Musibah dan Muhasabah

0
55

Oleh : Uzlifah

Saudaraku,
Adakalanya musibah merupakan sebuah ujian dari Allah Azza wa Jalla dan adakalanya pula musibah tersebut merupakan teguran atau bahkan laknat/adzab dari Allah Azza wa Jalla. Musibah bisa menjadi peluang mengoreksi batin. Boleh jadi musibah itu bersumber dari diri kita sendiri. Kita sendiri yang mengundang musibah. Dosa-dosa menutup kita dari kasih sayang Allah Azza Wa Jalla. Semua kesalahan dan kekhilafan yang kita perbuat baik terhadap Allah Azza wa Jalla maupun terhadap sesama manusia…

Ibtila’ adalah ujian yang secara bahasa berarti ikhtibar (penyelidikan) dan imtihan (percobaan), baik berupa kesulitan maupun kesenangan, kebaikan maupun keburukan…

Saudaraku,
Allah Azza wa Jalla memberikan ujian kepada manusia dengan tujuan menguji siapa hamba-Nya yang bersyukur atas ujian nikmat yang diperoleh dan siapa yang bersabar atas kesulitan yang menimpanya, agar diketahui siapa di antara hamba-Nya yang paling baik amalnya dan ibadahnya…

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”

(QS. Al-Anbiya: 35)

Ibnu Katsir mengatakan bahwa, makna “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya)”, artinya terkadang Allah Azza wa Jalla menguji dengan berbagai musibah dan terkadang dengan berbagai kenikmatan, agar Allah Azza wa Jalla mengetahui orang-orang yang bersyukur dari orang-orang yang kufur, orang-orang yang bersabar dari orang-orang yang berputus asa…

Sebagaimana perkataan Ali bin Thalhah dari Ibnu Abbas yang artinya: “Dan Kami menguji kalian”, dia mengatakan Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (cobaan), dengan kesulitan dan kelapangan, kesehatan dan rasa sakit, kekayaan dan kemiskinan, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan.” sedangkan firman-Nya yang berarti “dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”, adalah Kami akan memberikan ganjaran (balasan) atas amal kamu.

(Tafsir Al Qur’an Al Azhim juz V hlm. 342)

Saudaraku,
Ujian yang diberikan oleh Allah Azza wa Jalla disesuaikan dengan kadar dan kualitas keimanan seseorang serta sebagai sarana untuk menambahkan pahala bagi orang-orang yang bersabar. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari disebutkan bahwa orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi…

Seseorang terkadang sanggup bertahan di dalam keimanan saat mendapatkan kesulitan, akan tetapi justru hilang imannya tatkala mendapatkan kesenangan. Maka, bentuk ujian apapun yang Allah Azza wa Jalla berikan pada kita, kita sepatutnya senantiasa bersyukur dan bersabar.

Karena hakikatnya setiap ujian yang Allah Azza wa Jalla timpakan pada seorang mukmin sebagai pembersih dosa dan kesalahannya di dunia, sehingga tidak ada lagi siksa atas dosanya di akhirat. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Tidaklah seorang mukmin atau mukminah yang ditimpa suatu bala’ (cobaan) sehingga ia berjalan di bumi tanpa membawa kesalahan.”

“Senantiasa cobaan itu datang menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya, dan hartanya sampai dia berjumpa dengan Allah tanpa ada satupun dosa pada dirinya.”

(HR. Tirmidzi no. 2399)

Saudaraku,
Terkait ujian atau cobaan yang Allah Azza wa Jalla turunkan kepada hamba-Nya, Allah Azza wa Jalla menganjurkan untuk tetap bersabar, sebagaimana firman-Nya,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

(QS. Al Baqarah: 155).

Kemudian Allah Azza wa Jalla juga akan menurunkan azab kepada orang-orang yang gemar berbuat dosa dan maksiat. Sebagaimana Firman-Nya,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu.”

(QS. Asy Syura: 30)

Saudaraku,
Untuk meninggikan derajat seorang hambanya yang shaleh, terkadang Allah Azza wa Jalla memberikan ujian dan cobaan…

Sebagaimana penjelasan sebuah hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ ) . رواه الترمذي (2396) وحسنه ، وصححه الشيخ الألباني في “السلسلة الصحيحة” (رقم/146)

“Sesungguhnya agungnya pahala seiring dengan besarnya cobaan. Sesungguhnya Allah ketika mencintai suatu kaum, maka Ia akan mengujinya.

Siapa yang ridha maka Ia akan ridha dan siapa yang murka, maka Ia juga akan murka.”

(HR. Turmudzi No. 2396, hadits ini Hasan. Namun Al Albani menyatakan Shahih dalam kitab ‘Silsilah Shahihah’ No. 146)

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ
رواه أبو داود (3090) ، وصححه الألباني في “السلسلة الصحيحة” رقم/2599

“Sesungguhnya seorang hamba ketika didahului kedudukan di sisi Allah, di mana amalannya tidak sampai (kepadaNya), maka Allah akan mengujinya di badan atau harta atau anaknya.”

(HR. Abu Daud No. 3090, Hadits ini Shahih menurut Al Albani dalam kitab ‘Silsilah Shahihah’, No. 2599)

Saudaraku,
Jika kita telah melakukan berbagai kesalahan dan dosa, namun tidak juga berniat untuk bertaubat, maka musibah yang menghampiri kita bisa jadi merupakan azab Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya,

وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

“Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.”

(QS. An Nisaa: 79)

Saudaraku,
Selain ujian dan azab, Allah Azza wa Jalla juga memberikan teguran / peringatan kepada orang-orang yang Allah Azza wa Jalla inginkan suatu kebaikan padanya…

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
رواه الترمذي (2396) وحسنه ، وصححه الألباني في صحيح الترمذي

“Ketika Allah menginginkan hamba-Nya suatu kebaikan, maka disegerakan hukumannya di dunia.

Kalau Allah menginginkan hamba-Nya suatu kejelekan, maka dosanya ditahan sampai dibalas nanti di hari kiamat.”

(HR. Tirmidzi No. 2396)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah, senantiasa bersyukur dan bersabar atas ujian dari Allah Azza wa Jalla untuk meraih ridha-Nya…
Aamiin Ya Rabb.

Wallahua’lam bishawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.