Literasi Tak Akan Mati

0
203
Gayeng, Forum Literasi PC PMII Lamongan

Oknews.co.id – Lamongan, PC PMII lamongan mengadakan bincang-bincang peluang dan tantangan gerakan literasi di Lamongan bekerjasama dengan pustaka Bergerak Indonesia, di Barata Cafe Lamongan, (10/10/2019) Sore. Dengan diikuti 55 peserta.

Perwakilan dari Pustaka Bergerak Indonesia, Fathan Faris Saputro sekaligus Founder Rumah Baca Api Literasi mengatakan,

“Saat ini di zaman pemakaian gadget semakin merajalela dan sinyal internet bisa didapatkan di berbagai tempat, anak-anak dan remaja jauh lebih suka bermain ponsel daripada membaca buku. Jika mereka pergi ke pusat perbelanjaan, mereka akan memilih pergi ke toko pakaian atau toko mainan, alih-alih ke toko buku. Jika mereka ada di rumah, mereka lebih senang menonton televisi atau YouTube dibanding melirik buku dalam lemari. Di Indonesia, televisi lebih berguna untuk menyiarkan sesuatu dibandingkan lewat buku.”

Orangtua pun lebih bangga bila anaknya bisa terkenal di sosial media melalui foto-fotonya, dibanding bangga jika anak rajin membaca buku dan menulis. Padahal, banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan dari membaca buku. Tidak harus buku pelajaran atau ensiklopedia. Tetapi dari membaca novel atau buku cerita pun, anak dan remaja bisa mendapat informasi yang tidak didapat di buku pelajaran. Anak dan remaja juga bisa memetik pesan dari buku yang dibaca, seperti nilai moral dan pelajaran kehidupan. Ketika membaca buku, juga dapat memperkaya kosa kata, membuat mereka lebih fasih dalam berbicara. Kosa kata yang kaya akan berguna bila anak bercita-cita menjadi pembicara. Tambahnya

Sedangkan manfaat yang bisa didapat dengan menulis adalah seseorang akan lebih kritis dalam berpikir, dapat menyampaikan apa yang dipikirkan, berimajinasi, lebih kreatif dan pastinya akan sangat berguna di dunia pendidikan dan dunia kerja nanti. Jika kita melihat minat baca anak-anak di dunia, Indonesia menjadi salah satu negara dengan minat baca cukup rendah. Tertinggal dari negara-negara lain di luar sana, seperti Jepang, Inggris, atau Rusia. Minat baca rendah pada anak juga bisa disebabkan oleh lingkungan yang tidak cinta membaca.

Dua tahun terakhir, pemerintah sudah mulai mengadakan gerakan literasi untuk mendukung anak agar semakin mencintai membaca, seperti Tantangan Membaca, Gerakan Literasi Sekolah, dan lain-lain. Ke depannya, semoga pemerintah bisa semakin mendukung gerakan literasi dan mematangkan kurikulum pendidikan di Indonesia.

Pemerintah dapat memperbanyak sarana-sarana untuk membaca, seperti memperbanyak buku bermutu di perpustakaan umum dan perpustakaan sekolah, mendirikan taman baca mini, serta taman yang nyaman untuk membaca. Fasilitas yang banyak mendorong anak mencintai membaca. Jika anak sudah cukup besar, ketika ke toko buku, orangtua dapat mengizinkan anak memilih buku kesukaannya sendiri. Namun harus diingat, orangtua tidak boleh mengizinkan anak membaca buku yang belum sesuai umurnya. Tetap batasi anak dalam memilih buku yang sesuai dengan umurnya, dan juga genre yang sesuai.

(Ahmad Husain)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.