Muhammadiyah dan Pendidikan

0
75

Oleh: Ucik Fauzia

Muhammadiyah adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia yang didirikan pada tanggal 18 Nopember 1912. Tujuan berdirinya organisasi tersebut dilatar belakangi karena pada jaman itu masyarakat indonesia hidup dalam kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Melihat kondisi seperti itu seorang kyai bernama Ahmad Dahlan tergerak hatinya melakukan perubahan agar lepas dari kondisi tersebut.
Ia membuat sebuah wadah yang bisa dijadikan sarana perjuangan dan dakwah yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran. Organisasi itu oleh KH. Ahmad Dahlan untuk diberi nama Muhammadiyah, sebuah organisasi yang berakar dari gerakan sosial rasional untuk menumbuhkan gerakan tauhid yaitu Al Quran surat Ali Imron ayat 104 dan surat Al Maun.

Adat istiadat lokal nusantara yang berisi paham dinamisme dan animisme serta tradisi Islam merupakan bentuk adaptasi tidak tuntas yang dipahami sebagian masyarakat Indonesia adalah bentuk ketidakmurnian ajaran Islam. Dalam prakteknya, hal–hal yang berhubungan dengan dasar akidah islam yang menolak segala bentuk kemusyrikan, TBC (Taqlid, Bid’ah, dan Churafat) sangat bertentangan dengan prinsip–prinsip ajaran islam masih diperlihatkan oleh umat Islam. Sehingga yang menjadi pilihan utama untuk umat Islam Indonesia yaitu dengan memurnikan ajaran islam.

Sebelum organisasi ini didirikan, KH. Ahmad Dahlan dikenal sebagai orang yang mempunyai semangat belajar tinggi dan hal tersebut membuat ia terus belajar dari guru satu ke guru lainnya. Hingga, saat pertama kalinya beliau berkesempatan menunaikan ibadah haji, beliau tak lupa menyempatkan diri dalam menggali ilmu dari para syeikh di Makkah.

Awal langkah perjuangan KH. Ahmad Dahlan pada saat mengembangkan lembaga pendidikan yang memadukan antara bidang agama dengan bidang umum ditandai pada tahun 1910. Dimana saat itu bidang umum diajarkan di sekolah–sekolah Belanda, sedangkan bidang agama hanya diajarkan di pondok-pondok pesantren dan surau-surau. Menurut Ahmad Dahlan ilmu agama dan ilmu umum adalah dua hal yang sama penting untuk mendapatkannya, baik itu dunia maupun akhirat. Oleh karena itu, di ruang tamu tempat kediamannya, KH. Ahmad Dahlan mulai membuka ”sekolah”.

Kehadiran Muhammadiyah adalah sebagai pembaharu peningkatan pendidikan yang menggabungkan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan atas prakarsa/peranan dari Ahmad Dahlan. Dalam pengembangan pendidikan agama modern setidaknya ada dua sumbangan utama yang telah diberikan oleh muhammadiyah. Pengajaran dan kurikulum pendidikan serta perumusan metodologi yang memadukan pengetahuan agama dan keterampilan pekerjaan (vocation) merupakan jasa hasil rintisan muhammadiyah. Untuk membangun bangsa yang besar, menurut Ahmad Dahlan, nilai dasar pendidikan yang perlu ditegakkan dan dilaksanakan adalah :

Pendidikan Akhlak,
Suatu pendidikan yang mendasarkan pada Al Quran dan Assunnah dalam upaya untuk menanamkan karakter manusia.

Pendidikan individu,
Yaitu suatu pendidikan yang menyeimbangkan antara perasaan dan akal, dunia dan akhirat, keyakinan dan intelek, pertumbuhan mental dan jasmani untuk meningkatkan kesadaran individu.

Pendidikan sosial,
Yaitu suatu pendidikan yang kesediaan dan keinginan hidup bermasyarakat berusaha untuk ditumbuhkan.

Kesadaran baru, mulai muncul di kalangan muslim terpelajar Indonesia dalam menangani keadaan pendidikan islam Indonesia yang mengalami keterpurukan pada permulaan abad ke-20. Untuk menemukan penyelesaian yang terbaik, ide – ide dan pemikiran yang membawa pada perubahan dan kemajuan sangat mereka terima. Iktikad untuk melakukan pembaharuan dalam bidang pendidikan dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan dan para pemimpin Muhammadiyah. Perubahan yang dimaksud terdiri atas dua aspek, yakni cita–cita/keinginan dan teknik/proses.

Upaya dalam membangun umat islam yang memiliki pandangan luas, berakhlakul karimah, bersedia berjuang untuk kesuksesan masyarakatnya alim di bidang agama dan mengerti persoalan keduniaan, yang selanjutnya akan mencetuskan ide intelek-ulama dan ulama-intelek serta cakap merupakan aspek di bidang cita-cita. Dengan demikian pendidikan Muhammadiyah menargetkan kepada setiap lulusan supaya memiliki akhlak yang mulia, cerdas, akidah yang benar, trampil dan mengabdi kepada masyarakat.

Sejak organisasi Muhammadiyah berdiri, pendidikan karakter sebenarnya sudah ada. Karena Muhammadiyah memiliki model yang berbeda dalam kemasannya, hal ini mendorong pendidikan Muhammadiyah dapat berkembang dengan pesat. Sistem administratifnya tertata rapi pun begitu juga dengan sistem pembelajarannya. Model pendidikan yang diterapkan oleh Muhammadiyah didasarkan pada nilai-nilai tertentu.

Pertama, Nilai-nilai yang berasal dari Al Quran dan Sunnah Nabi merupakan rujukan dari pendidikan Muhammadiyah.

Kedua, dalam ikhtiar menjalankan tujuan pendidikan, pendidikan Muhammadiyah dilakukan dengan ikhlas dan inspiratif.

Ketiga, kerjasama dan asas musyawarah dengan selalu memelihara sikap kritis diterapkan oleh pendidikan Muhammadiyah.

Keempat, prinsip inovasi dalam mencapai tujuan pendidikan selalu dipelihara dan dihidupkan oleh pendidikan Muhammadiyah.

Kelima, tradisi atau budaya berpihak pada kelompok yang mengalami kesengsaraan dimiliki oleh pendidikan Muhammadiyah dengan melaksanakan proses-proses kreatif.

Hal itu sesuai dengan perkembangan dan tantangan yang terjadi pada masyarakat Indonesia.

Empat peran penting yang dimiliki oleh muhammadiyah, diantaranya yaitu agen perubahan sosial, agen gerakan modernisasi, serta usaha sebagai suatu gerakan “membendung secara aktif” sasaran – sasaran Kristenisasi di Indonesia serta sebagai kekuatan sosial politik.

Perubahan dan peningkatan masyarakat, proses–proses pencerahan melalui jalan modernisasi telah dilakukan oleh Muhammadiyah dalam wilayah gerakan sosial. Maksudnya, masyarakat muslim Indonesia dalam era modernisasi merupakan sebuah cara untuk melihat peristiwa – peristiwa yang terjadi di nusantara.

Sebagai bangsa yang modern harkat dan martabat bangsa Indonesia telah ditingkatkan oleh Muhammadiyah di era modernisasi ini. Perlahan–lahan model-model tradisional yang pernah menjadi bagian kehidupan bangsa ini terjadi perubahan. Sejak awal sebenarnya Muhammadiyah telah mengembangkan model-model pendidikan yang modernisasi. Model pendidikan yang mengadopsi ala Barat kristen adalah Model pendidikan Muhammadiyah yang sudah disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia.

Pembangunan rumah sakit dan panti asuhan adalah salah satu bentuk modernisasi Muhammadiyah yaitu berupa pelayanan sosial yang dilakukan oleh Barat Kristen dalam melakukan pelayanan gerejawi.

Dapat dikatakan bahwa lahirnya sebuah tren baru pendidikan islam Indonesia adalah modernisasi pendidikan Islam model Muhammadiyah. Disamping pelajaran agama di sekolah– sekolah pemerintah berhasil dimasukkan, Muhammadiyah juga mereformasi lembaga pendidikan Islam dan melahirkan model baru pendidikan Islam.

Daftar Pustaka
Yusra, Nelly (2018). MUHAMMADIYAH: GERAKAN PEMBAHARUAN PENDIDIKAN. POTENSIA : Jurnal Kependidikan Islam Vol. 4, No 1, 114-115.
100 tahun muhammadiyah menyinari negeri. Majelis pustaka dan informasi PP Muhammadiyah
Yusron Asrofi, Kyai Haji Ahmad Dahlan Pemikiran dan Kepemimpinannya (Yogyakarta : Yogyakarta Offset, 1983) hlm. 51
Solihin Salam, Muhammadiyah dan Kebangunan Islam di Indonesia (Jakarta: NV Mega,1965), 97.

Editor: Baba Barry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.