Naskah Khutbah Idul Fitri di Rumah, Ust Nugraha Hadi Kusuma

0
43

Menyebarkan Kedamaian, Meraih Kemuliaan

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ أَرْشَدَكُمُ اللهُ … أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى، حَيْثُ قَالَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيْمِ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd

Pada kesempatan yang baik ini, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Ta’ala yang telah memberikan taufiq serta hidayahNya, sehingga kita masih dalam keadaan Iman dan Islam…

Selanjutnya, dari atas mimbar  ini, saya wasiatkan kepada diri saya berikut jama’ah sekalian, Marilah,- dari sisa-sisa waktu yang Allah berikan ini, kita gunakan untuk selalu mening-katkan ketaqwaan kita kepada Allah, yaitu dengan selalu memper-hatikan syariat Allah, kita aplikasikan dalam setiap derap langkah hidup kita hingga akhir hayat. Baik berhubungan dengan hal-hal yang wajib, sunnah, haram, makruh, maupun yang mubah. Karena, dengan ukuran inilah prestasi seorang manusia dinilai dihadapan Allah. Suatu ketika Umar Ibnul Khaththab bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang gambaran taqwa itu. Lalu ia menjawab dengan nada bertanya: “Bagaimana jika engkau melewati jalan yang penuh onak dan duri?” Jawab Umar. “Tentu aku bersiap-siap dan hati-hati” Itulah taqwa, kata Ubay bin Ka’ab

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd

Telah dimaklumi bahwa, manusia pada mulanya berasal dari dua orang sejoli, Nabiyullah Adam dan ibunda Hawa. Daripadanya berkembang menjadi banyak bangsa bahkan suku. Semua manusia dinegara manapun dinisbatkan kepada beliau berdua. Dalam hal ini Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13, artinya:“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Disebutkan dalam ayat ini bahwa kedudukan manusia dihadapan Allah adalah sama, tidak ada perbedaan. Adapun yang membedakan di antara mereka adalah dalam urusan diin (agama), yaitu seberapa ketaatan mereka kepada Allah dan RasulNya.Al-Hafifzh Ibnu Katsir menambahkan: “Mereka berbeda di sisi Allah adalah karena taqwanya, bukan karena jumlahnya”
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

لَيْسَ لأَحَدٍ عَلَى أَحَدٍ فَضْلٌ إِلاَّ بِالدِّيْنِ أَوْ عَمَلٍ صَالِحٍ. (رواه البيهقي).

“Tidaklah seseorang mempunyai keutamaan atas orang lain, kecuali karena diinnya atau amal shalih.”

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd

Saat ini, kehidupan manusia telah berkembang dengan pesat dalam segala aspeknya. Dari segi jumlah mencapai milyaran, dari sisi penyebaran, ratusan bangsa bahkan ribuan suku yang masing-masing mengembangkan diri sesuai potensi yang bisa dikem-bangkan. Darinya pula muncul beragam bahasa, adat istiadat, budaya dan lain-lain, termasuk teknologi yang mereka temukan. Namun, kalau kita renungkan semua itu adalah untuk jasmani kita (saja) agar hidup kita dalam keadaan sehat, tercukupi kebutuhan materi, tidak saling mengganggu, aman tentram dalam mengemban persoalan kehidupan. Inilah tuntutan “kasat mata” hidup seorang manusia.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd

Tak pelak dari perkembangan tersebut menimbulkan rasa gembira, puas, bangga, bahkan lebih dari itu, yakni sombong. Sebagai contoh, negara yang maju, kuat merasa lebih baik dan harus diikuti (baca: ditakuti) oleh negara yang lain. Orang kaya merasa lebih baik dari yang miskin, orang yang mempunyai jabatan dan kedudukan (tertentu yang lebih tinggi) merasa lebih baik dan pantas untuk diikuti oleh yang lain dalam segala tuntutannya. Bahkan kadang-kadang, orang yang ditakdirkan Allah mempunyai “kelebihan” dari orang yang ditakdirkan “kekurangan” itu menyu-ruh (memaksa)-nya untuk mengerjakan hal-hal yang menyalahi ajaran agama Allah.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd

Begitulah kecenderungan manusia dalam memenuhi hasrat hidupnya, kadang (atau bahkan sering) tidak mempedulikan perintah atau larangan Allah. Padahal dari aturan agama inilah manusia diuji oleh Allah-menjadi hamba yang taat atau maksiat. Itulah parameter yang pada saatnya nanti akan dimintai pertanggung-jawabannya.

Tetapi sekali lagi, karena tipisnya ikatan manusia dengan syariat Allah, manusia banyak yang tidak menghiraukan halal atau haram, karena memang manusia “tidak punyak hak” untuk menghalalkan atau mengharamkan sesuatu, kecuali kembali kepada syariat agama Allah. Karena minimnya ilmu syar’i itulah yang menyebabkan banyak manusia terjerembab ke lembah kedurhakaan dan jatuh ke lumpur dosa. Bahkan tidak menutup kemungkinan, para pelakunya tidak merasa berbuat dosa, atau malah bangga dengan “amal dosa” itu, na’udzubillah. 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd

            Pagi ini umat Islam, di mana-mana,  di seantero  bumi Allah ini sama-sama bergembira menyambut kedatangan ‘Idul Fitri. Tua muda, besar kecil, laki-laki perempuan, sama-sama mengumandangkan kalimat-kalimat suci dengan penuh semangat dan kegembiraan.

            Allahu Akbar, Allah Maha Besar, besar dari segala-galanya. Semua kekuatan, semua kekuasaan jadi kecil tak berarti dibandingkan dengan kekuasaan Allah Yang Maha Agung. Islam telah mengajarkan takbir kepada kita. Saat adzan kita mengucapkan takbir, membesarkan nama Alah. Saat iqamah kita mengucapkan takbir. Saat hendak memulai shalat kita mengucapkan takbir. Saat bayi dilahirkan kita mengucapkan takbir di telinganya. Saat menyembelih hewan kita mengucapkan takbir. Saat terjun di medan laga kita mengucapkan takbir. Pada hari ‘Id seperti saat ini kita mengucapkan takbir keras-keras, membesarkan asma Allah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah , Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd.

La Ilaha Illallah, tiada Tuhan Yang disembah melainkan Engkau ya Allah, seluruh hidup kami, lahir batin, hanyalah dalam rangka beribadah kepada-Mu semata. Seluruh yang kami rasakan, yang kami pikirkan, yang kami ucapkan dan yang kami lakukan, hanyalah semata-mata untuk mencari ridha-Mu ya Allah.

Alhamdulillah, segala puja puji hanya dipersembahkan kepda-Mu ya Allah. Tidak ada yang berhak dipuji selain Engkau, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Yang melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

 

Sidang ‘Id yang berbahagia!

Pada hari ‘Idul Fitri ini kita bergembira, seperti gembiranya orang yang sedang berbuka puasa, dan kita sedang menunggu kegembiraan yang lebih besar lagi, yaitu saat bersua dengan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

َلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Orang yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan, yaitu saat berbuka puasa dia bergembira dengan makanannya, dan jika bersua Rabbnya dia bergembira dengan puasanya” (H.R. Bukhari Muslim)

Kegembiraan orang yang berpuasa saat berbuka merupakan kegembiraan yang alami, karena dia mendapatkan kebebasannya kembali dari apa yang tadinya dilarang. Kegembiraan berbuka puasa juga merupakan kegembiraan yang relijius, karena dia berhasil menyelesaikan ibadah puasanya.

Sebulan lamanya kita berjuang melawan hawa nafsu kita sendiri. Sekarang apakah kita termasuk orang-orang yang kembali dari medan juang dengan kemenangan, sehingga pantas menerima ucapan “minal ‘aidin wal faizin”? Tentu tidak mudah menjawabnya. Kita perlu meninjau dan mengoreksi diri kita masing-masing, apakah ibadah puasa sudah betul-betul kita kerjakan dengan iman dan ihtisaban atau kita hanya termasuk orang-orang yang hanya berpayah-payah menahan lapar dan haus tanpa arti yang bermakna.

Rasulullah SAW sudah menjanjikan, siapa yang puasa bulan Ramadhan dengan iman dan ihtisaban akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. Dalam hadits lain dikatakan oleh beliau, siapa yang mendirikan malam Ramadhan dengan iman dan ihtisaban diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. Dengan arti kata, kalau kita berhasil mencapai seperti yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW tersebut, tentu pada hari ini kita bebas dari segala macam dosa. Kembali seperti seorang bayi yang baru dilahirkan ke dunia. Bersih. Suci. Fitrah. Itulah sebabnya Hari Raya ini dinamai ‘Idul Fithri, artinya kembali ke fitrah.

Akhirnya, di hari yang mulia ini, setelah sebulan penuh kita membangun dan meningkatkan ketakwaan kita selama Ramadhan, yang penuh rahmah dan maghfirah, kami menyerukan kepada seluruh umat Islam, para pimpinan ormas, orpol, ulama, wakil rakyat, wartawan, anggota TNI/Polri, pejabat pemerintah, cendekiawan, usahawan dan serikat-serikat pekerja, serta para pemuda dan mahasiswa, untuk secara sungguh-sungguh mengamalkan syariat Islam dan berjuang bersama bagi tegaknya syariat Islam secara kaffah, dan menempatkan perjuangan penegakan syariah sebagai agenda utama kaum Muslim. Sesungguhnya, penerapan syariah dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara, merupakan kewajiban setiap Muslim, sekaligus merupakan wujud keberhasilan kita dalam meraih ketakwaan. Penerapan syariah ini pula merupakan wujud kembalinya umat ini pada fitrah-nya, sebagaimana yang dikehendaki dalam ibadah shaum Ramadhan.

Selanjutnya, marilah kita tundukkan kepala kita dengan segala kerendahan hati, sambil menengadahkan tangan kita, untuk memanjatkan doa ke hadirat Allah SWT, Dzat Yang Mahakuasa, dan Mahaperkasa:

 

اَللّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعَا إِلَى اللهِ بِدَعْوَةِ اْلإِسْلاَمِ وَمَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّةِ رَسُوْلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحسْاَنٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَللّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ

Ya Allah, kami mengakui kekurangan dan kelemahan kami, kami mengakui kekuasaan dan keagungan-Mu. Maka jadikanlah kami orang-orang yang selalu berpegang pada Syariat-Mu. Lindungilah kami dari orang-orang yang akan berbuat makar terhadap Islam dan kaum muslimin.

Selamatkanlah kami dan saudara-saudara kami yang ada di seluruh Indonesia, Palestina, Irak, Afganistan, Usbekistan, Syiria, Thailand dan umat muslim di seluruh dunia. Muliakanlah kami dan umat muslim di dunia dan akhirat. Muliakanlah umat ini sebagaimana Engkau telah muliakan umat Islam saat Fathul Makkah. Jangan Engkau jadikan musuh-musuh kami kekuatan yang menyebabkan mereka terus-menerus mencengkeram kami. Cabutkanlah kekuatan itu, hinakanlah mereka di dunia dan akhirat. Porak-porandakanlah kekuatan mereka sebagaimana Engkau telah memporak-porandakan kekuatan kuffar di Perang Badar, sebagaimana Engkau telah memporak-porandakan kekuatan kuffar di Ainjalut, sebagaimana Engkau telah memporak-porandakan kekuatan Romawi di Mu’tah maupun di Konstantinopel. Usirlah musuh-musuh Islam sebagaimana terusirnya Yahudi dari Madinah.

Wahai Rabb Yang mempunyai seluruh kerajaan, Engkaulah yang memberikan kerajaan kepada siapa saja yang Engkau kehendaki; Engkau cabut kerajaan dari siapa saja yang Engkau kehendaki; Engkau muliakan siapa saja yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa saja yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan itu berada. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka tunaikanlah ya Rabb, apa yang telah Engkau janjikan kepada orang-orang yang telah beriman dan beramal shaleh bahwa Engkau sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Engkau telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Engkau akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Engkau ridhai untuk mereka, dan Engkau benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Amin ya Mujîb[a] as-Sâ’ilîn

 

Wahai Tuhanku, yang tak tersentuh oleh mata, dan tak terlihat oleh seorang pengawas pun. Merugilah usaha seorang hamba yang tidak menjadikan kecintaan kepada-Mu sebagai bagian dari usahanya. Wahai Tuhanku, inilah keadaan kami, yang tak satupun tersembunyi dari-Mu. Inilah ketidakberdayaan kami, yang tampak jelas di hadapan-Mu.

Ya Allah, tolongkan kami dengan pertolongan-Mu, untuk mewujudkan (kemuliaan agama)-Mu. Ya Allah, tolongkan kami dengan pertolongan-Mu, untuk mewujudkan (kemuliaan agama)-Mu. Kumpulkanlah kami dengan-Mu. Lindungilah kami dari yang lain, selain diri-Mu, wahai Dzat yang Maha Pengasih. Ya Allah, siapa saja yang menginginkan kebaikan untuk kami dan agama ini, maka berikanlah taufik kepadanya dengan kebaikan. Ya Allah, siapa saja yang menginginkan keburukan untuk kami dan agama ini, maka ambilah dia dengan keperkasaan dan kekuasaan-Mu, karena tidak ada satupun yang bisa melemahkan keperkasaan-Mu, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, sesungguhnya orang yang menanamkan kebatilan itu telah tidur, dan waktu memanennya telah tiba, maka mudahkanlah kekuasaan untuknya agar bisa memanen kebenaran.

 

 

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعَ مَنْ يَفْجُرُكَ، اَللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّى وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ، اَللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ الذِّيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ. اَللَّهُمَّ اَهْزِمْهُمْ وَدَمِّرْهُمْ، وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ، وَاجْعَلْ تَدْمِيْرَهُمْ فِيْ تَدْبِيْرِهِمْ، اَللَّهُمَّ اهْزِمْ جُيُوْشَ الْكُفَّارَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، أَمْرِيْكَا وَبَرِيْطَانِيَا وَحُلَفَاءِهَا الْمَلْعُوْنِيْنَ.

Ya Allah, kami memohon pertolongan-Mu, meminta ampunan-Mu, sekali-kali kami tidak akan mengkufuri-Mu. Kami sepenuhnya iman kepada-Mu, dan berlepas diri dari siapapun yang durhaka kepada-Mu. Ya Allah, hanya kepada-Mulah kami mengabdi, beribadah dan sujud. Kepada-Mulah kami berlari dan menuju. Kami mendambakan rahmat-Mu, dan takut akan adzab-Mu. Sesungguhnya adzab-Mu yang sungguh-sungguh ditimpakan kepada kaum Kufar itu juga pasti akan ditimpakan kepada yang lain. Ya Allah, adzablah orang-orang Kafir yang telah menghalangi jalan-Mu, mendustakan para rasul-Mu, dan membunuhi para pembela-Mu. Ya Allah, kalahkanlah mereka, hancurkanlah mereka, cerai-beraikanlah persatuan mereka, dan porak-porandakanlah kesatuan mereka. Jadikanlah rencana jahat mereka itu sebagai pembawa kehancuran mereka. Ya Allah, kalahkanlah pasukan kaum Kufar penjajah, Amerika, Inggeris dan sekutu mereka yang terlaknat.

 

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَاِفِرِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ،

وَصَلَّى اللهُ عَلىَ  مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَأَخِيْرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.