Nasehat Untuk Yang Hidup, Hindari Caci Maki Arwah

0
52

Oleh: Uzlifah

Saudaraku,
Belakangan ini makin banyak orang-orang yang senang mencela, memfitnah, mengadu domba, provokatif, bahkan terhadap orang yang sudah meninggal dunia. Ini adalah perbuatan dzalim, yang apabila pelakunya tidak segera bertaubat maka akan mengundang siksa kemurkaan Allah Azza wa Jalla di dunia ini, dan di akhirat akan berada dalam kegelapan yang teramat dahsyat dan menakutkan…

Saudaraku,
Kita semestinya jangan membiarkan kesalahfahaman tumbuh di tengah masyarakat. Jangan ada potensi dan bibit perpecahan ataupun permusuhan. Tabayyun (konfirmasi) dan islah (perdamaian) adalah bagian dari kewajiban kita dalam menyelesaikan permasalahan. Dengan tabayyun dan islah kita harus meluruskan yang tidak lurus, mendamaikan yang berpotensi konflik dan menghilangkan kesalahfahaman…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِتَّقُوا اَلظُّلْمَ فَإِنَّ اَلظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ

”Takutlah kalian terhadap perbuatan mendzalimi orang lain, karena kedzaliman tersebut akan menyebabkan kegelapan pada Hari Kiamat.”

Saudaraku,
Mencela orang lain terlebih orang yang sudah meninggal dunia yang tidak mungkin orang tersebut dapat mengklarifikasi adalah sebuah perbuatan yang Allah Azza wa Jalla tidak menyukai hal tersebut. Karena biasanya, orang yang suka menghina dan mencela orang lain adalah mereka yang bersikap sombong. Orang yang mencela itu adalah orang yang sedang memikul kebohongan dan dosa yang sangat besar, Allah Azza wa Jalla telah menegaskannya,

وَٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ بِغَيْرِ مَا ٱكْتَسَبُوا۟ فَقَدِ ٱحْتَمَلُوا۟ بُهْتَٰنًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”

(QS. Al-Ahzab: 58)

Untuk itu, janganlah suka mencela orang lain, terlebih kita memang tidak tahu permasalahan yang sesungguhnya. Karena Allah Azza wa Jalla tidak menyukainya dan mereka yang berbuat demikian akan mendapatkan dosa yang begitu besar…

Saudaraku,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

لاَ تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ، فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا

“Janganlah kalian mencela mayat karena mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan.”

(HR. Bukhari no. 1393)

Berdasarkan hadits di atas, hukum asal mencela atau menghina seseorang yang sudah meninggal dunia adalah haram, karena terdapat kalimat larangan dalam hadits di atas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memberikan alasan larangan tersebut, yaitu “mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan.”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

وهذا عام فإنهم أفضوا إلى ما قدموا لانه أن كانوا من أهل الخير لا تضرهم وإن كانوا من أهل الشر فهي حقت عليهم فلا حاجة لهذا ولا لهذا

“Kalimat ini bersifat umum, karena sesungguhnya mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan. Jika mereka adalah orang baik, celaan itu tidaklah mencelakakan mereka. Jika mereka adalah orang jelek (jahat), mereka telah mendapatkan balasannya, sehingga tidak butuh ini dan itu.”

Saudaraku,
Alasan larangan mencela orang yang sudah meninggal tersebut juga terdapat dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ فَتُؤْذُوا الأَحْيَاءَ

“Janganlah kalian mengina mereka yang sudah mati, sehingga kalian menyakiti mereka yang masih hidup.”

(HR. Tirmidzi no. 1982, Shahih)

Menghina atau mencela orang yang sudah meninggal dunia akan menyakiti yang masih hidup, yaitu dari kalangan ahli waris dan kerabatnya…

Larangan tersebut bersifat umum, termasuk jika kita ketahui bahwa orang tersebut meninggal di atas kefasikan (melakukan dosa besar dan belum bertaubat sampai mati).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

يعني لا تعيبوهم ولا تذكروهم بسوء فإنهم افضوا إلى ما قدموا حتى لو كانوا فساقا في حال الحياة وماتوا على الفسق فإنك لا تعيبهم ولا تسبهم بفسقهم لا تكن فلان فعل اوفعل لانه افضى إلى ما قدم وحسابه على الله عز وجل

“Maksudnya, janganlah mencela mereka, dan janganlah menyebut-nyebut kejelekan mereka. Hal ini karena mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan, meskipun orang yang sudah meninggal tersebut adalah orang fasik semasa hidupnya dan mati di atas kefasikannya. Maka Engkau tidak boleh mencela dan menghina kefasikan mereka. Hal ini karena mereka telah menjumpai apa yang telah mereka kerjakan, dan hisab mereka di tangan Allah Ta’ala.”

Sebuah keterangan yang cukup jelas, bahwa membicarakan orang yang sudah meninggal itu dilarang. Orang yang sudah meninggal dunia tersebut sudah sampai pada masanya untuk bertanggung jawab kepada Allah Azza wa Jalla atas setiap amalan di masa hidupnya, kenapa masih perlu diperbincangkan amalan-amalan tersebut ? terlebih yang kesannya tidak mengenakkan, atau soal keburukannya. Jauh lebih bermanfaat jika kita yang belum meninggal ini memperbanyak amal kebaikan di dunia, sebelum berjumpa dengan pertanggungjawaban langsung kepada Allah Azza wa Jalla. Kita sudah mengerti bahwa membicarakan keburukan orang yang sudah meninggal itu merupakan salah satu bentuk larangan Nabi. Namun jika kita masih menjumpai atau mendengar orang lain sedang membicarakan keburukan orang yang sudah meninggal, lantas bagaimana kita harus mengambil sikap dalam situasi tersebut ? Mengingatkan dan mengajak orang lain ke jalan yang lebih baik adalah sikap paling utama. Namun jika kita tidak mampu mengingkarinya, minimal kita pergi dari permbicaraan tersebut, sebagai bentuk terlepasnya diri kita dari perbuatan tersebut. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.”

(QS. An-Nisa: 140)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menjaga lisan kita dari ucapan mecela orang lain terlebih yang sudah meninggal dunia, kita senantiasa mengedepankan tabayyun dan islah agar dapat meraih ridha-Nya…
Aamiin Ya Rabb.

Wallahua’lam bishawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.