Suporter Sepak Bola Dan Potret Demokrasi

0
280

Oleh : Bima Satria 

Oknews.co.id – Malang. Dalam negara Indonesia kita tentu saja sudah mengetahui tentang demokrasi. Dalam demokrasi saat ini yang ada di Indonesia tentu kita sudah tidak asing dalam mendengar kebebasan berpendapat dan jaminan hak untuk setiap orang. Menurut Jimly Asshiddqie salah satu roh pilar tegaknya demokrasi adalah kebebasan berpendapat. Itu adalah prasyarat yang mutlak dari sistem demokrasi.

 

Dalam buku negara civil society dan demokratisasi Lutfi J. Kurniawan yang saya kutip adalah bahwa keterlibatan masyarakat sipil itu adalah alat ukur seberapa berhasilnya demokrasi di negara tersebut karena di lihat dari tingkat kemasifan warga negara. Dan demokrasi pun menjamin atas hak-hak setiap orang mulai dari hak atas hidup, hak kebebasan berbicara, hak kepemilikan, hak kesamaan. Hak-hak tersebut tersebut dicantumkan dalam piagam magna charta  tahun 1216. Hak-hak tersebut berkembang pada tahun 1948 yang di muat dalam perserikatan bangsa-bangsa yang disahkan dalam universal declaration of human right. Itu dalam segi internasional dalam negara kita itu pun dijamin dalam pembukaan undang-undang dasar 1945 dan dalam undang-undang dasar 1945 pasal 28.

Dalam menciptakan sistem demokrasi yang stabil harus terjadi di semua lini kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Salah satunya adalah yang ada di ranah sepak bola agar bisa memajukan sepak bola Indonesia yang lebih baik. Namun sayangnya itu belum bisa diwujudkan karena masih banyak kekerasan supporter yang terjadi rana sepak bola dan berbagai masalah lain yang menurut saya sebagai faktor tidak majunya sepak bola di Indonesia mulai dari kebijakan. Pengaturan skor dan lain-lain

Maka dari itu harus ada check and balance antara federasi, klub dan supporter agar demokrasi yang ada di ranah sepak bola bisa terwujud dan bisa memajukan sepak bola Indonesia agar lebih baik. Dan yang paling penting adalah keterlibatan supporter dalam pengawal demokrasi di rana sepak bola entah dari mengusut kekerasan yang terjadi di sepak bola dan pengawalan kebijakan dari federasi di sepak bola.

Sepak bola adalah olahraga rakyat ia lahir dari Rahim rakyat dan harus kembali pada rakyat mungkin itu slogan yang hampir sama dengan demokrasi yaitu dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Maka ketika membahas tentang sepak bola itu tidak akan ada habis-habisnya karena kekuasaan ekonomi politik pun bisa dilihat dari kacamata sepak bola dan relasi-relasinya. Masih menjadi banyak perdebatan dimana awal sepak bola muncul namun disini saya ingin menggunakan sepak bola yang pertama kali dibentuk di inggris bahwa sepak bola dibentuk oleh kaum buruh karena kejenuhan terhadap pekerjaan mereka maka untuk melepaskan kejenuhan tersebut mereka membentuk satu olahraga yang menggunakan bola untuk menghilangkan kejenuhan mereka contoh klub-klub besar yang dibentuk dari kaum buruh di inggris adalah Liverpool, West Ham United dan lain-lain.

Dan di Indonesia pun ada hal kejadian serupa seperti Semen Padang, Gresik United mereka dibentuk oleh pekerja-pekerja dan kaum buruh. Bisa disimpulkan bahwa sepak bola dengan persepektif seperti berikut bahwa sepak bola lahir dari Rahim rakyat. Sepak bola hari ini adalah alat untuk mendapatkan ekonomi paling menggiurkan. Karena dilihat dari antusias penonton yang cukup banyak itu menjadikan sepak bola adalah ladang investasi yang menjajikan. Oleh karena itu sepak bola tidak bisa dari beberapa masalah yang menghatuinya mulai dari kebobrokan federasi, mafia bola dan masih banyak lagi. Jika mau di simpulkan adalah bahwa hari ini sepak bola berada dalam jeratan tangan kapitalisme. Maka dari itu siapa yang bisa memegang sepak bola di tangan mereka niscaya mereka akan mendapatkan kekuasaan.

Ketika sepak bola hari ini berada dalam jeratan tangan kapitalisme maka dari itu tidak akan tercapai kemajuan sepak bola di negeri ini. Karena hanya dikuasai untuk ekonomi dan politik tanpa ada niatan untuk memperbaiki itu. Dapat dilihat dengan beberapa kasus yang belum terselesaikan sampai saat ini mulai dari kekerasan yang terjadi di supporter sepak bola dan federasi yang cukup bobrok.

Ingatan kita masih tajam untuk mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu yang terjadi pada Haringga Sirilah, Muhammad Iqbal adalah korban yang meninggal akibat kekerasan pada sepak bola Indonesia. Mereka berdua adalah supporter dari Persija Jakarta dan PSS Sleman. Itu hanya contoh yang saya sebutkan dan data yang saya dapat di Pandit Football sudah 76 supporter meninggal akibat kekerasan yang terjadi di sepak bola. Dan pendapat yang keluar dari federasi hanya akan memperbaiki tidak akan terjadi kejadian serupa di musim depan kata-kata itu sudah bosan di dengar dari badan federasi. Maka untuk melihat keterkaitan partisipasi supporter dan demokrasi yang terjadi di sepak bola adalah ketika elemen supporter berbicara bahwa harus ada pengawalan yang ketat dari pihak kepolisian untuk supporter yang melakukan away day (datang ke kandang lawa) agar kejadian tersebut tidak terulang dan supporter menuntut untuk mengusut tuntas semua pelanggaran HAM yang terjadi sepak bola bisa dilihat dari kematian almarhum Fahreza yang masih terdapat konflik yang dikatakan ia meninggal karena kekerasan oleh Aparat. Maka dari itu dapat dilihat partisipasi supporter dalam menciptakan demokrasi di ranah sepak bola untuk kemajuan sepak bola yang lebih baik kedepanya. Karena selama ini tidak pernah ada kode disiplin dalam PSSI yang menjamin hak-hak untuk supporter yang ada hanya diskriminasi tentang larangan untuk supporter itu termuat dalam kode disiplin pssi pasal 70.

Beberapa bulan terakhir kita juga melihat di acara Mata Najwa tentang mafia bola yg diungkap diacara tersebut sampai menjadi trending topik waktu itu karena terjadi beberapa kejanggalan dalam pertandingan yang sudah diatur oleh mafia-mafia sepak bola sampai akhirnya terungkap walau tidak semuanya bahwa beberapa Exco PSSI terlibat dalam pengaturan pertandingan tersebut. Namun ketika melihat hal itu supporter tidak hanya diam mereka melakukan gerakan mobilisasi dengan tagar revolusi pssi dan gerakan itu pun membuahkan hasil bahwa sepak bola diangkat kembali dalam acara tersebut. Sampai dalam kongres PSSI yang ada di nusa dua bali supporter datang dan mendesak di depan hotel kongres tersebut untuk membersihkan sepak bola dan mendesak satgas mafia bola mabes polri untuk menangkap siapapun yang terlibat dalam pengaturan pertandingan yang terjadi.Betapa kita lihat partisipasi dari supporter yang begitu besar untuk kemajuan sepak bola di negeri ini.

Secara bersama dengan keluarnya tagar revolusi pssi dibarengi dengan tagar edy out. Tentu kita semua tahu Edy Rahmayadi adalah ketua umum PSSI yang terpilih namun terjadi polemik yang terjadi ketika Edy Rahmayadi juga menjabat sebagai gubernur Sumatera Utara dan pemilik saham PSMS Medan. Sehingga menimbulkan kemarahan besar di kalangan supporter dengan pendapat mereka yang berbunyi “jabatan ganda prestasi gak ada” itu yang dikeluarkan oleh supporter karena melihat tidak adanya prestasi yang didapat oleh Timnas Nasional dalam berbagai ajang Internasional. Sampai keluar juga tagar tentang kosongkan GBK yang menjadi polemik ada yang bilang tidak nasional dan ada yang bilang lebih nasionalis saya tidak ingin mengungkapkan siapa yang benar namun bisa dipikirkan sendiri mana yang baik akan hal tersebut. Itu juga terjadi dalam sepak bola di Liga 1 bahwa tidak ada dampak perubahan yang signifikan dari terpilihnya Edy Rahmyadi sebagai ketua PSSI. Dan dalam buku Ahimsa Surat Protes untuk Sepak Bola Indonesia yang di tulis oleh Yamadipati Seno bahwa ketika pemilihan Gubernur Sumatera Utara ada Edy Rahmayadi akan menjajikan Stadion untuk PSMS Medan maka ketika jabatan ia sebagai ketua umum PSSI sangat membantu dia untuk naik jabatan dalam pemilihan gubernur Sumatera Utara. Dari kasus tersebut dapat disimpulkan bahwa siapa yang bisa memegang sepak bola ia akan mudah memegang kekuasaan ekonomi dan politik. Namun hasil dari tagar edy out tidak sia-sia karena tekanan dan kritikan yg cukup banyak dari elemen supporter akhirnya Edy Rahmayadi keluar dari ketua umum PSSI. Kemenagan yang cukup untuk supporter Indonesia yang terus mengawal kemajuan sepaka bola Indonesia.

Bukan hanya itu saja terjadi demo dibeberapa daerah yang menuntut untuk memperbaiki manajemen tim dan PSSI yang lebih baik itu adalah bukti nyata yang selama ini tidak pernah dilihat oleh masyarakat umum tentang partisipasi supporter untuk kemajuan sepak bola Indonesia.

Namun bukan hanya itu berbagai elemen supporter mendesak untuk setiap tim memiliki Akademi Sepak Bola mulai dari usia 8 tahu sampek usi 16 tahun untuk menunjang adanya pemain-pemain pilihan untuk memperkuat Timnas semoga saja tuntutan yang diberikan oleh supporter dapat di tindak lanjuti oleh federasi yang menaungi sepak bola dan para supporter menuntut untuk jadwal liga harus ditetapkan sesuai tanpa da perubahan-perubahan jadwal yang terjadi ketika liga sudah dimulai untuk mimimalisir adanya pengaturan pertandingan agar tidak ada mafia bola yang bermain dalam liga. Dan supporter juga menuntut agar flare dan bomb smoke bisa digunakan dalam pertandingan karena itu ialah salah satu alat kreatifitas supporter dan munutu untuk pasal tersebut segera dihapuskan dengan slogan flare is not a crime.

Diatas adalah bukti nyata partisipasi supporter dalam demokrasi di ranah sepak bola dengan keterlibatan mereka dalam beberapa aksi dan kasus yang terjadi agar sepak bola di negeri ini bisa lebih maju

Bahwa stigma yang muncul selama ini kepada supporter tentang anarkisme nya tidak semuanya benar karena mereka hanya mempunyai satu impian bersama yaitu kemajuan sepak bola di negeri ini dengan keterlibatan mereka dalam berbagai kebijakan dan aksi yang mereka lakukan. Semoga aja beberapa tuntutan yang belum di dilakukan seperti mengusut tuntas pelanggaran HAM yang terjadi ranah sepak bola. Pembuatan akademi atau sekolah sepak bola di klub-klub yang ada. Dan menendang mafia bola dari sepak bola di negeri ini bisa terlaksana untuk sepak bola yang lebih baik di negeri ini. Karena ada beberapa slogan di sepak bola yang cukup menggambarkan tentang semangat kehormatan dan harga diri karena sepak bola melanambangkan identitas mereka. Karena sepak bola adalah cinta yg tulus dan menaggalkan logika karena supporter akan memberikan apa yang mereka punya untuk sepak bola mulai dari harta, benda, nyawa pun mereka berikan untuk sepak bola maka dari itu slogan yang paling tepat adalah football is for you and me not for kapitalisme. Yang artinya bahwa sepak bola adalah untuk aku dan kamu bukan untuk kapitalisme. Dan semoga cepat sembuh sepak bola yang kami cintai di negeri ini. Perlawanan dan partipasi akan tetap didengunkan untuk sepak bola yang lebih maju di negeri ini. Dan kami akan tetap mengawal sepak bola di negeri ini contoh diatas bukan kemenangan yang harus berhenti tapi akan terus berlanjut. Sekian isi tulisan dari saya semoga dapat membantu.

(Raisul Haqi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.