Memudarnya Kesadaran Berpikir dan Tupoksi Mahasiswa

2
583

OKNEWS.CO.ID – MALANG, Memasuki jenjang pendidikan yang paling tinggi, tentunya ide ide imajinatif dan pemikiran kritis pedagogis harus terasah dengan baik oleh para Mahasiswa. Cara yang paling utama ialah dengan sistem atau cara belajar didalam kelas. Bagaimanapun Mahasiswa adalah predikat tertinggi dari proses pembelajaran selama proses menuntut ilmu. Dalam prosesnya, masih banyak sistem yang mengikat Mahasiswa itu sendiri untuk mengeksplorasi lebih jauh dan memahami betul apa yang sudah mereka dapatkan dari dosen atau pengampu mata kuliah ataupun terhadap lingkungan sekitarnya seperti teman-teman sekelas lainnya. Sebagian faktor yaitu apatisnya Mahasiswa terkait pergulatan akademis di forum forum akademik sehingga pemikiran kritis yang biasa disematkan juga tupoksi Mahasiswa itu sendiri menjadi memudar.

Dalam prosesnya untuk mencapai apa yang dikatakan sebagai “Agent Of Change” dan “Agent Of Control” tentu sangatlah tidak mudah untuk mencapai dua kata tersebut sebagai prinsip dasar atas Mahasiswa itu sendiri, harus terjadi gemblengan secara intelektis dari dua arah antara subjek dengan objek didalam proses pembentukannya. Salah satunya adalah dalam proses belajar yang dimana Mahasiswa sebagai objek dari pembelajaran tentulah memiliki kebebasan dalam mengeksplorisasi ide ide dan pikirannya, sementara Dosen sebagai subjek tentulah bisa salah dan tidak akan tahu akan semuanya. Didalam pelaksanaannya proses tersebut dilarang untuk terjadinya pembicaraan satu arah, selain karena akan membunuh ide ide cemerlang mahasiswa itu sendiri, tentu juga akan sangat mempengaruhi kepercayaan terhadap diri mereka. Sangat disayangkan jika didalam proses belajar tadi hanya terdapat satu arah pembicaraan saja, kalau bisa saya terminologikan proses tersebut ibarat kita didalam Mekanisme Bank, dimana Mahasiswa memiliki hak terbatas yaitu cuma sekedar mencatat, mendengar,serta menganggukkan kepala. Lain halnya dengan Dosen yang memiliki hak absolut yang disetiap penyampaiannya tidak timbul pertanyaan pertanyaan yang hingga akhirnya menimbulkan persepsi baru bahwasanya penyampaian dari Dosen tadi merupakan kebenaran yang mutlak dan tak perlu diuji lagi. Hal ini yang ditakutkan jika benar benar terjadi, yaitu kurangnya asupan ide baru yang diprediksi nanti Mahasiswa Cuma mengetahui penyampaian tadi secara deskriptif dan tidak mengerti makna filosofisnya, sehingga dalam pengimplementasiannya mahasiswa terlihat gagap dengan lingkungannya dan akan dijauhkan dari prinsip dasar Mahasiswa itu sendiri.

Memang dalam bertanya dan menimbulkan pembicaraan dua arah atau lebih dapat memicu stimulus kita untuk berusaha lebih berpikir pedagogis sehingga dari proses berpikir tersebut dapat mengantarkan kita terhadap kesehatan berpikir atau yang biasa kita kenal dengan akal sehat, yaitu dimana Mahasiswa tidak hanya mengerti penyampain dari Dosen tadi secara deskriptif saja tentu juga Mahasiswa secara tidak langsung telah berpikir secara filosofis dan akan bisa mengerti secara keseluruhan tentang apa makna didalamnya.

Selain hambatan dari kesungkanan dan sukarnya Mahasiswa untuk berbicara, ada hal lain yang membuat Mahasiswa itu sendiri menjadi seperti itu, adalah faktor lingkungan sekitar yaitu teman sebaya yang memang termasuk dalam kategori bisa dikatakan apatis terhadap pembahasan tersebut yang membuat mereka ingin cepat cepat mengahiri pertemuan sehingga Mahasiswa yang ingin berbicara dan bertanya itu tadi menjadi bimbang dalam mengambil keputusannya untuk melanjutkan retorikanya. Memang sering saya temui kejadian seperti lebih mempertimbangkan keinginan teman sebaya tadi yang ingin pertemuan atau pembahasan bisa cepat selesai ketimbang bisa memuaskan hasrat dari Retorika Dosen atas pertanyaan yang diajukan.

Dalam kasus ini, selain Dosen atau Pengampu mata kuliah menjadi paling mendominasi di forum atau kelas yang diajar, juga mahasiswa akan jauh untuk dikatakan sebagai mahasiswa yang berpendidikan, penelitian dan yang paling penting adalah pengabdian terhadap masyarakat sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwasanya point tersebut adalah tugas wajib Mahasiswa, dikarenakan ada faktot yang mengikat untuk Mahasiswa berproses untuk mencapai point tersebut serta ke apatisan sebagian Mahasiswa dalam forum forum intektis.

Proses ini sangat serius untuk dibicarakan, selain Mahasiswa sebagai agen sosial dan generasi emas Negara juga Mahasiswa adalah suatu representasi dari gerakan perubahan yang sudah terbukti dalam sejarah gerakan gerakan sosial. Bagaimanapun kasus yang bisa dibilang degradasi intelektual ini harus bisa di tangani, tentunya dalam mencapai keinginan tersebut bisa dimulai dari apa yang saya paparkan diatas, yang dimana intinya adalah pembentukan pola berpikir kritis dan menumbuhkan kepercayaan terhadap diri Mahasiswa.

( Fahrur Rosi )
( Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.