Makna Taklif dan Konsekuensinya

0
42

Oleh: Ust Nugraha Hadi Kusuma

 

Taklif, sebagaimana yang dikonsepkan di atas, mengandung isyarat akan kepastian adanya pihak yang memberi atau melimpahkan beban kepada pihak yang menerimanya, yaitu mukallaf. Pihak yang memberi beban dimaksud dalam kajian tasyri’ al-Islami, diistilahkan dengan, al-Hakim (الحاكم )  atau al-Syari’   ( لمشرع )   ,  atau  al-Musyarri’  ( المشارع )  . Telah terjadi ijma’ atau, tidak ada perselisihan pendepat di kalangan umat muslimin bahwa, hukum-hukum syara’ itu berasal dari Allah SWT sesudah pengutusan Rasul (Rasul Allah) dan sampainya (jangkauan) da’wah.  Pemunculan hukum-hukum dimaksud, baik dengan jalan (thariqah) nash al-Qur’an dan al-Sunnah, maupun melalui perantaraan mujtahid.  Yang disebut terakhir ini disebabkan karena, peranan mujtahid itu hanyalah melahirkan atau mengeluarkan hukum-hukum syara’ dari dalil-dalilnya, bukan menjadi sumbernya.

Meskipun amat jelas bahwa al-Syari’ah itu berasal  dari  Allah,  tetapi  karena  al-Syari’ah itu untuk manusia dan,  manusia dalam kemanusiabiasaannya ini amat tidak mungkin menerima al-Syari’ah secara langsung dari Allah, maka mediator antara Allah dengan manusia dipersiapkan oleh Allah sendiri, yaitu Rasul (Rasul Allah).  Kaitannya dengan al-Syari’ah dalam proses tersebut, al-Syeikh Muhammad Nawawi menyatakan bahwa, agama (al-Din) dalam identifikasi ketentuan/aturan, adalah al-Syari’ah itu sendiri. Al-Syari’ah yang dimaksud ialah sesuatu apa saja  (ما )    dari hukum-hukum yang disyari’atkan oleh Allah melalui lisan Nabi Muhammad SAW. Dalam pernyataan tersebut ada statemen ‘melalui lisan Nabi Muhammad’ yang berarti bahwa pada akhirnya al-Syari’ah itu muncul pada muara lisan Nabi Muhammad.  Jadi, Syari’ah dan pensyari’atannya itu sebetulnya ada di tangan Nabi sebab, Nabi sendirilah yang berfungsi sebagai mediator. Dalam fungsi ini, Nabi (Muhammad) itu juga mengemban tugas Rasul Allah (Utusan Allah) yang berarti Allah mengutus Nabi Muhammad untuk menyampaikan al-Syari’ah kepada manusia. Al-Syari’ah yang disampaikan dan diberlakukan kepada manusia itu harus berbentuk fisik (materi) meskipun berasal dari Yang Maha Bukan Fisik karena, penerimanya adalah manusia (yang fisik).

Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul Allah yang mengemban al-Syari’ah itu, bisa dikatakan bahwa beliaupun adalah al-Syari’ karena, ada syari’ah yang secara teknis tidak ditampung dalam al-Syari’ah itu.  Keadaan inilah yang memperlihatkan bahwa sesuatu yang dibawa atau didatangkan oleh Nabi Muhammad SAW  (ما جــاءبــه محــمد )    itu menjadi dasar keyakinan.  Artinya, apapun yang dibawa oleh Nabi, wajib diyakini (diimani) berasal dari Allah SWT.  Karena itu, iman yang dituntut syara’, dikatakan oleh al-Syeikh Muhammad Nawawi ialah:

التصديق بجميع ما جاء به صلّى الله عليه وسلم مما من الدين بالضرورة.

Membenarkan segala sesuatu yang dibawa oleb Nabi Muhammad SAW; yang dibenarkan itu ialah segala sesuatu yang tidak bisa dibantah lagi kebenarannya.

Yang dimaksud ‘membenarkan’  ( التــصد يق )    ialah pernyataan hati yang teguh, baik keteguhannya itu berdasarkan dalil, dan inilah yang dikatakan ma’rifah, maupun berdasarkan taqlid.  Sedangkan yang dimaksud ‘pernyataan hati’ ialah, hati itu menyatakan:   رضيت بما جاءبه النبى صلى الله عليه وسلم   (aku rela  terhadap  segala sesuatu yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Konsekwensi keharusan beriman kepada segala sesuatu yang dibawa atau diajarkan oleh Nabi Muhammad itu, memberi isyarat bahwa Nabi Muhammad sendiri sebagai Rasul Allah pun harus diimani.  Kerasulan Muhammad dan segala sesuatu yang dibawanya, yakni al-Syari’ah. adalah satu kesatuan. Keharusan beriman kepada Muhammad sebagai Rasul Allah itu merupakan makna dari kalimat Syahadat, kesaksian bahwa Muhammad itu Rasul Allah. Menurut al-Syeikh Muhammad Nawawi, pengutusan (kerasulan) Nabi,  Muhammad  itu  ialah,  kepada  seluruh  makhluk  Allah (الى جميع الخلق )    . Yang dimaksud seluruh makhluk Allah ialah: manusia, jin, ya’juj, ma’juj, malaikat, seluruh nabi, umat-umat terdahulu sejak Nabi Adam sampai hari kiyamat, diri Nabi Muhammad sendiri, dan segala yang tidak berakal.

Pengutusan (kerasulan) Nabi Muhammad kepada dan untuk segenap mahluk Allah itu secara fungsional, al-Syeikh Nawawi membedakannya menurut pendapat-pendapat ulama sebagai berikut:

  1. Yang disepakati oleh para ulama (ijma’), kerasulan Nabi Muhammad itu ada dua fungsi, yaitu:
  2. Fungsi dan muatan taklif(pembebanan) yakni, kerasulan Nabi Muhammad kepada manusia dan jin  ( الثــقلين )   ;
  3. Fungsi dan muatan tasyrif(pemuliaan) yakni kerasulan Nabi Muhammad kepada segala sesuatu yang tidak mempunyai akal   (التى لا تعقل )
  4. Yang diperselisihkan oleh para ulama  ( مختلــف فيه  )yaitu kerasulan Nabi Muhammad kepada Malaikat; ada yang berpendapat dalam fungsi dan muatan taklif sesuai dengan kodrat malaikat, dan ada yang berpendapat dalmn fungsi dan muatan. tasyrif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.