Memakan Bangkai Teman

0
498

Tulisan Prof. Komarudin Hidayat yang inspiratif

Terdapat peringatan sangat keras di dalam Alquran bagi orang beriman agar menjauhi sikap prasangka buruk dan berbuat gibah, yaitu membicarakan kejelekan teman sendiri dari belakang. Coba simak Alquran surat 49: 12. “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah sikap suka berprasangka karena sebagian prasangka itu tidak selalu benar dan medatangkan dosa. Jangan pula kamu mencari-cari kesalahan orang lain serta saling menggunjingkan teman, membicarakan hal-hal yang kamu pandang buruk di saat temanmu tidak di tempat. Yang demikian itu, bukankah sama halnya kamu menikmati bangkai temanmu, yang tentu saja menjijikkan?”

Di sini Alquran menggunakan ungkapan sangat keras. Mencari-cari kesalahan teman lalu dijadikan bahan gunjingan itu tak ubahnya memmakan bangkai temannya.

Mengapa? Karena ketika bergunjing itu mungkin sekali merasa enak dan asyik layaknya orang lapar memperoleh makanan untuk disantap. Lalu, mengapa bangkai? Karena mungkin sekali apa yang digunjingkan itu tidak benar, mengandung fitnah, sementara orang yang dijadikan sasaran tidak bisa membela diri karena tidak berada di tempat, sehingga tak berdaya bagaikan mayat atau bangkai.

Kalau saja yang berbuat gibah sadar pasti merasa jijik karena yang tengah dinikmati itu oleh Alquran diidentikkan dengan bangkai. Berprasangka buruk (suuzan) adalah pangkal fitnah.

Orang membangun cerita negatif tentang orang lain, padahal itu hanya imajinasi yang muncul dari rasa iri dan dengki. Jika cerita itu sampai ke orang lain atau yang bersangkutan, sangat mungkin akan berkembang lebih jauh lagi menjadi kebencian, permusuhan, dan perkelahian.

Akibat yang ditimbulkan dari fitnah skalanya bisa lebih besar dan lebih berbahaya dari pembunuhan. Fitnah ini mudah sekali menyelinap melalui jargon dan mekanisme demokrasi, misalnya saja di saat menjelang pilkada atau pemilu.

Antar calon dan pendukungnya tidak segan-segan mengintip, mencari-cari dan mengorek kekurangan lawan. Jika ditemukan, kekurangan yang lalu dibesar-besarkan. Hal-hal gang sifatnya pribadi lalu dibuka secara terbuka ke publik.

Yang lebih bahaya lagi, jika ternyata tidak ditemukan kesalahan, maka diciptakan berita bohong untuk menjatuhkannya. Makanya dalam masyarakat muncul kesan kuat, politik itu kotor, penuh kebohongan, dan saling membunuh lawannya. Kata politik dan demokrasi yang pada dasarnya bagus serta mulia, lalu ternodai menjadi kotor.

Munculnya teknologi komunikasi yang semakin canggih seperti handphone, masyarakat begitu cepat menyebarkan berita gosip dan fitnah. Hanya dengan copy paste sebuah berita yang kadang bernada fitnah menyudutkan seseorang atau kelompok, bisa tersebar hanya dalam hitungan menit, menyebar ke ratusan ribu orang.

Ada lagi fitnah itu ditampilkan menggunakan bahasa gambar atau foto yang sudah diubah dan dimanipulasi. Foto wajah dan tubuh orang lain namun dimanipulasi seakan orang yang sama, dimaksudkan untuk memperolok.

Di samping fungsinya yang positif untuk menjaga pertemanan dan berbagi ilmu, media sosial juga banyak disalahgunakan untuk membunuh karakter seseorang (character assassination). Semua ini jelas tidak sejalan dengan etika Alquran. Persoalannya memang tidak mudah bagaimana mengendalikan dan mencegah lalu lintas informasi yang merusak.

Oleh karenanya menjadi sangat penting dan mendesak membangun daya tahan dimulai dari keluarga. Masing-masing saling mengingatkan yang lain untuk menjaga lisan.

Berbicaralah yang baik-baik, atau pilihlah diam untuk menjaga lisan, begitu sabda Rasulullah saw. Bahkan saya ketemu beberapa keluarga yang sangat pelit menonton televisi karena dinilainya tidak mendidik bagi anak-anak dan remaja. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.