Memperingati Hari Kesaktian Pancasila diatas Bangsa yang Menderita

0
97

Oleh: Izzun Islami Akbar

 Memasuki bulan Oktober, tepat pada tanggal 1 Oktober Bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila.

Pancasila sebagai ideologi bangsa indonesia yang menjelaskan pada dunia  bahwa ideologi bukan hanya sekedar diakui sebagai ideologi semata namun juga diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Perumusannyapun disepakati oleh para pendiri bangsa yang memiliki kesadaran tinggi bahwa bangsa Indonesia itu majemuk, beraneka ragam suku, agama, dan bahasa. Pancasila tidak disepakati dengan meniadakan keragaman itu, akan tetapi mempersatukannya sebagai kekuatan bangsa Indonesia, karena jika keragaman itu dihilangkan maka bangsa ini akan terpecah belah.

Oleh karena itu semua ekspresi para pendiri bangsa yang telah berjuang harus dihargai dan dihormati sebagai bagian esensial dalam kehidupan berpancasila. Dalam menyikapi keragaman perlu disadari bahwa keragaman itu sangat penting dalam tatanan negara.

Pancasila adalah bagian yang berhasil mengintegrasikan sukuisme. Namun, akhir-akhir ini bangsa terpecah belah karena Pancasila hanya dijadikan simbol yang tak berarti, tragedi kemanusiaan yang terjadi di Wamena adalah bukti bahwa keragaman bangsa telah mati dan itu bentuk pelecehan terhadap Pancasila. Tidak peduli bahwa tragedi itu adalah bagian tindakan represif kelompok bersenjata terhadap rakyatnya sehingga menunjukkan bahwa negara telah gagal menjaga eksistensi Pancasila di tanah papua.

Pemerintah telah diberikan amanah oleh negara beserta sumberdayanya untuk mewujudkan nilai-nilai yang terkandung didalam Pancasila bagi seluruh kehidupan bernegara sehingga mewujudkan negara yang rukun, tentram.

Jika tragedi kemanusiaan yang terjadi di Wamena tak kunjung reda,  maka bangsa Indonesia akan mengalami represif luar biasa hingga kemungkinan bangsa ini akan hancur.

Oleh karena itu, kritikan kepada pemerintah yang menjabat saat ini haruslah ditampung sebagai evaluasi dalam menciptakan kebijakan bukan merasa sombong telah duduk di kursi pemerintahan lalu melupakan atau bahkan anti kritik.

Untuk itu, jika pemerintahan hanya dijadikan kursi pemujaan bagi yang mendukukinya maka BERHENTILAH karena rakyat tidak membutuhkan pemerintah yang angkuh, sombong, anti kritik seperti dirimu yang menjabat saat ini.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.