan dan mempengaruhi keputusan-keputusan politik. Kita ambil beberapa contoh nama yaitu : Avraham bi Yuhanna, Israel bin saleh dan Zakariya bin Yuhanna menjadi pakar akuntansi pada dinasti Abbasiyah, pada masa kekuasaan dinasti Fathimiyyah terdapat 2 orang Yahudi bersaudara yang aktid dalam bursa valuta asing dan masih banyak lagi yang teridentifikasi oleh sejarah yang menunjukkan bahwa mereka adalah penyusup yang ulung, lihai, cerdik.

Kapitalisme awalnya memang merupakan sebuah konsep pemikiran tentang Ekonomi, namun pada zaman modern, kapitalisme berkaitan erat dengan imperialism dan kolonialisme karena kapitalisme adalah salah satu produk Revolusi Industri pasca renaissance seiring dengan munculnya individualism, empirisme, positivism, eksistensialisme, pragmatism, liberalism dalam filsafat, psikoanalisis dalam psikologi dan berbagai paham dan aliran dibidang seni, logika serta moral.

Kapitalisme menjadi ideologi yang menjauhi transdensi dan lebih mendasarkan diri pada rasionalitas. Kekuasaan akan didapatkan dengan memperkokoh rasio dimana yang kuat harus secara alamiah menguasai yang lemah. Karena tujuan utamanya adalah kebahagiaan material, maka bagi kapitalisme kegagalan mendapatkan materi adalah hal yang tidak realistis.. Tak heran jika kapitalisme mengutamakan watak liberal, siapapun yang menolak keyakinan liberal akan dianggap sebagai pihak yang totalitarian, anti plural, pembangkang, utopian, fanatic serta fasis. Tuhan dimatikan dalam kapitalisme karena segala upaya menuju kearahNya merupakan hal yang sia-sia. Karl raymod Popper dan Francis Fukuyama pernah menyebutkan didalam bukunya bahwa masyarakat kapitalistik saat ini adalah bentuk terakhir dari peradaban umat manusia.?? Pernyataan yang bikin bulu kuduk merinding mengingat didalam Islam terakhir peradaban berarti Kiamat. Harapan atas kemajuan dalam bentuk non-kapitalistik adalah harapan kalangan utopian, karena cara pandang kapitalisme dinilai dari material maka uang pun menjadi kekuasaan. Kaum kapitalis akhirnya berusaha menguasai uang dengan menambah dalam setiap bentuk kekuasaan, modal dan pendidikan dan media massa..mencerna tulisan diatas, menurut hemat saya Negara kita menuju kesana dimana semua program pemerintah hampir kebijakannya mengarahkan bagaimana masyarakatnya untuk memperoleh uang yang lebih banyak dengan berbagai cara melalui regulasi peraturan dan kebijakan.

Apakah pemikiran saya benar ?? tentu saya terbuka untuk dikritisi, selalu dan selalu kita dengan program Kepala daerah maupun presiden pasti yang menjadi program utama adalah peningkatan pendapatan perkapita atau dengan kata lain bagaimana meningkatkan ekonomi masyarakat selalu dan selalu ekonomi, kita pun sebagai individu juga selalu menilai seseorang dianggap sukses dengan standar ukuran sudah punya berapa buah mobil, sudah ada rumah atau tidak, pangkatnya sudah tinggi atau tidak selalu dan selalu kemewahan yang menjadi ukuran. Kita tidak pernah mengukur kesuksesan itu dari segi spritualitas atau dari social kemasyarakatan misalnya sudah berapa banyak dia merelakan hartanya untuk dibagikan kepada orang lain, sudah berapa banyak tenaga dan pikiran digunakan penuh untuk kepentingan orang lain dan masih banyak pertanyaan idealis lain yang tidak mungkin jawaban nya kita lakukan.

Penulis adalah orang biasa yang tinggal di kampung terpencil dihimpit gedung tinggi kota Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.