Keberagamaan dan Kemanusiaan

0
38

Oleh : Uzlifah

Pertanyaan yang cukup merisaukan adalah kenapa agama dewasa ini sepertinya tidak berpengaruh secara signifikan dalam proses pembelaan terhadap kaum tertindas dan pembebasan kemiskinan? Dalam banyak kasus, mengapa agama justru tampak berkolaborasi dengan kekuasaan dalam menistakan kemiskinan?apa yang sedang terjadi dengan agama-agama saat  ini?masihkah agama hadir dalam ranah kemanusiaan dalam membebaskan kemiskinan dan marginalitas?

Banyak jawaban yang dimunculkan dari pertanyaan-pertanyaan menggoda tersebut.secara parsial,dapat dikatakan beberapa hal. Pertama, para pemimpin agama yang diikuti oleh umat mereka masing-masing telah melakukan asketisme tidak sehat, egoisme personal dan individual, dalam bentuk manipulasi agama untuk tujuan kekuasaan politik dan ekonomi oleh elite atau orang-orang fanatik violent. Penganut agama (khususnya para elite) terlalu defensif untuk agama dan keagamaan mereka, tanpa berani melihat nilai kemanusiaan sejati, baik personal maupun kelompok, dari komunitas di luar diri mereka.

Kedua, agama telah terseret dan tergelincir ke ranah pemahaman ritual-seremonial yang terlalu rigid dan kaku. Tampilan agama cenderung legalitas dan superficial. Sehingga, evaluasi sekaligus autokritik makna terdalam dari agama cenderung tidak menemukan ruang. Meskipun ruang itu tersedia, namun tidak lagi”menggigit”. Keberagamaan dalam pengertian religioisitas (iman) berubah menjadi aksesori iman atau aksesori agama, seperti kewajiban mengenakan simbol-simbolkeagamaan lainnya,regulasi kewajiban berjilbab,menjamurnya perda-perda bernuansa syariat,membludaknya jamaah haji atau juga jiarah ke tempat-tempat suci ditengah negara yang semakin terpuruk dan ancaman krisis pangan,dan lain sebagainya. Pada tempat yang berbeda,aksi swiping atas tempat-tempat yang dianggap maksiat marak terjadi. Namun, di satu sisi, orang-orang yang dianggap berlaku maksiat diperas, dan banyak kasus yang kesemuanya bernuansa kemunafikan.

Ketiga, agama telah dikooptasi sehingga gampang ditekuklututkan dan dininabobokkan serta dibungkam oleh kekuasaan dengan berbagai dalih dan strategi. Misalnya, munculnya wajah-wajah yang berwajah monster, yang serba mengharamkan sesuatu yang berbeda dengan pengalaman keagamaan tertentu.

Dalam ranah kehidupan beragama, saat initidak muncul orang-orang yang brilian untuk berijtihad berjihad. Dalam pengertian, mereka berupaya dengan sungguh-sungguh untuk membela kemanusiaan.

Hari ini, jihad dimaknai dengan tindak kekerasan terhadap orang yang berbeda. Bahkan, tidak jarang agama kemudian menjadi korban topeng kamuflase, pembenaran kejahatan dan pelestarian kebencian terhadap liyan ( the others). Definisi jihad identik dengan membuat regulasi kewajiban-kewajiban administratif, kewajiban seremonial material, yang sangat tidak bernuansa keadilan atas perbedaan.

Keempat, munculnya fenomena beragama, tapi kurang beriman. Pusat keberagamaan kita banyak, tapi bukan kepadaTuhan. Sesembahan kita banyak, yakni kepada ” ilah-ilah selain Allah”. Gambaran beragama yang beriman itu lebih terasa manakala penbelaan terhadap kemanusiaan tidak lebih concern dibanding sembah sujud kepada Tuhan. Terdapat dikotomi yang tajam, bahkan terjadi disparasi diametral, antara karakter vertikal dan horizontal dalam agama dan keberagamaan. Gap sangat terlihat menganga. Satu sisi, karakter vertikal membuat kita menatap terlalu tinggi sehingga cencerung individual. Sedangkan,disisi lain ranah horisontal kita terlalu memutlakkan horisontal sosial yang diberi label keagamaan dengan peluang penyimpangan dan manipulasi yang amat besar terhadap ide sebagai manusia bertuhan.

Kelima, feodalisme dan paternalisme agama dari para pemimpin agama. Umat beragama terlalu dipandang sebagai objek dari praktik keagamaan, tetapi kemudian dibatasi pada keshalihan superficial. Banyuan insidental charity, kemiskinan dan fakir miskin, menjadi komoditas sentimen serta afeksi agama dan keberagamaan. Keberagamaan kita bermantel picik dan sempit. Memori kita pendek dan fragmentaris, bahkan terkadang sangat membelenggu jiwa. Keberagamaan kita terlalu mengklaim bahwa hanya kelompok kita yang dapat dan harus melakukan segalanya. Bahkan, sampai kepada klaim bahwakeselamatan hanya pada kita. Keberagamaan kita tidak konsisten dengan asas bahwa kita butuh orang lain dalam bentuk subsidiaritas, solidaritas,dan sinergitas.

Berangkat dari realitas keberagamaan yang terfragmentasi tersebut, dengan sangat menyesal, harus dinyatakan bahwa agama sesungguhnya bukanlah tujuan, melainkan sarana. Agama harus dilihat sebagai sarana,motivasi,orientasi,semangat,serta pedoman spiritual,moral,dan keyakinan akan nilai-nilai yang supra. Beragama seharusnya untuk kemanusiaan ,dan bergerak bersama untuk mencari jalan keluar dalam menyelesaikan problem kemanusiaan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.