Keadilan, Inti dari Perjuangan Gender

0
158

Oleh: Uzlifah

Islam kerap dipandang memiliki formulasi hukum yang cenderung menguntungkan kaum pria. Pandangan ini tak hanya bersumber dari Barat yang notabene non-Muslim, namun juga dari kalangan Muslim sendiri. Mereka menganggap setting-an hukum Islam berbasis budaya patriarki dan memandang ‘sebelah-mata’ terhadap perempuan (misogyny).

Aturan dalam Islam seperti larangan bagi wanita mengimami laki-laki dalam sholat, aturan shaf sholat yang mengharuskan wanita di belakang laki-laki, kewajiban patuh pada suami sebagai kepala keluarga, dll, seringkali dipandang patriarkal yang membuat sebagian muslimah merasa menjadi korban subordinasi dan diskriminasi. Kemudian menganggap hukum Islam tak lagi relevan dengan trend kekinian.

Semua itu menjadi stimulus munculnya pergerakan ‘Feminisme Islam’ dalam dunia feminisme yang mengacu pada konsistensi perjuangan dalam menghilangkan subordinasi, memusnahkan ideologi patriarki serta meluruskan pandangan misogyny dengan menggunakan paradigma Islam sebagai bahasan utama.

Padahal, bukan sebuah diskriminasi ketika wanita tidak boleh menjadi imam sholat bagi laki-laki, atau ketika ia harus berdiri di shaf shalat yang berada di belakang laki-laki. Karena itu semata-mata bertujuan agar prosesi penyerahan diri dihadapan Allah berjalan dengan lebih tunduk, khusyu’ dan sakral. Bukan untuk ditafsirkan sebagai penempatan derajat wanita sebagai kelas kedua dalam kehidupan sosial.

Demikian pula ketika isteri harus mematuhi suami yang menjadi kepala keluarganya, bukan untuk diartikan bahwa ia mengabdi dan tunduk pada pria, akan tetapi melaksanakan kewajibannya yang telah ditentukan Penciptanya.

Laki-laki tidaklah menjadi lebih mulia dihadapan Allah hanya karena menjadi kepala rumah tangga, menjadi imam atau berdiri di depan shaf wanita dalam shalat. Karena masing-masing tentu diberi ganjaran yang sama dalam melaksanakan tugas yang sudah dibagi oleh Allah.

Yang menjadi patokan hanyalah satu, yakni “Tingkat Takwa”, dan itu tak ada relasinya dengan gender. Siapapun mampu dan dipersilakan berlomba-lomba mencapainya.

Maka, ‘Gender Equality’ tidaklah selalu bermakna persamaan hak dan kewajiban dalam bidang atau porsi yang benar-benar serupa, karena yang menjadi substansi dari persamaan itu adalah ‘Nilai’.

Laki-laki yang ingin mendapatkan manisnya berjihad diberikan-Nya jalan dengan cara mempertaruhkan nyawa di medan perang atas nama agama Allah. Begitu pula wanita yang ingin mendapatkan manisnya berjihad diberikan-Nya jalan dengan cara mempertaruhkan nyawa ketika melahirkan bayi dari rahimnya.

Pembebasan…! Inilah mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan spirit atas kehadiran Islam yang dibawa oleh seorang Muhammad kaitannya dengan eksistensi kaun perempuan. Bagaimana tidak, sosok bernama perempuan –dengan jabatan sebagai Makhluk Tuhan Paling Seksi yang ada di pundaknya- ini memiliki nasib yang begitu tragis (bahkan tidak memiliki ‘harga’ sama sekali) pada masa pra-Islam, berbagai bentuk marginalisasi, diskriminasi hingga pembunuhan harus diterima perempuan saat itu. Mereka di anggap sebagai barang yang atau benda yang dapat diperlakukan semaunya.

Munculnya Islam dengan membawa al-Qur’an (dan lebih jauh lagi hadis) kemudian seolah menjadi angin segar bagi kaum hawa ketika itu. Tidak tanggung-tanggung, beragam argumen (baik dalam Qur’an maupun hadis) pun di sertakan untuk meyakinkan masyarakat waktu itu bahwa Islam adalah agama pembebas (salah satunya untuk perempuan) dari berbagai bentuk diskriminasi, Namun pada intinya, Islam (dalam hal ini al-Qur’an) telah melakukan sebuah revolusi besar-besaran terkait upaya untuk membuat tatanan kehidupan yang equal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.