Pembelajaran Bijak di Tahun 2021

0
96

Oknews.co.id – Yogyakarta,  Penyebaran covid-19 masih belum berakhir. Oleh karena itu, jika hal ini tetap dilaksanakan, maka, perlu adanya kesiapan yang benar-benar matang. Dengan adanya upaya persiapan pendidikan yang akan dibuka pertengahan bulan depan dimasa new normal ini. Ternyata, telah banyak menuai polemik di beberapa pihak, khususnya, pihak orang tua siswa.

Banyak di antara mereka yang merasa khawatir, jika anaknya harus belajar diluar saat pandemi covi-19 masih belum berkhir. Kita tahu, bahwa sampai hari ini kasus penyebaran covid -19 semakin tinggi jumlahnya. Dan ironinya, sampai hari ini belum ada negara manapun yang dapat menemukan vaksin atau anti virus covid-19.

Sehingga, problem covid-19 ini perlu di waspadai dan benar-benar di kaji secara ilmu medis dengan berdasarkan data statistik di lapangan. Terutama  upaya persiapan dibukanya kembali aktivitas pendidikan. Seperti, upaya berkoordinasi melibatkan seluruh pihak lembaga pendidikan, pakar ilmuan, dan pihak tenaga kesehatan, serta melibatkan pihak orang tua sebelum dibukanya kembali aktivitas pendidikan.

Agar kedepannya problem seperti ini tidak menghambat proses pembelajaran. Selain itu, memasuki fase new normal sarana infrastruktur setiap lembaga pendidikan wajib memenuhi syarat standart protokol kesehatan covid-19. Mengingat, ada banyak lembaga pendidikan di Indonesia yang masih belum memenuhi syarat standart protokol kesehatan covid-19.

Oleh karena itu, upaya ini perlu segera di evaluasi di awal ajaran baru di masa new normal. Pendidikan mamang penting bagi peserta didik, namun, keselamatan dan kenyamanan siswa harus lebih diutamakan, khususnya, ketika di berlakukan masa new normal.

Peran lembaga pendidikan dan tim medis kesehatan covid-19 harus lebih intensif mengawal proses pembelajaran di masa new normal, agar memudahkan pengontrolan dan menghimbau kepada peserta didik untuk selalu menerapakan protokol kesehatan selama aktivitas pembelajaran. Begitu juga dengan metode pembelajaran bagi para siswa harus lebih di optimalkan lagi selama masa new normal.

Selain itu, sistem kurikulum pembelajaran pada setiap lembaga pendidikan wajib menyesuaikan dengan peraturan selama di berlakukannya masa new normal. Sehingga, proses pembelajaran dapat berjalan sesuai kebutuhan siswa pada hari ini. Semenjak di berlakukannya masa new normal sudah ada beberapa wilayah pendidikan yang menerapkan sistem tersebut.

Sebagian dari lembaga pendidikan sudah mulai menyiapkan proses aktivitas pendidikan di masa new normal. Tentunya, pihak pemerintah harus segera mengambil keputusan mengenai di bukanya kembali aktivitas pendidikan. Sehingga kesiapan aktivitas pendidikan segera optimalkan, jika pemerintah nantinya akan tetap membuka proses pembelajaran, agar orang tua siswa tidak merasa resah ketika harus menghadapi masalah seperti ini.

Meskipun, pelaksanaan persiapan awal tahun ajaran baru masih menuai polemik dan belum terealisasikan. Namun, pemerintah harus bisa berkoordinasi dengan pihak lembaga pendidikan serta pihak dinas kesehatan sebelum membuka aktivitas ruang pembelajaran.

Jika aktivitas pembelajaran di awal ajaran baru masih tetap dibuka, pemerintah harus segera memberikan keputusan tentang pelaksanaan pendidikan di masa new normal, agar problem ini tidak menimbulkan pertentangan dan keresahan. Mengingat sektor pendidikan paling berisiko tinggi dan berpotensi penyebaran covid-19.

Himbauan dan anjuran protokol kesehatan covid-19 masih tetap diberlakukan selama masa new normal. Seperti, merapkan pola gaya hidup sehat, memakai masker, cuci tangan, dan menerapkan social distance (Jaga jarak) minimal 1,5 meter, agar selama pelaksanaan proses pembelajaran berjalan dengan maksimal.

Namun, jika pemerintah tetap menggunakan sistem pembelajaran daring atau jarak jauh di awal ajaran baru ini. Maka perlu adanya evaluasi terkait metode pembelajaran tersebut. Metode pembelajaran harus lebih inofatif dan kreatif serta berkualitas, agar peserta didik dapat belajar dengan giat selama melaksanakan proses belajar di rumah.

Selain itu, perlu adanya pengoptimalan sarana fasilitas daring, mengingat, masih ada banyak para peserta didik yang mengalami kendala dan kesulitan ketika mengakses proses pembelajaran daring, Seperti, mengakses koneksi internet, keterbatasan alat-alat teknologi, misalnya, handpone (HP), laptop, komputer, dan lain sebagainya. Maka, problem ini benar – benar diperhatikan sebelum dibukanya kembali aktivitas pembelajaran daring di masa new normal.

Supaya pemerataan pendidikan tetap berjalan meskipun ditengah pandemi. Pandemi covid-19 saat ini memang sudah menganggu aktivitas pendidikan di seluruh Indonesia. Namun, sebagai seorang pelajar yang cerdas dan berfikir produktif, keterbatasan jarak di rumah tidak selamanya menjadi hambatan dan alasan untuk tidak belajar.

Selama di rumah kita bisa belajar mandiri, atau belajar bersama keluarga. Dengan memanfaatkan waktu luang yang diisi berbagai hal yang produktif. Seperti, mengikuti kegiatan seminar, lomba karya tulis atau desain poster, serta melakukan berbagai macam kegiatan produktif yang lainnya, untuk menambah wawasan kita selama berada di rumah.

Mari kita bersama-sama saling membantu antara sesama dalam membangun kualitas pendidikan di masa new normal ini, agar pendidikan kedepannya berjalan secara optimal dan efektif. Pandemi yang berlangsung di Indonesia ibarat malapetaka yang datang tanpa disangka-sangka, sudah 8 bulan lamanya pandemi ini berlangsung. Setiap hari menghantui masyarakat perkotaan hingga ke pelosok negeri. Perlahan dengan pasti mengikis sendi-sendi pertahanan di negara ini.

Dampak yang ditimbulkan selama masa pandemi merambah ke berbagai bidang yakni, bidang ekonomi, sosial, kesehatan, dan bidang pendidikan. Masyarakat mengeluhkan betapa sulitnya ekonomi di masa pandemi, banyak usaha perumahan yang tutup bahkan restoran besar mulai gulung tikar.

Di bidang pendidikan banyak dilakukan perubahan yang berdampak besar bagi pesera didik, salah satunya dengan diberlakukannya Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ. Selama PJJ berlangsung banyak konflik yang muncul salah satu dampaknya yakni, susahnya akses internet di daerah.

Sampai kapan kita harus mengurung diri dan dihantui oleh ketakutan-ketakutan di luar sana? Peserta didik kurang leluasa dalam mengekpresikan keahliannya selama PJJ, karena ada beberapa skill yang tidak bisa diasah jika semua pembelajaran serba online.

Rekonstruksi Dunia Pendidikan : Kegiatan Lama dengan kebiasaan baru

Seluruh pembelajaran baik dari jenjang PAUD, SD, SMP, SMK/SMA, hingga ke bangku perkuliahan dilakukan secara daring setelah pandemi Covid-19 makin menyebar di wilayah Indonesia. Bukan keputusan yang mudah untuk membuat kesepakatan ini, seperti yang dijelaskan oleh Agus Sartono Kemenko PMK dalam live Penyelenggaraan Pembelajaran Semester Genap Tahun 2020/2021 di Masa Pandemi pada Jumat, 20 November 2020 bahwa keputusan PJJ diambil demi mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik dan tidak mengambil risiko kehilangan 1 peserta didik.

Peserta didik mengeluhkan hambatan dalam proses pembelajaran online, seperti susahnya akses internet di daerah pedesaan dan kurangnya fasilitas penunjang belajar selama PJJ berlangsung. Selain itu peserta didik kurang memahami materi yang disampaikan lewat media pembelajaran online, karena perbedaan kondisi penyampaian materi yang awalnya dilakukan di kelas dan bertemu guru langsung namun setelah diterapkannya PJJ penyampaian materi dilakukan dengan  media Zoom, Gmeet, Google Classroom, WA dll.

Bagi daerah yang sulit mengakses internet diberikan solusi dengan penayangan materi lewat siaran TV, Radio, serta metode Guru Kunjung. Sehingga peserta didik tidak ketinggalan materi.

Menurut Agus Sartono ada 4 jenis unsur pendidikan yang harus dikuasai peserta didik

Pertama unsur knowledge yang merupakan pengetahuan atau wawasan peserta didik yang diperoleh dari buku, penjelasan guru dan seminar .

Kedua skill merupakan kemampuan peserta didik dalam menggunakan akal, pikiran, ide dan kreatifitasnya .

Ketiga attitude yang berperan penting dalam pembentukan karakter peserta didik dengan cara berinteraksi dengan sesama teman dan guru saat di sekolah.

Keempat religius merupakan sikap patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya.

Dari keempat unsur tersebut peserta didik hanya memperoleh sebagian kompetensi yaitu knowladge, sedangkan skill tidak dapat dipenuhi karena harus melaksanakan praktikum di rumah. Untuk unsur attitude dan religius peserta didik memerlukan media untuk berinteraksi dengan sesama teman dan guru dalam membentuk karakter yang baik.

PJJ juga berdampak dalam kesehatan psikis peserta didik, dengan banyaknya tugas dan susahnya akses internet menimbulkan depresi. Tak jarang juga kasus putus sekolah terjadi, karena terpaksa bekerja demi membantu perekonomian orangtuanya, bahkan ada beberapa anak yang bosan di rumah dan memilih menikah.

Keputusan tentang pembelajaran offline yang akan dilaksanakan tahun 2021 yang sudah disetujui oleh 4 kementerian yakni Menteri Kesehatan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri. Meskipun dilakukan secara offline tetap harus mematuhi protokol kesehatan dari rumah sampai pulang kembali ke rumah.

Kebijakan Daerah Penentu Strategi Pendidikan

Dalam keputusan 4 Menteri tersebut pemerintah pusat memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk memutuskan pembukaan sekolah-sekolah di daerahnya dengan syarat yang telah ditentukan dalam keputusan tersebut. Namun, keputusan pembukaan sekolah tidak bersifat wajib tetapi bersifat diperbolehkan sesuai kondisi daerah dan kesiapan protokol kesehatan yang ada. Keputusan terakhir berada di tangan orangtua, orang tua boleh menolak jika mersa kurang aman untuk pergi ke sekolah menurut Nadim pada Jumat, 20 November 2020.

Sekolah yang ingin membuka pembelajaran tatap muka harus melakukan pengisian daftar periksa kesiapan sekolah. Dari 532 Ribu satuan pendidikan di Indonesia, baru 42,4% yang mengisi daftar periksa dan sisanya belum melaksanakannya menurut Agus Sartono pada  Jumat, 20 November 2020

Oleh karena itu, pemerintah dalam beberapa waktu terakhir selalu menghimbau pada masyarakat dan seluruh departemen saling bekerjasama untuk mensukseskan penerapan keputusan tersebut, agar masalah yang muncul karena pandemi segera terselesaikan sehingga negara ini bisa bangkit kembali dari keterpurukannya.

Hemat penulis, rencana keputusan pemerintah yang terkait pendidikan itu sangatlah tepat. Sebab, dunia pendidikan memiliki taruhan jangka panjang, yang akan berpengaruh terhadap kelangsungan sumberdaya manusia dan masa depan Indonesia sendiri. Jika tanpa pencermatan dan kesungguhan rencana yang tepat atas dampak covid-19, maka berkemungkinan besar generasi terdidik bangsa ini menjadi korban dan klaster penularan covid-19 yang sangat massif. Dalam posisi ini, loss generation secara fisik terhadap sumber daya manusia mendatang menjadi kenyataan pahit bagi bangsa ini. Oleh karenanya, kita patut untuk melihat akan dinamika pelaksanaan kebijakan new normal dan dampaknya terhadap kelangsungan pendidikan. 

Sekurang-kurangnya terdapat 3 (tiga) skenario besar tentang kebijakan pendidikan di masa new normal ini.

Pertama, skenario optimistis, menyatakan bahwa peserta didik kembali ke sekolah/kampus dan proses pembelajaran untuk tahun akademik 2020/2021 dimulai pada bulan Juli 2020. Dalam skenario ini, semua layanan pendidikan dibuka, proses pembelajaran dan pertemuan tatap mukapun dilakukan, sebagaimana layaknya masa sebelum adanya wabah Covid-19.

Skenario optimistis ini cenderung didasarkan atas kenyataan telah lamanya peserta didik berada di rumah, yang sebagian di antara mereka dan orang tuapun telah mengalami kejenuhan yang akut. Akibat lamanya anak di rumah, perkembangan akademik anaknya semakin terbengkalai. Bahkan, terdengar kasus, ada orang tua yang “mengancam” kalau sekolah tempat belajar anaknya itu tidak segera dibuka, maka ia akan pindah ke sekolah lain. 

Kedua, skenario pesimistis, yakni layanan dan proses pendidikan untuk tahun akademik baru diundur hingga, sekurang-kurangnya, bulan Desember 2020. Artinya, terdapat penambahan waktu dalam 1 (satu) semester ke depan peserta didik tetap berada di rumah, dan tidak ada layanan pendidikan, sehingga untuk awal tahun akademik digeser, semula Juli-Juni menjadi Januari Desember. Skenario ini didasarkan atas pertimbangan untuk memastikan tidak adanya korban covid-19 dari lingkungan pendidikan. 

Ketiga, skenario moderat, yakni tahun akademik semester genap tetap dimulai bulan Januari  2021, tetapi dengan pendekatan dan mekanisme proses pendidikan yang perlu diatur lebih lanjut. Dalam konteks ini, terdapat 2 (dua) pendekatan: pertama, pendekatan 100% daring (dalam jaringan), yakni seluruh rangkaian proses pembelajaran seutuhnya dilakukan secara online; dan kedua, pendekatan blended learning, yakni menggabungkan pendekatan daring dan  luring (luar jaringan).

Mencermati ketiga skenario di atas, menurut hemat penulis, skenario yang memungkinkan untuk dilaksanakan pada layanan pendidikan adalah mengikuti skenario ketiga, yakni skenario moderat dengan pendekatan blended learning, meski hal ini masih memiliki beberapa kendala tertentu. 

Skenario pertama tampaknya belum memungkinkan untuk dilaksanakan, mengingat jumlah korban covid-19 belum menunjukkan grafik landai, bahkan terus mengalami peningkatan. Penerapan kebijakan new normal di luar bidang pendidikan tampaknya belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Artinya, jika skenario pertama benar-benar dilaksanakan, meski dalam durasi waktu 1 (satu) bulan ke depan, potensi tersebarnya korban Covid-19 pada klaster pendidikan masih besar. 

Adapun skenario kedua akan berdampak pada terjadinya loss academic generation (generasi akademik yang hilang) di dunia pendidikan secara nyata. Seluruh anak bangsa pada dunia pendidikan akan mengalami kehilangan kualitas akademik secara signifikan, jika tidak dilakukan proses pendidikan sama sekai. Selain itu, bukankah beberapa bulan dalam satu semester terakhir sebagian layanan pendidikan telah menyelenggarakan kegiatan secara daring, sehingga dapat dijadikan model dalam proses pembelajaran di tahun akademik baru. 

Untuk itu, skenario ketiga dengan pendekatan blended learning, tentu dengan segala kelebihan dan kekurangannya, cenderung dapat dijadikan alternatif strategis. Jika dilakukan dengan pendekatan 100% daring, maka proses pendidikannya sangat potensial tidak akan efektif. Sebab, hingga saat ini, infrastruktur jaringan, kemampuan sumber daya manusia, dan kesiapan pembiayan pada seluruh stakeholder pendidikan agaknya belum memungkinkan. Diakui, di sejumlah daerah tertentu kondisi signal telekomunikasi masih belum bisa diakses; pendidik dan peserta didik belum semuanya memiliki kesiapan atas penggunaan media komunikasi dengan baik; dan tentunya beban finansial akan semakin besar. Eksperimentasi dalam beberapa bulan terakhir, dengan sebagian pendidik dan peserta didik telah memulai proses pembelajarannya secara masif secara virtual, patut untuk dijadikan pengalaman berharga dalam pelaksanaan blended learning. 

Pendekatan blended learning pada dasarnya merupakan gabungan keunggulan pembelajaran yang dilakukan secara tatap-muka (luring) dan secara virtual (daring). Ia akan menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran, dengan berbagai pilihan media dialog antara pendidik dengan peserta didik, baik secara langsung (face-to-face) maupun secara daring. Menggabungkan kelebihan-kelebihan pada kedua cara tersebut dalam sebuah proses pembelajaran yang efektif merupakan ciri dari blended learning. 

Semler S dalam karyanya, Use Blended Learning to Increase Learner Engagement and Reduce Training Cost, (2005) menyatakan “Blended learning combines the best aspects of online learning, structured face-to-face activities, and real world practice. Online learning systems, classroom training, and on-the-job experience have major drawbacks by themselves. The blended learning approach uses the strengths of each to counter the others’ weaknesses.” Blended learning, dengan demikian, akan memberikan keuntungan, di antaranya fleksibilitas dalam memilih waktu, tempat untuk mengakses pelajaran, dan pemilihan materi-materi yang tepat, sehingga dapat disesuaikan dengan kondisi peserta didik dan kapasitas lembaga pendidikan yang bersangkutan. 

Untuk itu, menurut hemat penulis, terdapat sejumlah langkah yang perlu dilakukan agar awal tahun 2021 dapat dilaksanakan secara efektif. Pertama, pemerintah dan, terutama, satuan lembaga pendidikan harus melakukan redesain pembelajaran, bila perlu muatan-muatan kurikulum yang akan dilaksanakan selama masa new normal. Jika selama ini desain pembelajaran dilaksanakan dengan luring (tatap muka), sudah saatnya mengkombinasikan dengan desain daring (virtual). Untuk itu, perlu dilakukan pemilahan dan pemilihan materi-materi yang efektif disesuaikan dengan menggunakan metode daring dan luring. Dalam tingkat tertentu, muatan-muatan kurikulum juga memungkinkan untuk ditinjau ulang, tentu diharapkan tingkat mengurangi kualitas hasil pembelajaran.

Kedua, penguatan infrastruktur perangkat daring, kemampuan peserta didik dan, terutama, pendidik terhadap penggunaan media pembelajaran perlu ditingkatkan, termasuk dengan memperkuat LMS (learning management system). LMS merupakan penyediaan aplikasi yang dapat membantu dalam merencanakan dan mengimplementasikan proses pembelajaran, dengan memadukan antara pertemuan luring dengan media digital serta alat interaktif sebagai bagian dari pertemuan daring. 

Penguatan kapasitas daring baik melalui kebijakan pemerintah maupun upaya mandiri masing-masing satuan pendidikan dalam penyiapan infrastruktur perangkat daring sudah saatnya dilakukan, tak terkecuali dengan melakukan kolaborasi bersama penyedia telekomunikasi dan lembaga lainnya. Demikian juga, masing-masing satuan pendidikan hendaknya mengadakan evaluasi diri atas kapasitas para pendidiknya, terutama selama beberapa bulan terakhir,  sehingga dapat diadakan peningkatan kapasitas dalam mengakses berbagai media, termasuk media daring.   

Ketiga, tata kelola dan manajemen pendidikan sudah saatnya disesuaikan dengan sejumlah regulasi dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan, terutama untuk masa new normal. Mekanisme pembelajaran yang dilakukan secara luring dipastikan mematuhi protokol kesehatan, guna menghindari terjadinya proses penyebaran covid-19. Pengaturan jam pelajaran dan tata tertib belajar dilakukan penyesuaian secara efektif mungkin. Bagi pendidik dan peserta didik yang dikarenakan secara regulasi atau alasan lain tidak memungkinkan untuk dapat hadir secara langsung, seperti karena usia dalam batas tertentu atau sakit, perlu diantisipasi dengan baik. Demikian juga, penambahan infrastruktur kesehatan new normal, seperti wastafel, disinfektan, hand sanitizer, dan perlengkapan lainnya patut untuk disediakan.

Melihat paparan di atas, kebijakan untuk memulai tahun 2021 tampaknya lebih tepat dilaksanakan dengan menggunakan skenario moderat, yakni dilaksanakan pada bulan Januari 2021 dengan menggunakan pendekatan blended learning. Ketegasan ini untuk memberi kepastian, terutama bagi pengelola pendidikan, dalam mendesain dan merencanakan program-program pembelajarannya. Oleh karena blended learing, yang meniscayakan adanya pola pendekatan pembelajaran secara daring dan luring, maka untuk tingkat implementasinya terdapat fleksibilitas. Khusus penggunaan pembelajaran tatap muka (luring) akan disesuaikan dengan kondisi faktual pada masing-masing daerah dengan mempertimbangkan tingkat penyebaran covid-19.

Tentunya, komunikasi dan rekomendasi dari pihak yang berwenang terkait covid pada masing-masing daerah, dalam hal ini satuan gugus tugas covid-19, menjadi penting untuk dilakukan. Selamat Berjuang.

Penulis : Raisul Haqi/Haraka

Editor : Baba Barry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.