‘Muhammadiyah Factor’, Jokowi Kunci Kemenangan Untuk Kedua Kalinya

1
935

Investigasi   Operasi Rahasia Muhammadiyah dan Jokowi  (Edisi -4 Habis)

Masih tercatat dengan jelas ketika Ketua PP Muhammadiyah, DR Haedar Nashir mengulas pertalian Muhammadiyah dengan perjuangan bangsa ini.

“Banyak contoh bagaimana Muhammadiyah melahirkan pejuang kemerdekaan,” ujar Haedar di sela pelantikan pengurus Perguruan Tapak Suci Putera Muhammadyah di Yogya Sabtu 27 Oktober 2018.

Harmonis dan Dekatnya Muhammadiyah dengan Soekarno

Haedar mencontohkan sejumlah pendiri bangsa yang sebenarnya kader Muhammadiyah tulen namun belum banyak diketahui.

Misalnya tentang presiden RI pertama Soekarno yang merupakan salah satu murid pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan. Ahmad Dahlan di masa silam kerap bolak balik ke Surabaya, menyambangi kost milik Cokroaminoto. Di tempat itu Ahmad Dahlan mengajar Soekarno dan anak muda pergerakan lain seperti Agus Salim juga Semaun.

Sampai akhirnya Soekarno resmi menjadi kader Muhammadiyah di tahun 1930. Bahkan Soekarno setelah itu, menjadi pengurus majelis pendidikan dasar dan menengah milik Muhammadiyah di Bengkulu.

Soekarno pun lantas beristrikan Fatmawati, seorang kader Aisyiah- organ Muhammadiyah, yang juga anak tokoh Muhammadiyah Bengkulu. Fatmawati sendiri merupakan ibu dari sejumlah tokoh salah satunya Megawati Soekarnoputri.

“Kadang orang Muhammadiyah juga tidak tahu (sejarah Muhammadiyah dengan Soekarno),” ujar Haedar.

Begitupula saat Haedar diundang untuk menghadiri ceramah di kediamaan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Saat Haedar mengulas bahwa Soekarno juga merupakan kader Muhammadiyah, sejumlah kader PDIP saat itu juga baru mengetahui penggalan sejarah tersebut.

Begitu juga Djoeanda Kartawidjaja yang melahirkan Deklarasi Juanda juga merupakan kader Muhammadiyah.

“Jadi betapa erat sebenarnya pertalian Muhammadiyah dengan pergerakan nasional, hanya kurangnya Muhammadiyah tak suka gembar-gembor, tak suka bicara, bahkan tak suka berslogan ‘NKRI harga mati’,” ujar Haedar. Haedar menegaskan meski tak suka gembar gembor tentang NKRI, namun Muhammadiyah sangat mencintai NKRI.

“Meskipun bentuk cinta kita (baca: Muhammadiyah) pada NKRI itu tidak selalu memanjakan, tapi juga meluruskan (jika ada yang dinilai salah arah),” ujarnya.

Sayangnya, ujar Haedar, seringkali sikap kritis Muhammadiyah dianggap sebagai bentuk sikap anti pemerintah dan kekuasaan.

“Kritisnya Muhammadiyah itu bentuk cinta kepada bangsa, agar tak salah arah,” ujarnya.

Di sisi lain, tidak sedikit yang meragukan kemelekatan Sukarno dengan Islam. Namun, sejak di Surabaya saat tinggal di kediaman HOS Tjokroaminoto, Sukarno sebenarnya memiliki literasi kuat tentang Islam.

Bisa jadi keraguan itu disebabkan dua hal. Pertama karena genealogi keluarga Sukarno dari pihak ayah yang merupakan penganut theosofi Jawa, sementara dari jalur ibu penganut Hindu Bali (Badri Yatim, Soekarno, Islam dan Nasionalisme,1985)

Kedua, sebagaimana diungkap M Ridwan Lubis dalam Soekarno dan Modernisme Islam (2010), bagi Sukarno alih-alih Islam, justru nasionalisme yang dijadikan bingkai dalam melembagakan pemikiran dan ideologinya dalam partai politik.

Namun, tidak sedikit pula yang menemukan pertautan Sukarno dengan Islam sehingga Sukarno, dikatakan dengan tegas oleh Dawam Rahardjo sebagai pemikir Islam.

Di Bengkulu, pertautan Sukarno dengan Islam kian rapat. Seperti penuturan Sukarno dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2011), Sukarno ditemui tokoh Muhammadiyah setempat Hassan Din, ayah Fatmawati.

Sukarno diminta menjadi guru di lembaga pendidikan Muhammadiyah. Rupanya, Hassan Din mengajak Sukarno karena mengetahui rekam jejak Sukarno sejak di Ende yang berkorespondensi dengan A Hassan.

Bagi Hassan Din, korespondensi itu menunjukkan ada kesepahaman antara paham keagamaan Sukarno dan A Hassan yang disebut di beberapa laporan penelitian, misalnya dalam Gerakan Modern Islam di Indonesia: 1900-1942 yang ditulis Deliar Noer, sebagai tokoh Islam modern sebagaimana Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Itu artinya, Sukarno memiliki pandangan modernis sebagaimana Muhammadiyah. Di Bengkulu, pemikiran modernis Sukarno, antara lain, terlihat pada kritiknya terhadap tradisi penggunaan tabir sebagai pemisah jamaah laki-laki dan perempuan dalam upacara keagamaan.

Di Bengkulu, Sukarno tidak hanya menaruh harapan pada Muhammadiyah, tetapi juga semakin tertantang mewujudkan harapannya itu karena kemudian menjadi anggota resmi dan pengurus Muhammadiyah.

Selepas pengasingan di Bengkulu lalu menjadi presiden, Sukarno merawat identitas kemuhammadiyahannya. Bisa dikatakan, Sukarno dengan Muhammadiyah dipertemukan dengan visi keislaman yang sama, yaitu Islam berkemajuan.

Dalam tulisan Sukarno bertajuk Islam Sontoloyo yang dimuat Panji Islam pada 1940, ia mengkritik paham dan praktik keberagamaan yang terbelenggu fikih yang mengutamakan tampilan lahiriah, mementingkan kulit, melupakan substansi isi atau jiwa.

Spirit dan kritik Soekarno terhadap kondisi keberagamaan umat Islam pada saat itu, masih memiliki relevansi dengan realitas kekinian di Tanah Air, terutama menjelang perhelatan politik akbar pada 17 April 2019.

Tema yang diusung pada tanwir di Bengkulu, “Beragama yang Mencerahkan”, didasari pada hasil pembacaan terhadap kondisi keberagamaan yang terseret sedemikian jauh dalam hiruk-pikuk politik elektoral.

Politik elektoral di berbagai tempat, terbukti menciptakan keterbelahan masyarakat. Dalam kondisi seperti ini, agama seharusnya dihadirkan untuk memberikan pencerahan (tanwir) kepada publik. Terutama pada dimensi etika perilaku politik sehingga baik perilaku politik elite maupun massa lebih mengutamakan keadaban. Misalnya, menjauhkan buruk sangka dan memberikan citra negatif kepada pasangan calon tertentu dengan pertimbangan keagamaan.

Sebagaimana kritik Sukarno terhadap orientasi keberagamaan yang lebih mementingkan bentuk luar, penilaian berikutnya adalah pencitraan kepada pasangan tertentu karena didasarkan tampilan lahiriahnya bukan pada substansinya.

Hal ini, misalnya, terlihat pada kegaduhan di ruang publik terkait kemampuan pasangan tertentu dalam membaca Alquran dan mengimami shalat. Untuk meyakinkan penilaian ini, muncullah tantangan agar pasangan dites membaca Alquran.

Apa relevansi penilaian tersebut terhadap kompetensi pasangan dalam mengelola negeri yang begitu kompleks ini? Tentu tidak ada! Lebih memprihatinkan, berkembang pula citra terhadap pasangan sebagai pihak yang anti terhadap agama tertentu.

Kondisi ini diperparah tindakan segelintir elite yang mencoba menyusupi politik elektoral dengan kepentingan membangun kuasa terhadap kelompok lain dengan mengatasnamakan paham keagamaan tertentu.

Keinginan membangun hegemoni atas nama paham keagamaan tertentu akan menggiring publik dalam perdebatan tak berujung, terkait dimensi keagamaan tertentu yang dalam konteks Islam sebenarnya lebih banyak berada pada wilayah fikih.

Ada pelajaran berharga dari sejarah Islam yang perlu diingat kembali. Kekuasaan yang dijadikan alat memproteksi paham keagamaan tertentu tidak hanya menimbulkan ketegangan di level elite dan akar rumput.

Namun, itu juga mengakibatkan kriminalisasi, persekusi, bahkan penghukuman kelewat batas oleh penguasa yang meyakini secara absolut paham keagamaannya. Pada masa kekhalifahan Dinasti Abbasiyah ada suatu episode yang disebut minhah (ujian).

Kala itu, penguasa menyiksa bahkan membunuh ulama yang berseberangan. Salah satu korbannya, Ibnu Hanbal yang dipenjara disertai siksaan selama 28 tahun karena bertahan pada paham bahwa Alquran bukan makhluk, pemerintah meyakini paham sebaliknya.

Karena realitas keberagamaan masih berkutat di wilayah fikih dan pada bagian lain, agama dijadikan alat mendapatkan kepentingan politik sesaat, maka wajar pula bila agama belum mampu berperan sesuai misinya.

Agama memiliki misi profetik, misi kenabian. Bagian dari misi profetik agama adalah memastikan publik mengapresiasi dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban. Dengan demikian, terciptalah masyarakat beradab.

Harapan kita, mudah-mudahan tanwir di Bengkulu mampu memberikan pencerahan terhadap keberagamaan kita.

Meski demikian, perkenalan Soekarno dan Muhammadiyah telah terjadi sejak tahun 1916-an saat masih di Surabaya. “Dalam suasana yang remang-remang itu datanglah Kiai Ahmad Dahlan di Surabaya dan memberi tabligh mengenai Islam. Bagi saya (pidato) itu berisi regeneration dan rejuvenation daripada Islam,” kata Soekarno di depan Muktamirin Muktamar Setengah Abad 1962 di Jakarta.

Lebih lanjut Soekarno menyatakan, “Nah, suasana yang demikian itulah, saudara-saudara, meliputi jiwa saya tatkala saya buat pertama kali bertemu dengan Kiai Haji Ahmad Dahlan. Datang Kiai Haji Ahmad Dahlan yang sebagai tadi saya katakan memberi pengertian yang lain tentang agama Islam. Malahan ia mengatakan, sebagai tadi dikatakan oleh salah seorang pembicara, ”Benar, umat Islam di Indonesia tertutup sama sekali oleh jumud, tertutup sama sekali oleh khurafat, tertutup sekali oleh bid’ah, tertutup sekali oleh takhayul-takhayul. Dikatakan oleh Kiai Dahlan, sebagai tadi dikatakan pula, padahal agama Islam itu agama yang sederhana, yang gampang, yang bersih, yang dapat dilakukan oleh semua manusia, agama yang tidak pentalitan, tanpa pentalit-pentalit, satu agama yang mudah sama sekali.”

Bung Karno juga menuliskan cerita pertemuannya dengan Kyai Dahlan ini dalam buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi’ bab ‘Memudakan Pengertian Islam’. Buku yang sempat dilarang pada rezim orde baru itu memang berisi pemikiran yang ditujukan kepada pemuda Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan. Karena ketertarikannya itu, tidak dilewatkannya kesempatan untuk mendengarkan tabligh dari Kyai Dahlan saat di Surabaya. “Tatkala umur 15 tahun, saya simpati kepada Kiyai Ahmad Dahlan, sehingga mengintil kepadanya.”

Setelah resmi menjadi anggota Muhammadiyah pada tahun 1938, delapan tahun berikutnya, 1946, Bung Karno meminta jangan dipecat dari Muhammadiyah. Ini karena perbedaan paham politik, orang Muhammadiyah umumnya berafiliasi kepada Masyumi sedangkan Soekarno adalah pendiri PNI (Partai Nasional Indonesia).

Bung Karno menegaskan bahwa, “Sekali Muhammadiyah, Selamanya Muhammadiyah.”

Bung Karno juga menuliskan pemikirannya mengenai memajukan Islam dalam buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi’ dalam bab ‘Memudakan Pengertian Islam’. Buku yang sempat dilarang pada rezim orde baru itu memang berisi pemikiran yang ditujukan kepada pemuda Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan.

“Nah, suasana yang demikian itulah, saudara-saudara, meliputi jiwa saya tatkala saya buat pertama kali bertemu dengan Kyai Haji Ahmad Dahlan. Datang Kiyai Haji Ahmad Dahlan yang sebagai tadi saya katakan memberi pengertian yang lain tentang agama Islam. Malahan ia mengatakan, sebagai tadi dikatakan oleh salah seorang pembicara: “Benar, umat Islam di Indonesia tertutup sama sekali oleh jumud, tertutup sama sekali oleh khurafat, tertutup sekali oleh bid’ah, tertutup sekali oleh takhayul-takhayul. Dikatakan oleh  DahlanKyai, sebagai tadi dikatakan pula, padahal agama Islam itu agama yang sederhana, yang gampang, yang bersih, yang dapat dilakukan oleh semua manusia, agama yang tidak pentalitan, tanpa pentalit-pentalit, satu agama yang mudah sama sekali,” tutur Haedar Nashir mengutip Bung Karno pada sebuah acara di UMM.

Bung Karno bertemu dengan KH Ahmad Dahlan di rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya. Pak Tjokro merupakan ‘bapak kost’ Bung Karno sekaligus sosok yang menginspirasi dirinya untuk menjadi singa podium.


“Nah, dengan demikianlah makin kuatlah, saudara-saudara, keyakinan saya bahwa ada hubungannya erat antara pembangunan agama dan pembangunan tanah air, bangsa, negara dan masyarakat. Maka oleh karena itu, saudara-saudara, kok makin lama makin saya cinta kepada Muhammadiyah. Tatkala umur 15 tahun, saya simpati kepada Kyai Ahmad Dahlan, sehingga mengintil kepadanya, tahun ’38 saya resmi menjadi anggota Muhammadiyah, tahun ’46 saya minta jangan dicoret nama saya dari Muhammadiyah: tahun ’62 ini saya berkata, “moga-moga saya diberi umur panjang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jikalau saya meninggal, supaya saya dikubur dengan membawa nama Muhammadiyah atas kain kafan saja,” tutur Haedar kembali mengutip Bung Karno.

Atas kiprah Bung Karno itu, PP Muhammadiyah juga mengusulkan agar proklamator itu dijadikan pahlawan nasional. Usulan itu diajukan pada tahun 2012 silam lewat MPR.

Ir Soekarno atau Bung Karno, kita mengenalnya selama ini adalah sebagai bapak Proklamator Republik Indonesia. Sosok Soekarno banyak dipuja-puji masyarakat Indonesia. Ia yang lahir pada 6 Juni 1901 dari ayah, seorang priyayi jawa bernama Raden Sukemi Sosrodiharjo, sangat kental diwarnai sinkretisme ajaran Kejawen. Ayahnya menemukan jodoh di Bali, yakni Idayu Nyoman Rai, seorang wanita dari kasta Brahmana. Perkawinan itu tidak direstui oleh keluarga Idayu karena sang mempelai pria bukan dari keturunan Brahmana. Di Bali, Raden Sukemi yang mendapatkan sertifikat untuk mengajar sekolah pribumi, sempat menjadi asisten professor Van Der Tuuk, Sarjana Belanda ahli bahasa Indonesia, yang giat meneliti bahasa Bali. Kakak perempuan Sukarno, Soekarmini, lahir di Singaraja-Bali, sedangkan Soekarno sendiri lahir di Surabaya dengan nama Kusno Sosro Sukarno.

 

Namun tahukah anda bahwa Soekarno juga merupakan warga Muhammadiyah?

Soekarno jatuh hati pada Muhammadiyah yang berilian dengan ide pembaruan. Ketertarikannya dengan Muhammadiyah sejalan dengan ikhtiar Soekarno untuk membuka tabir kemajuan peradaban di balik kata Islam dari tokoh-tokoh pencerahan Islam seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani, sampai proklamator kebangkitan Islam Ali Pasha, Arabi Pasha, Ahmad Bey Agayeff, dan Mohammad Ali, yang menghiasi wawasan keislaman dan kemuhammadiyahannya.

 

Sewaktu muda, ia kagum terhadap K.H. Ahmad Dahlan yang mengumandangkan kebebasan berijtihad, dan dakwah nya untuk membebaskan umat dari khurafat dan bid’ah. Bahkan di depan para peserta Muktamar Muhammadiyah yang berusia setengah abad berpidato, menyanjung peran pendiri organisasi yang lahir di Yogyakarta, K.H. Ahmad Dahlan. Presiden pertama itu memuji K.H. Ahmad Dahlan, yang mampu menerangkan Islam lebih hidup dan menangkap semangat zaman.

“Dalam suasana yang remang-remang itu datanglah Kiai Ahmad Dahlan di Surabaya dan memberi tablig mengenai Islam. Bagi saya (pidato) itu berisi regeneration danrejuvenation daripada Islam. Sebab, maklum, ibu meskipun beragam Islam (tapi) berasal dari agama lain, (beliau) orang Bali. Bapak meskipun agama Islam, beliau adalah beragama teosofi. Jadi (orang tua) tidak memberi pengajaran kepada saya tentang agama Islam.”

 

Soekarno muda yang sangat energetik itu, menyerang doktrin taklid dan sikap menutup pintu ijtihad. Ia menantang kekolotan, ketakhayulan, bid’ah dan anti-rasionalisme yang dianut oleh masyarakat Muslim Indonesia. Ia berpendapat, bahwa Islam telah disalah-tafsirkan, karena umat Islam dan para ulamanya lebih percaya dan berpedoman kepada hadist-hadist dan pendapat ulama, dari pada berpedoman kepada al Qur’an. Ia pernah meminta kiriman buku kunpulan hadist Bukhari, karena ia mencurigai beredarnya hadist-hadist palsu yang bertentangan dengan al Qur’an. Di sini Soekarno muda sudah memasuki pemikiran kritik hadist, yang hanya baru-baru ini saja menjadi perhatian studi akademis.

 

Ketika Soekarno dipindahkan oleh Belanda dari Flores ke Bengkulen (Bengkulu), Soekarno bertemu dengan banyak tokoh Islam di sana salah satunya adalah H. Hasan Din, seorang tokoh Muhammadiyah Bengkulu dan resmi masuk menjadi anggota Muhammadiyah pada tahun 1938. Hasan Din memiliki anak perempuan cantik bernama Siti Fatimah yang kemudian diperistri Soekarno. Mungkin Anda tidak tahu, siapa Siti Fatimah? Beliau adalah Fatmawati, Ibunda Megawati Soekarno Putri.

 

Setelah menikah dengan Soekarno, Siti Fatimah mengganti nama dirinya dengan Fatmawati. Dari perkawinannya dengan Fatmawati, Soekarno dikaruniai 5 anak: Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarno Putri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.

 

Khadafi bangga dengan Soekarno, dan di Afrika selatan pun semangat ingin merdeka karena kata-kata Soekarno, dan Soekarno bangga sebagai Warga Muhammadiyah dan pemikiran Muhammadiyah. Sebagaimana isi pesan pesan Soekarno;

“Sekali Muhammadiyah tetap Muhammadiyah. Kata-kata ini bukan untuk Muhammadiyah saja, tapi juga untuk saya. Saya harap kalau dibaca lagi nama-nama anggauta Muhammadiyah yang 175.000 orang banyaknya, nama saya masih tercantum di dalamnya. Saya harap nama saya tidak dicoret dari daftar keanggautaan Muhammadiyah.” (Soekarno, 1957)

 

Tak hanya itu saja, menurut Manyur Suryanegera, seorang sejarawan dari Universitas Padjajaran Bandung mencatat, Bung Karnolah satu-satunya presiden di dunia yang minta jenazahnya diselimuti bendera Muhammadiyah; bukan Sang Saka Merah Putih, betapapun nasionalisnya dia sepanjang hidup.

”Moga-moga saya diberi umur panjang oleh Allah Subhanallah Wata’ala, dan jikalau saya meninggal dunia, supaya saya dikubur dengan membawa nama Muhammadiyah atas kain kafan saya”(Soekarno, 1962)

Memegang Kunci Kemenangan Jokowi

Muhammadiyah menjadi salah satu ormas Islam yang diharapkan memberikan dukungan terhadap capres-cawapres, baik pasangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang bertarung pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 nanti.

Upaya mendapatkan dukungan itu, terlihat pada kunjungan mereka ke kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah beberapa bulan lalu. Itu merupakan fenomena rutin yang selalu terjadi pada setiap gelaran politik akbar. Pada Pilpres 2014, Muhammadiyah juga didekati.

KH Ma’ruf Amin saat berkunjung ke kantor PP Muhammadiyah di Jakarta awal September lalu, tanpa tedeng aling-aling mengungkapkan, kunjungannya untuk mendapat dukungan dari Muhammadiyah.

Pertama, sikap Muhammadiyah yang tegas mengambil jalan tengah atau netral. Pilihan ini mudah dilakukan, mengingat pasangan yang bersaing di Pilpres 2019 tidak satu pun yang tercatat sebagai kader Muhammadiyah.

Namun, bukan karena pertimbangan ketiadaan kader Muhammadiyah yang ikut kontestasi Pilpres 2019, melainkan karena semata-mata watak Muhammadiyah yang sejak kelahirannya nonpolitik, meskipun bukan apolitis.

Karya klasik Alfian bertajuk, Muhammadiyah: The Political Behavior of a Muslim Modernist Organization Under Dutch Colonialism (1989), bisa kita rujuk untuk memahami watak Muhammadiyah yang konsisten dan teruji dalam usianya yang melampaui satu abad.

Menurut Alfian, pada Muhammadiyah melekat tiga ciri pokok. Pertama, Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan keagamaan. Kedua, Muhammadiyah sebagai agen perubahan sosial, dan ketiga, Muhammadiyah sebagai kekuatan politik.

Bukan partai politik, Muhammadiyah memiliki modal politik yang ikut menentukan arah kebijakan politik. Dalam konteks kebijakan kotemporer, melalui jihad konstitusi, Muhammadiyah berhasil melakukan uji materi terhadap Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi.

Jihad konstitusi merupakan perwujudan orientasi politik kebangsaan dan kerakyatan yang dipilih Muhammadiyah, alih-alih politik kekuasaan yang lazim ditempuh partai politik. Politik kebangsaan jauh dari hiruk-pikuk mobilisasi massa disertai bendera dan umbul-umbul.

Muhammadiyah dengan politik demikian menempuh jalan tenang dan ‘sunyi’. Tapi justru dengan menempuh jalan itu, Muhammadiyah, tegas George McTurnan Kahin lewat karya klasiknya, Nasionalisme & Revolusi Indonesia (2013), mampu menciptakan perubahan.

Kita nukil Kahin di halaman 121 dari bukunya, “Muhammadiyah tidak ubahnya anak sungai yang tenang tetapi dalam dan turut berkontribusi dalam arus nasionalisme politik dan secara diam-diam, tetapi berkelanjutan berhasil menghidupkan dan memperkuat arus tersebut.’’

Muhammadiyah mampu melakoni peran politiknya dengan lebih menyasar isu strategis kebangsaan dan kerakyatan karena dalam diri Muhammadiyah terdapat beberapa modal. Di urutan pertama adalah modal ideologi.

Ini merupakan modal yang terbentuk sebagai dialektika dan sintesa pembacaan terhadap ajaran Islam yang sempurna dengan pembacaan terhadap realitas empirik yang multidimensional dan kompleks.

Sedari kelahirannya, Muhammadiyah sama sekali tidak memiliki agenda counter ideology. Muhammadiyah lebih memilih mengisi Indonesia yang telah memiliki ideologi dan struktur mapan, dengan amal strategis yang bisa dinikmati masyarakat.

Tidak kalah pentingnya, modal kedua, yaitu intelektual. Muhammadiyah memiliki elite dengan kapasitas mumpuni dalam melakukan pembacaan secara radikal dan kritis terhadap berbagai persoalan masyarakat.

Sebagai tindak lanjutnya, Muhammadiyah, antara lain memiliki beragam amal usaha, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan filantropi. Modal ketiga, basis massa terutama di perkotaan meskipun belakangan perkembangan Muhammadiyah merambah pula ke pedesaan.

Muhammadiyah Ormas Islam Pertama yang Ucapkan Selamat pada Jokowi Pasca MK

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan pihaknya bersyukur karena Mahkamah Konstitusi sudah memutuskan sengketa hasil Pilpres. Putusan MK tersebut merupakan rujukan konstitusional bagi para pihak yang bersengketa dalam pemilu pilpres dan bagi segenap komponen bangsa.

“Kami mengucapkan selamat kepada pasangan Jokowi-Ma’ruf atas terpilihnya sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI 2019-2024. Selamat pula kepada Prabowo-Sandi yang menunjukkan sikap legawa yang menjadi contoh bagi keteladanan politik bangsa,” ujar Haedar dalam keterangan, Jumat (28/6/2019).

Tugas dan tantangan bersama bangsa Indonesia saat ini dan ke depan, kata Haedar sangatlah berat di berbagai bidang kehidupan. Karena itu, kata dia perlu tekad kesungguhan politik yang tinggi bagi pemegang mandat rakyat lebih dari kemenangan itu sendiri. Menurut dia, Indonesia juga memerlukan kebersamaan dari seluruh kekuatan nasional.

“Politik partisan 01 dan 02 sudah berakhir serta tidak perlu diperpanjang dalam isu dan kepentingan apapun, yang ada adalah satu keluarga besar Indonesia. Presiden dan Wakil Presiden untuk semua dan bukan untuk satu golongan pemilih dan pendukungnya saja, sehingga harus mengayomi dan menjadi pemimpin seluruh rakyat Indonesia. Rekonsiliasi politik dan kultural menjadi keniscayaan,” ungkap dia.

Haedar mengimbau kepada seluruh rakyat dan kekuatan bangsa untuk melangkah bersama meraih masa depan Indonesia berkemajuan. Dia juga berharap tidak perlu eforia dalam kemenangan dan juga menjauhi keterbelahan bangsa akibat sikap politik yang negatif dan ekses dari pemilu.

“Jangan sampai Indonesia terkapling-kapling dalam primordialisme dan pengkutuban politik, agama, dan golongan yang menyebabkan lemahnya persatuan Indonesia.
Indonesia pasca pemilu 2019 harus move-on merajut kebersamaan dan persatuan guna meraih kemajuan dan kejayaan bagi seluruh rakyat,” tandas dia.

Lebih lanjut, dia berharap elemen bangsa yang kuat secara politik dan ekonomi serta berbagai aspek kehidupan wajib berbagi, peduli, dan menunjukkan tanggungjawab kebangsaannya dalam membangun dan memajukan Indonesia. Dia meminta mereka tidak egois dan serakah.

“Musuh terbesar Indonesia saat ini bukan hanya keterbelahan politik, tetapi kesenjangan sosial ekonomi dan ketidakadilan. Agenda terberat Indonesia ialah mewujudkan sila Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkas dia.

laporan SRH Kusumadiningrat, Nuha, dan Uzlifah untuk Oknews.co.id

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.