Liberalnya Ilmu dan Terbatasnya Iman

0
218

Oknews.co.id – Malang, Hasil kajian the HQ Center tentang hubungan iman dan ilmu (16/01/2019) kami sajikan dalam bentuk tulisan mengalir dibawah ini,

Tentu erat kaitan antara ilmu dan iman. Iman tanpa ilmu menimbulakn taqlid buta dan begitu berlaku sebaliknya. Ketika seseorang sudah mengalami taqlid buta dalam hal keimanan maka dengan sendirinya hidupnya tak akan pernah merdeka. Lebih dari itu, bisa jadi tanpa sadar ia telah menjadikan ke-taqlid-annya sebagai upaya tanpa sadar pembentukan tuhan tandingan untuk Allah SWT.

Keimanan merupakan fondasi penting dalam hidup manusia. Adanya iman bisa menjadikan seorang yang sedang kalah merasa bahagia, pun juga dengan adanya iman bisa membuat pribadi yang miskin harta merasa kaya. Lebih dari itu iman juga menjadi motivasi tanpa batas bagi pengoptimalan potensi diri dari tiap manusia. Melihat bahwa seorang lelaki yang bekerja keras untuk menghasilkan uang agar bisa melamar sang pujaan menjadi contoh sebuah keimanan. Pada saat itu sang lelaki tanpa sadar telah meletakkan dasar keimanan (mempercayai) bahwa dengan bersama sang pujaan akan menimbukan kebahagiaan. Sepadan cerita dengan seseorang yang memberikan mandat tugas kepada orang lain, seketika itu dia sedang melakukan penggambaran atas keimanan. Perjalanan hidup kita senantiasa diwarnai dengan berbagai macam keimanan.

Iman-iman yang bertebaran di muka bumi tentulah sangat banyak, baik dari segi jenis, metodologi dan bahkan landasan berkeimanannya. Akan tetapi semua iman-iman itu hanyalah bersifat semu meskipun bisa menimbulkan efek yang sama dengan iman yang bersifat transendental. Antara iman-iman yang begitu banyak, hanya iman kepada  Allah SWT Tuhan YME yang termasuk iman hakiki. Meskipun sifat semua iman itu yazidu wa yankus, akan tetapi keimanan kepada Allah SWT tidak akan runtuh. Senada dengan itu Allah-lah satu-satunya fondasi yang tak tergoyahkan dan tak termusnahkan. Karena semua akan binasa illa wajhahu dengan dhamir hu yang merujuk kapada Allah SWT.

Bentuk serupa juga bisa kita temui bagi orang-orang yang hanya mengandalkan ilmu tanpa iman. Taqlid bagi “para pecinta ilmu tanpa iman” bisa terjerumus dalam kebingunagan. Pada dasarnya ilmu bersifat obejktif dan teknologi bersifat subjektif. Secara ilmu api dikatakn bersifat panas, akan tetapi dengan teknologi kompor konduksi, panas itu hanya berlaku untuk panci dan tidak berlaku untuk kita. Saat panci mulai menempel pada kompor, air pun mendidih. Padahal ketika kita pegang kompor itu terasa dingin saja. Orang yang taqlid dengan tipe “ilmuwan” akan mudah dikecewakan oleh ketaqlidannya. Di hari esok bisa jadi apa yang ia percayai menjadi sesuatu yang ia salah-I sendiri. Karena jangka waktu ilmu sangatlah relatif, berkisar antara masa kini dan masa lampau sedangkan untuk masa depan hanya masuk dalam kajian futurologi saja.

Pola sebaliknya jika mengatakan “kebebasan berkeimanan dan keterbatasan berkeilmuan” maka itupun masih bisa dibenarkan. Konteks yang digunakan ialah social respectable. Orang harus memahami akan kebebasan menganut keimanan. Pemilihan untuk percaya pada sesuatu merupakan resonansi dari kegiatan bersosial. Disebut pula konsekwensi tak terelakkan dari proses sosialisasi. Penopang dari rasa menghormati dan menghargai berkepercayaan––pemilihan kepercayaan––ialah rasa keterbatan ilmu dari diri kita. Kesadaran penuh akan keterbatasan pengetahuan dan ilmu pengetahuan yang ada pada diri kita mengakibatkan timbulnya rasa penghargaan atas pilihan orang lain meskipun itu bertentangan dengan pilihan kita. Beserta itu kita pun akan selalu hidup dalam nuansa khusnu adz-dzan.

Pada pertemuan diametral––konteks social trancendental––sesungguhnya kita memiliki keterbatasan akan keimanan dan kebebasan keilmuan. Tidak semua bisa kita iman-i. Pembatasan iman itu tidaklah sesuatu yang merugikan bagi diri kita karena fitrah kita memang mengarahkan agar kita membatasi keimanan kita cukup kepada Allah SWT saja. Keimanan kepada Allah SWT ini berlaku baik dalam kehidupan sosial duniawiy atau sosial ukhrowiy. Tidak heran jika dalam pembahasan kepercayaan dan ketauhidan, sesungguhnya syirik tidak bisa diartikan sebagai sebuah ritual akan tetapi justru pada wilayah sifat dan itikad. Tanda ini dapat dimaknai bahwa ritual-ritual yang dilakukan hanya bersifat interpretasi teknis semata, sedang keimanan harus tetap utuh kepada Allah SWT. Justifikasinya bisa kita lihat pada beberapa kitab yang membahas tentang tawwasul, semisal KItab at-Tawwasul.

Pada sisi lain yang diinginkan dari kebebasan ilmu ialah kebebasan dalam proses pengkajian teoritis sehingga kita menemukan––dalam kesadaran kita––bahwa iman kepada Allah SWT ialah iman yang hakiki, iman yang sebenar-benarnya. Seperti ujung dari definisi ulul albab yaitu rabbana ma khalaqta hadza bathila subahanaka fakina adzaba an-nara. Iman kepada Allah SWT merupakan penhujung sekaligus peng-awal dari semua keimanan yang semu. Pencapaian ini bisa terealisasi jika dengan sungguh-sungguh kita memanfaatkan ilmu untuk melakukan pemaknaan. Orang bisa saja berkepercayaan kepada seseorang atau makhluk akan tetapi dalam hatinya jelas dia berbisik bahwa hanya Allah yang bisa dipercayai. Barangkali dalam berkepercayaan terhadap wujud makhluk, kita masih mengkhuatirkan kuantitas sifat kaddzab (mendusta)––semisal, kuantitas ini merupakan efek dari pembagian strata as-shiddiq oleh Imam Ghazali––yang mengisi relung hati makhluk. Tetapi Allah SWT ialah satu-satunya yang jujur, tak pernah berbohong, nihil kecacatan, tak pernah ingkar janji dan yang benar (al-Haq), pun juga Baginda Rasulullah Muhammad SAW yang merupakan wujud kebenaran ala makhluk (al-Amin). Dalam pertimbangannya, secara logis-rasional sudah barang tentu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak percaya (beriman) kepada Allah SWT dan baginda Rasulullah Muhammad SAW. Sekaligus tidak ada alasan bagi kita untuk mempertahankan serta menjadikan keimanan-keimanan semu yang bertebaran di muka bumi sebagai fondasi hidup kita.

Memperhatikan wajah keriput ditikam risau. Mencari tanpa pernah sadar diri. Melihat seberang, mengira ada api. Merebahkan diri, mengandaikan tumpukan kapas putih. Tak lelah sudah dimatikan cahaya. Merasa suka dikungkung manusia. Menangis-nangis lelah karena ibadah. Tertawa-tawa ditawan manusia. Berkaca-kaca diajak ke masjid tua. Apa yang kau cari, itu keimanan dijual di pasar. Cepat didapat hilang terkikis bersama rembulan dan hari. Imanmu ada disana, ditangisan dan berkacanya mata. Jangan lagi kesini membawa mata duniawi. Ini iman hakiki, iman pada ilahi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.