Memahami Islam dari Sebuah Catatan Kritis Kaum Tertindas

0
267

Oleh: Nugraha Hadi Kusuma

Kenyataan bahwa peradaban islam pernah berada di posisi puncak peradaban dunia tidak terbantahkan oleh para pengamat sejarah. Saat itu, islam menjadi agama yang kosmopolit , inklusif, terbuka, dan mampu berinteraksi dengan berbagai peradaban manapun dibelahan bumi. Ketika itu, umat islam tampil dengan penuh percaya diri ( self confident) berhadapan dan berinteraksi dengan peradaban dunia yang kita kenal dengan peradaban Grico Roman. Umat islam merupakan umat yang eksis dalam peran dan dinamika zaman. Hal ini disebutkan oleh Nurcholish Madjid bahwa umat islam memandang diri mereka sebagai bagian kemanusiaan universal dan berada dalam lingkungan kewarganegaraan dunia dengan penuh percaya diri.

Dalam kaitan ini, kaum muslimin sangat yakin bahwa kecemerlangan (the golden era) atau kejayaan islam tercapai , salah satunya, berkat semangat tauhid. Tauhid telah menjadi spirit dan sumber energi bagi umat islam dalam menatap masa depan peradaban mereka. Selain itu, tauhid memiliki fungsi praksis sebagai energi yang membantu melahirkan perilaku dan keyakinan yang kuat untuk mentransformasikan kehidupan sehari-hari seorang muslim dan sistem sosialnya. Dalam kaitan ini, Hasan Hanafi menjelaskan bahwa akidah merupakan keimanan dan jiwa rakyat yang sedang revolusi, yang merupakan tuntutan zaman modern.

Sayangnya, seperti yang pernah disinyalir oleh Jamaluddin al-Afghani, seorang reformis kebangsaan Afghanistan (lihat Nikki R. Keddie:1968), yang menyebabkan runtuhnya peradaban islam adalah terjadinya kerusakan pada sistem dan semangat tauhid. Tauhid yang semestinya mengandung kekuatan revolutif dan memilikiperspektif universal dan inklusif telah berubah menjadi konsep ketuhanan milik kelompok yang sempit. Atau, menurut istilah Farid Esack, citra tuhan Yang Maha Agung berubah menjadi parokial atau sebagai milik kelompok kecil manusia.

Akibatnya, selain umat islam menjadi bangsa terbelakang dalam sejarah peradaban modern, dan dalam banyak kasus, umat islam juga menderita rasa minder dan rendah diri (inferiority complex) yang disebabkan oleh kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan ketertinggalan. Kemudian, dicarikan pelarian dari kondisi ini dalam bentuk kekerasan masif, seperti bom bunuh diri dan sejenisnya. Kemiskinan iti tidak saja terjadi pada buruknya mutu gizi makanan dan perumahan sebagai bentuk dari lemahnya sumber daya manusia pengelola pembangunan, atau pada hal-hal yang bersifat material. Tetapi, juga sudah sampai pada tahap kemiskinan yang menyeluruh, baik dalam struktur sosial mupun moral dan spiritual.

Memang, sangat ironis jika melihat fakta bahwa umat islam yang dilukiskan dalam al-Qur’an sebagai umat terbaik harus hidup terisolir serta termarginalkan. Hal tersebut disebabkan oleh terlalu banyak yang mengisi kantong-kantong kemiskinan,penghias permukiman-permukiman kumuh, serta kesatuan umat yang ternyata terlihat rapuh. Umat islam tersebar dalam kepingan-kepingan tribalisme kemanusian yang menyakitkan. Lihat misalnya fenomena Iran, Irak, Libya, Kuwait, Maroko, Sudan, Afghanistsan, Tajikistan, Uzbekistan, Turki, Pakistan, Saudi Arabia, Somalia, dan lani-lain.

Umat islam di indonesia jumlahnya terbesar di seluruh dunia. Sayangnya, sebagian besar elite umatnya sedang digerogoti penyakit kronis berupa korupsi yang serius dan degradasi moral yang memprihatinkan. Selain itu, sebagian besar umatnya juga perlu memiliki paham keagamaan yang representatif dan memadai, bukan paham konvensionalisme,konservativisme, dan sangat simbolik. Kenyataan itu seolah-olah memperlihatkan bahwa umat islam bukan lagi umat yang dipersatukan oleh nilai-nilai islam melalui semangat tauhid, yang menyebabkan umat islam menjadi komunitas marginal di negerinya sendiri, serta menjadi umat yang terbelakang dalam sisi peran yang seharusnya dapat dimainkan.

Keprihatinan serupa juga pernah dikemukakan oleh Yusuf al-Qardhawi. Menurutnya, keterbelakangan umat islam saat ini disebabkan oleh umat islam tidak lagi menjalankan islam yang autentik. Umat islam telah meninggalkan substansi ajaran islam yang sesungguhnya memiliki pengaruh besr dalam kehidupan umat sepanjang sejarah. Umat islam saat ini sudah terlalu jauh meninggalkan konsep ijtihad dan jihad. Para mujtahid bergerak dengan serius dibidang pemahaman keagamaan serta membawa panji keilmuan dan kecemerlangan. Sedangkan, para mujahid membawasenjata berjuang dalam membela dan memelihara ajaran Allah Swt. dengan besi yang kuat.

Reaksi dan apa yang harus kita perbuat?

Pertama, orang-orang beragama harus berani mendiskusikan kembali secara kritis tentang konsep tertindas dan ketertindasan , miskin dan kemiskinan. Kemudian,mereka juga sebaiknya bertanta, apa makna kehadiran agama dalam konteks ketertindasan dan kemiskinan tersebut?

Sebagai sebuah perspektif,ketertindasan ialah tidak tersedianya ruang untuk berekspresi dalam rangka menghadirkan diri sebagai sosok manusia yang otonom dan merdeka. Oleh karena itu, orang tertindas adalah orang yang tidak bisa hidup bebas dan tanpa kemungkinan fasilitas yang memadai untuk mengembangkan diri dan hidupnya sebagai manusia pribadi maupun komunitas  secara utuh.

Dalam kaitan ini, terdapat orang yang tertindas karena agama dan keberagamaan. Maksudnya, agama diajarkan secara sempit, tidak mendidik, kecuali mengontrol manusia hanya dalam pendekatan halal-haram secara oposisi biner, hitam –putih. Agama membelenggu pikiran dan hati, sehingga cara pandang tidak luas dan tidak terbebaskan. Manusia yang konon diciptakan dengan seperangkat akal dan hati harus dikekang sedemikian rupa. Manusia yang diberi akal justru harus diyundukkan. Padahal, justru dengan agama pula, acap kali manusia yang satu tergelincir melakukan pemusnahan atas yang lain karena perbedaan cara pandang tentang agama.

Itulah sebabnya, tidak sedikit orang meninggalkan praktik-praktik keagamaan, dan menjadi sekuler dan atau humanis saja. Ketika agama tidak memiliki ruang yang cukup untuk bertanya, mengkritisi, mengeksplorasi pemikiran, dan mencoba bereksperimen – sebaliknya, orang beragama justru dikungkung dalam tembok yang tinggi dan sempit , yang diciptakan atas nama menjaga kemurnian dan kesucian agama-, saat itulah sebenarnya ketertindasan pada ranah agama sedang bekerja dan beroprasi menindas umat beragama karena keberagamaan.

Sementara itu, kemiskinan , secara sederhana, dapat dipahami sebagai ketersediaan sandang, papan, dan pangan yang tidak memadai. Kemiskinan finansial sanggat tidak mengenakkan. Namun kemiskinan yang paling menyengsarakan, selain tidak terpenuhinya kebutuhan pokok,adalah terampasnya dinamika perkembangan dan proses kesempurnaan diri manusia.  Kemudian hal tersebut menjelma dalam bentuk kebodohan ,fanatisme, serta pelabelan atas diri sendiri dan orang lain. Yang baik adalah diri atau kelompok sendiri, sementara orang lain dan kelompok yang berbeda sebagai kafir-nista dan rendah. Anggapan kelompok lain yang jahat-karir merupakan gambaran nyata dari miskinnya daya pikir dan imajinasi.

Agama harus diaktifkan untuk membebaskan kaum tertindas dan kemiskinan. Keberagamaan harus menjadi rambu-rambu pembebasan ditengah keterkungkungan dan ortodoksi yang kental dan pekat.

Kita harus berani bertanya dan menjawab tentang hakikat beragama dan cara agama membebaskan ( dalam pengertian liberasi). Kita harus berani kritis tentang sesuatu yang hakiki,mendasar, abadi,indah, dan membebaskan. Kita harus brani melihat sesuatu  yang terikat pada zaman, budaya dan lingkun gan tertentu,serta penafsiran dan aliran tertentu.

Selain itu, yang tidak kalah pentingnya juga ialah kita harus berani bertanya, apakah sekama ini agama terlanjur menjadi alat kekuasaan dan media untuk mencapai kekuasaan sekaligus berselingkuh dengan kekuasaan?

Selain itu, dalam beragama, kita juga harus memiliki keberanian dalam mengembangkan kecerdasan intelektual, rasionalitas, dan logika beragama tanpa harus menyangkal dan mengabaikan unsur-unsur spiriyualitas dan supranatural dari agama. Sebab, betapapun mengutamakan prinsip materialistis,manusia selalu berhadapan dengan sesuatu yang mysterium, tremendum et fascinosum, sebagaimana dinyatakan oleh Rudolf Otto.

Kedua, meminjam istilah “Teologi Pembebasan Kemiskinan” yang dikembangkan oleh Uskup Oscar Arnulfo Romero dan Elavador, maka secara umum, teologi pembebasan dapat pahami dari kehadiran agama yang menjelma sebagai simbol-seperti megahnya bangunan rumah-rumah ibadah,masjid,gereja sinagoge, pura, vihara, kelenteng, dan lain sebagainya-yang harus lebih bermakna bagi orang miskin dan tertindas. Masjid, gereja, dan rumah ibadah lainnya harus menjadi “rumah” bagi orang miskin. Serta, peran imam juga sangat penting dalam mengambil tanggung jawab secara penuh untuk membangun wilayanh kolaborasi dalam melakukan pembebasan bagi kaum miskin. Rumah ibadah seharusnya bukan hanya dipahami sebagai bangunan fisik ,melainkan juga proses integrasi antara peran kenabian (profetik) dengan pelayanan pembebasan dan penyelamatan.

Akhirnya, sebagai seorang yang masih mempercayai agama, sudah saatnya umat beragama tidak perlu merasa dan menganggap bahwa diri dan kelompoknya sebagai pemain utama dan bisa melakukan segalanya dalam hal membebaskan kaum tertindas dan mengentaskan kemiskinan.  Umat beragama perlu membangung kerja sama dengan berbagai pihak, dan tentunya juga dengan penganut agama lain.

Umat beragama harus berani jujur mengakui bahwa masing-masing masih terlalu jauh dari realisasi kerja-kerja kemanusiaan. Maka, tentu sangat logis jika kita membangun sinergi dengan umat beragama yang lain . tentu, ini akan menjadi kekuatan moral yang lebih kokoh dihadapan lembaga publik dan pemerintah.

Umat beragama harus mempersatukan energi nyang terserak-serak dalam satu ikatan solidaritas sosial kemanusiaan. Sisi kemanusiaan ini adalah sanggat inheren dan built-in dalam agama yang autentik dan membebaskan. Dan, dalam konteks hari ini, hal tersebut bisa diwujudkan  melalui dialog karya dan kerja sama dalam lingkup yang lebih luas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.