Menggunakan Teori Konflik Untuk Merebut Kekuasaan

0
100

Oleh : Nugraha Hadi Kusuma

Pendekatan konflik menganalisis sistem sosial secara makro. Berbeda dengan pendekatan fungsional-struktural yang menekankan pada solidaritas dan stabilitas, pendekatan konflik menekankan pada ketimpangan dan perubahan sosial. Selain itu, menurut pendekatan ini, kelompok-kelompok yang ada di dalam masyarakat terlibat dalam pertarungan terus-menerus (endless conflict) demi memperebutkan sumber daya yang langka.

Pendekatan konflik dapat ditelusuri pada tulisan-tulisan determinisme ekonomi Karl Marx di abad ke-19 yang mengetengahkan konflik antara kelas ekonomi proletar versus borjuis dalam masyarakat industri. Namun, dalam periode selanjutnya, determinisme ekonomi Marx sulit untuk terus dipertahankan sebagai satu-satunya sumber konflik sosial. Satu hal yang masih diterima oleh pendekatan konflik Marx adalah, hubungan-hubungan di dalam masyarakat penuh dengan ketegangan sebagai respon atas ketimpangan sosial. Ketimpangan ini memicu munculnya konflik. Konflik diselesaikan melalui konsensus yang menghadirkan norma-norma, nilai-nilai, serta lembaga-lembaga baru dan dengan demikian konflik ini melahirkan perubahan sosial. Konsensus pasca konflik ini disumsikan bersifat sementara karena masih menyisakan sumber konflik dan ketimpangan lalu menyebabkan konflik baru. Demikian siklus pemikiran konflik yang berlangsung secara dialektis: tesis-antitesis-sintesis-tesis.

Selain Marx, pendekatan konflik juga diperkaya oleh pemikiran Max Weber, Georg Simmel, C. Wright Mills, Lewis Coser, Randall Collins, Ralf Dahrendorf ataupun Eric Olin Wright. Mereka adalah pemikir-pemikir konflik pasca Marx yang melihat bahwa konflik tidak hanya muncul akibat masalah ekonomi melainkan pula konflik antarkelompok yang disebabkan perbedaan agama, perbedaan ras, perbedaan etnis, konsumen versus produsen, gagasan, pemerintah pusat versus pemerintah lokal, penduduk lokal versus pendatang, ataupun penduduk kota versus penduduk desa.

Max Weber, sebagai contoh, juga mengakui produktivitas kondisi ekonomi guna menghasilkan ketimpangan dan konflik dalam masyarakat. Namun, Weber menambahkan bahwa power (kekuasaan) dan prestise juga harus dianggap sebagai sumber ketimpangan lain selain ekonomi. Bagi Weber, power adalah kemampuan seseorang untuk menerjemahkan kehendaknya kendati mendapat tentangan dari orang lain dalam suatu hubungan sosial. Sementara itu, prestise adalah anggapan sosial seputar apa yang dihormati ataupun dihargai, yang tidak melulu diartikan secara ekonomi.

Wright Mills adalah salah satu pembangun teori konflik kontemporer. Ulasannya yang masyhur mengenai power elit. Mills membuktikan bahwa dalam keseharian pengambilan keputusan penting yang melibatkan negara Amerika Serikat, keputusan tersebut diambil oleh segelintir power elite. Power elite adalah klik kecil yang terdiri atas pengusaha papan teratas Amerika Serikat, politisi, dan penjabat-pejabat militer. Dalam pengambilan keputusan, terjadi conflict of interest di antara klik-klik tersebut.

Secara umum, pendekatan konflik memiliki tiga asumsi utama dalam memandang sistem sosial, yang terdiri atas:

  1. Kompetisi memperebutkan sumberdaya langka (uang, waktu luang, kekuasaan, pengaruh) merupakan jantung dari semua hubungan sosial. Kompetisi adalah ciri utama dari hubungan sosial, bukan konsensus.
  2. Ketimpangan Struktural. Ketimpangan kekuasaan dan pendapatan (reward) adalah inheren (melekat) di dalam setiap struktur sosial. Individu atau kelompok yang memperoleh posisi diuntungkan karena mendominasi sumberdaya langka selalu cenderung mempertahankannya, sementara pihak selain mereka berupaya merebutnya.
  3. Perubahan Sosial. Perubahan sosial muncul sebagai konsekuensi logis dari konflik antara kepentingan-kepentingan yang bersaing dalam mana hal ini berbeda dengan pendekatan struktural-fungsional yang memandang proses adaptasi-lah yang mengakibatkan perubahan sosial.

Seperti telah disebutkan, dalam perkembangannya, pendekatan konflik tidak lagi memandang cara produksi ekonomi sebagai mono sumber konflik. Pendekatan konflik yang lebih baru ini dicontohkan oleh pendekatan konflik-gender dan pendekatan konflik-rasial.

Sesuai namanya, pendekatan konflik-gender fokus pada situasi konflik dan ketimpangan antara laki-laki dan perempuan. Pendekatan ini terutama dianut oleh gerakan-gerakan sosial berideologikan feminisme yang terdiri atas para feminis yang memperjuangkan kesetaraan sosial, ekonomi dan politik perempuan dengan laki-laki. Gerakan feminis memandang ketimpangan dalam konteks gender melekat pada struktur masyarakat dan dipelihara oleh budaya patriarkis. Laki-laki umumnya diberikan peran publik, sementara perempuan peran privat. Pembagian peran ini yang terutama dikritik oleh kalangan feminis karena membuat laki-laki cenderung mendominasi dan mengurangi hak-hak kaum perempuan. Perempuan sulit mengembangkan individualitas mereka karena diciptakannya pembatasan-pembatasan sosial yang dikukuhkan oleh budaya patriarkis.

Pendekatan konflik-rasial fokus pada konflik dan ketimpangan yang muncul akibat perbedaan kategori etnis dan ras. Jika pendekatan konflik-gender menjelaskan konflik diakibatkan oleh dominasi peran laki-laki atas perempuan, maka pendekatan konflik-rasial menganggap bahwa konflik diakibatkan oleh dominasi kelompok ras atau etnis tertentu atas kelompok ras atau etnis lainnya, baik itu dari sudut pandang warna kulit, anutan agama, penghasilan, keturunan, tingkat pendidikan, harapan hidup, bahkan kesehatan.

 

Interaksi-Simbolik

Jika pendekatan fungsional-struktural dan konflik cenderung fokus pada level makro-sosial, maka pendekatan interaksi-simbolik cenderung fokus pada level mikro-sosial. Pendekatan bercorak mikro-sosial lebih tertarik mengamati hubungan sosial lewat interaksi sosial antar manusia dalam situasi tertentu. Situasi-situasi tertentu mendorong pada perilaku sosial yang spesifik.

Pendekatan interaksi-simbolik didefinisikan sebagai kerangka teori yang menganggap masyarakat tidak lain merupakan produk interaksi antar individu dalam kegiatan sosial sehari-hari. Menurut interaksi-simbolik yang disebut sebagai masyarakat tidak lain adalah totalitas interaksi antarindividu dan antarkelompok yang berlangsung di dalamnya.

Pandangan ini juga menganggap masyarakat tidak lebih sekadar realitas yang dikonstruksi oleh aneka individu dan kelompok saat mereka berinteraksi satu sama lain. Interaksi menciptakan realitas dan realitas tersebutlah yang mempengaruhi bagaimana individu-individu memandang orang lain.

Melalui cara pandang ini munculah konsep identitas. Pendapat-pendapat Max Weber adalah akar dari pendekatan interaksi-simbolik. Weber pernah berujar bahwa gagasan-lah yang sesungguhnya membentuk suatu masyarakat dan gagasan pula yang mengubah masyarakat. Gagasan lahir melalui interaksi antarindividu.

Selain Weber, interaksi-simbolik juga berhutang pada George Herbert Mead, yang menyatakan bahwa kepribadian seseorang merupakan hasil dari pengalaman-pengalaman sosial yang pernah diterimanya. Selain Mead, pendekatan ini juga berhutang pada Erving Goffman yang memperkenalkan model dramaturgis. Dalam model ini, Goffman mempersamakan aktor-aktor sosial seperti aktor-aktor dalam seni peran (drama). Aktor-aktor sosial melatih peran sosial mereka di backstage dan menunjukkan aksi peran mereka terhadap aktor-aktor sosial lain di frontstage. Jika audiens (aktor-aktor sosial lain) di frontstage menerima peran sosial yang mereka mainkan, maka aktor-aktor tersebut akan mempertahankan perannya. Namun, jika audiens menolak atau tidak menyukai, maka aktor-aktor akan kembali ke backstage untuk melatih kembali peran secara lebih baik atau bahkan mengubahnya untuk kemudian diterapkan kembagi dalam suatu interaksi sosial.

Asumsi-asumsi utama yang menjadi pijakan pendekatan interaksi-simbolis adalah:

(1) Pentingnya makna, dalam mana perilaku, gerak-gerik atau kata-kata bisa memiliki makna yang beragam. Makna akan suatu hal bagi partisipannya (penggunanya) harus dipahami jika seseorang hendak memahami perilaku manusia, dan metodenya dikenal dengan nama verstehen;

(2) Makna muncul dari hubungan, dalam mana disaat terjadi perubahan hubungan, maka makna-makna pun turut berubah, dan ;

(3) Setiap orang selalu menegosiasikan makna, di mana setiap orang selalu bersikap kritis atas pemaknaan orang lain atas tindakannya. Setiap orang memainkan peran aktif dalam negosiasi setiap hal yang dimaknai baik oleh kita sendiri maupun orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.