Orang Miskin Sumber Penyakit, Agama bagi Kaum Tertindas

0
119

Oleh : Haraka El Muhammady

Pertanyaan yang cukup merisaukan adalah kenapa agama dewasa ini sepertinya tidak berpengaruh secara signifikan dalam proses pembelaan terhadap kaum tertindas dan pembebasan kemiskinan? Dalam banyak kasus, mengapa agama justru tampak berkolaborasi dengan kekuasaan dalam menistakan kemiskinan?apa yang sedang terjadi dengan agama-agama saat  ini?masihkah agama hadir dalam ranah kemanusiaan dalam membebaskan kemiskinan dan marginalitas?

Banyak jawaban yang dimunculkan dari pertanyaan-pertanyaan menggoda tersebut.secara parsial,dapat dikatakan beberapa hal. Pertama, para pemimpin agama yang diikuti oleh umat mereka masing-masing telah melakukan asketisme tidak sehat, egoisme personal dan individual, dalam bentuk manipulasi agama untuk tujuan kekuasaan politik dan ekonomi oleh elite atau orang-orang fanatik violent. Penganut agama (khususnya para elite) terlalu defensif untuk agama dan keagamaan mereka, tanpa berani melihat nilai kemanusiaan sejati, baik personal maupun kelompok, dari komunitas di luar diri mereka.

Kedua, agama telah terseret dan tergelincir ke ranah pemahaman ritual-seremonial yang terlalu rigid dan kaku. Tampilan agama cenderung legalitas dan superficial. Sehingga, evaluasi sekaligus autokritik makna terdalam dari agama cenderung tidak menemukan ruang. Meskipun ruang itu tersedia, namun tidak lagi”menggigit”. Keberagamaan dalam pengertian religioisitas (iman) berubah menjadi aksesori iman atau aksesori agama, seperti kewajiban mengenakan simbol-simbolkeagamaan lainnya,regulasi kewajiban berjilbab,menjamurnya perda-perda bernuansa syariat,membludaknya jamaah haji atau juga jiarah ke tempat-tempat suci ditengah negara yang semakin terpuruk dan ancaman krisis pangan,dan lain sebagainya. Pada tempat yang berbeda,aksi swiping atas tempat-tempat yang dianggap maksiat marak terjadi. Namun, di satu sisi, orang-orang yang dianggap berlaku maksiat diperas, dan banyak kasus yang kesemuanya bernuansa kemunafikan.

Ketiga, agama telah dikooptasi sehingga gampang ditekuklututkan dan dininabobokkan serta dibungkam oleh kekuasaan dengan berbagai dalih dan strategi. Misalnya, munculnya wajah-wajah yang berwajah monster, yang serba mengharamkan sesuatu yang berbeda dengan pengalaman keagamaan tertentu.

Dalam ranah kehidupan beragama, saat initidak muncul orang-orang yang brilian untuk berijtihad berjihad. Dalam pengertian, mereka berupaya dengan sungguh-sungguh untuk membela kemanusiaan.

Hari ini, jihad dimaknai dengan tindak kekerasan terhadap orang yang berbeda. Bahkan, tidak jarang agama kemudian menjadi korban topeng kamuflase, pembenaran kejahatan dan pelestarian kebencian terhadap liyan ( the others). Definisi jihad identik dengan membuat regulasi kewajiban-kewajiban administratif, kewajiban seremonial material, yang sangat tidak bernuansa keadilan atas perbedaan.

Keempat, munculnya fenomena beragama, tapi kurang beriman. Pusat keberagamaan kita banyak, tapi bukan kepadaTuhan. Sesembahan kita banyak, yakni kepada ” ilah-ilah selain Allah”. Gambaran beragama yang beriman itu lebih terasa manakala penbelaan terhadap kemanusiaan tidak lebih concern dibanding sembah sujud kepada Tuhan. Terdapat dikotomi yang tajam, bahkan terjadi disparasi diametral, antara karakter vertikal dan horizontal dalam agama dan keberagamaan. Gap sangat terlihat menganga. Satu sisi, karakter vertikal membuat kita menatap terlalu tinggi sehingga cencerung individual. Sedangkan,disisi lain ranah horisontal kita terlalu memutlakkan horisontal sosial yang diberi label keagamaan dengan peluang penyimpangan dan manipulasi yang amat besar terhadap ide sebagai manusia bertuhan.

Kelima, feodalisme dan paternalisme agama dari para pemimpin agama. Umat beragama terlalu dipandang sebagai objek dari praktik keagamaan, tetapi kemudian dibatasi pada keshalihan superficial. Banyuan insidental charity, kemiskinan dan fakir miskin, menjadi komoditas sentimen serta afeksi agama dan keberagamaan. Keberagamaan kita bermantel picik dan sempit. Memori kita pendek dan fragmentaris, bahkan terkadang sangat membelenggu jiwa. Keberagamaan kita terlalu mengklaim bahwa hanya kelompok kita yang dapat dan harus melakukan segalanya. Bahkan, sampai kepada klaim bahwakeselamatan hanya pada kita. Keberagamaan kita tidak konsisten dengan asas bahwa kita butuh orang lain dalam bentuk subsidiaritas, solidaritas,dan sinergitas.

Berangkat dari realitas keberagamaan yang terfragmentasi tersebut, dengan sangat menyesal, harus dinyatakan bahwa agama sesungguhnya bukanlah tujuan, melainkan sarana. Agama harus dilihat sebagai sarana,motivasi,orientasi,semangat,serta pedoman spiritual,moral,dan keyakinan akan nilai-nilai yang supra. Beragama seharusnya untuk kemanusiaan ,dan bergerak bersama untuk mencari jalan keluar dalam menyelesaikan problem kemanusiaan.

 

Lantas, Apa yang Hendak Diperbuat bagi Kaum Tertindas?

 

Pertama, orang-orang beragama harus berani mendiskusikan kembali secara kritis tentang konsep tertindas dan ketertindasan , miskin dan kemiskinan. Kemudian,mereka juga sebaiknya bertanta, apa makna kehadiran agama dalam konteks ketertindasan dan kemiskinan tersebut?

Sebagai sebuah perspektif,ketertindasan ialah tidak tersedianya ruang untuk berekspresi dalam rangka menghadirkan diri sebagai sosok manusia yang otonom dan merdeka. Oleh karena itu, orang tertindas adalah orang yang tidak bisa hidup bebas dan tanpa kemungkinan fasilitas yang memadai untuk mengembangkan diri dan hidupnya sebagai manusia pribadi maupun komunitas  secara utuh.

Dalam kaitan ini, terdapat orang yang tertindas karena agama dan keberagamaan. Maksudnya, agama diajarkan secara sempit, tidak mendidik, kecuali mengontrol manusia hanya dalam pendekatan halal-haram secara oposisi biner, hitam –putih. Agama membelenggu pikiran dan hati, sehingga cara pandang tidak luas dan tidak terbebaskan. Manusia yang konon diciptakan dengan seperangkat akal dan hati harus dikekang sedemikian rupa. Manusia yang diberi akal justru harus diyundukkan. Padahal, justru dengan agama pula, acap kali manusia yang satu tergelincir melakukan pemusnahan atas yang lain karena perbedaan cara pandang tentang agama.

Itulah sebabnya, tidak sedikit orang meninggalkan praktik-praktik keagamaan, dan menjadi sekuler dan atau humanis saja. Ketika agama tidak memiliki ruang yang cukup untuk bertanya, mengkritisi, mengeksplorasi pemikiran, dan mencoba bereksperimen – sebaliknya, orang beragama justru dikungkung dalam tembok yang tinggi dan sempit , yang diciptakan atas nama menjaga kemurnian dan kesucian agama-, saat itulah sebenarnya ketertindasan pada ranah agama sedang bekerja dan beroprasi menindas umat beragama karena keberagamaan.

Sementara itu, kemiskinan , secara sederhana, dapat dipahami sebagai ketersediaan sandang, papan, dan pangan yang tidak memadai. Kemiskinan finansial sanggat tidak mengenakkan. Namun kemiskinan yang paling menyengsarakan, selain tidak terpenuhinya kebutuhan pokok,adalah terampasnya dinamika perkembangan dan proses kesempurnaan diri manusia.  Kemudian hal tersebut menjelma dalam bentuk kebodohan ,fanatisme, serta pelabelan atas diri sendiri dan orang lain. Yang baik adalah diri atau kelompok sendiri, sementara orang lain dan kelompok yang berbeda sebagai kafir-nista dan rendah. Anggapan kelompok lain yang jahat-karir merupakan gambaran nyata dari miskinnya daya pikir dan imajinasi.

Agama harus diaktifkan untuk membebaskan kaum tertindas dan kemiskinan. Keberagamaan harus menjadi rambu-rambu pembebasan ditengah keterkungkungan dan ortodoksi yang kental dan pekat.

Kita harus berani bertanya dan menjawab tentang hakikat beragama dan cara agama membebaskan ( dalam pengertian liberasi). Kita harus berani kritis tentang sesuatu yang hakiki,mendasar, abadi,indah, dan membebaskan. Kita harus brani melihat sesuatu  yang terikat pada zaman, budaya dan lingkun gan tertentu,serta penafsiran dan aliran tertentu.

Selain itu, yang tidak kalah pentingnya juga ialah kita harus berani bertanya, apakah sekama ini agama terlanjur menjadi alat kekuasaan dan media untuk mencapai kekuasaan sekaligus berselingkuh dengan kekuasaan?

Selain itu, dalam beragama, kita juga harus memiliki keberanian dalam mengembangkan kecerdasan intelektual, rasionalitas, dan logika beragama tanpa harus menyangkal dan mengabaikan unsur-unsur spiriyualitas dan supranatural dari agama. Sebab, betapapun mengutamakan prinsip materialistis,manusia selalu berhadapan dengan sesuatu yang mysterium, tremendum et fascinosum, sebagaimana dinyatakan oleh Rudolf Otto.

Kedua, meminjam istilah “Teologi Pembebasan Kemiskinan” yang dikembangkan oleh Uskup Oscar Arnulfo Romero dan Elavador, maka secara umum, teologi pembebasan dapat pahami dari kehadiran agama yang menjelma sebagai simbol-seperti megahnya bangunan rumah-rumah ibadah,masjid,gereja sinagoge, pura, vihara, kelenteng, dan lain sebagainya-yang harus lebih bermakna bagi orang miskin dan tertindas. Masjid, gereja, dan rumah ibadah lainnya harus menjadi “rumah” bagi orang miskin. Serta, peran imam juga sangat penting dalam mengambil tanggung jawab secara penuh untuk membangun wilayanh kolaborasi dalam melakukan pembebasan bagi kaum miskin. Rumah ibadah seharusnya bukan hanya dipahami sebagai bangunan fisik ,melainkan juga proses integrasi antara peran kenabian (profetik) dengan pelayanan pembebasan dan penyelamatan.

Akhirnya, sebagai seorang yang masih mempercayai agama, sudah saatnya umat beragama tidak perlu merasa dan menganggap bahwa diri dan kelompoknya sebagai pemain utama dan bisa melakukan segalanya dalam hal membebaskan kaum tertindas dan mengentaskan kemiskinan.  Umat beragama perlu membangung kerja sama dengan berbagai pihak, dan tentunya juga dengan penganut agama lain.

Umat beragama harus berani jujur mengakui bahwa masing-masing masih terlalu jauh dari realisasi kerja-kerja kemanusiaan. Maka, tentu sangat logis jika kita membangun sinergi dengan umat beragama yang lain . tentu, ini akan menjadi kekuatan moral yang lebih kokoh dihadapan lembaga publik dan pemerintah.

Umat beragama harus mempersatukan energi nyang terserak-serak dalam satu ikatan solidaritas sosial kemanusiaan. Sisi kemanusiaan ini adalah sanggat inheren dan built-in dalam agama yang autentik dan membebaskan. Dan, dalam konteks hari ini, hal tersebut bisa diwujudkan  melalui dialog karya dan kerja sama dalam lingkup yang lebih luas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.