Perguruan Tinggi Tak Harus Negeri

2
578

OKNEWS.CO.ID – MALANG, Setiap menjelang akhir tahun ajaran dan sekaligus menyambut tahun ajaran baru, mimik pendidikan di Indonesia berubah drastis. Tak lain adalah problematika lulusan SMA untuk memilih Perguruan Tinggi terbaik bagi mereka. Tak heran lagi jika seluruh orang tua siswa-siswi di tingkat SMA dilema memikirkan kelanjutan studi bagi putra-putri mereka. Sebenarnya, mana yang lebih baik Perguruan Tinggi Negeri atau Perguruan Tinggi Swasta? Perlu kalian ketahui, tidak semua yang berstatus negeri pasti lebih baik dibandingkan dengan swasta.

Seringkali setiap siswa-siswi ingin melanjutkan belajar di perguruan tinggi favorit dengan program studi unggulan. Hanya saja, banyak yang salah mengartikan bahwasanya kampus favorit dan unggulan itu yang berstatus negeri. Padahal status Negeri hanya berarti sebuah instansi pendidikan yang dikelola oleh pemerintah, hingga saat ini menjadi rebutan siswa siswi dan menjadi primadona. Mengapa demikian? Karena ketika hendak memasuki kampus PTN kalian harus melewati seleksi nasional dan bergengsi seperti Seleksi Nilai Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) hanya sebagian siswa yang dapat mengikuti seleksi melalui jalur nilai dan ditentukan berdasarkan prestasi. Jenis seleksi ini bergantung pada portofolio siswa yang terekam selama proses belajar di SMA. Hal ini merupakam ajang bergengsi sesi pertama. Selanjutnya, Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) merupakan seleksi serentak se-Indonesia dan berbayar. Jenis seleksi ini berdasar pada tes tulis dan praktik serentak. Seluruh calon mahasiswa harus berjuang merebut kuota yang tersedia dalam program studi pilihan. Pemeringkatan skor diperoleh dari hasil tes tulis. Jika dua jalur masuk perguruan tinggi telah berlalu, maka akan ada jalur bergengsi selanjutnya, yakni melalui seleksi mandiri.

PTN sebagai parameter status sosial

Sebuah persepsi yang salah yakni meyakini bahwa hasil seleksi itu sebagai ajang pembuktian, apakah mereka bagian dari orang sukses atau gagal? ini merupakan sebuah ironi yang selalu hadir menjelang penerimaan mahasiwa baru di PTN. Banyak yang memiliki persepsi sebuah kehormatan apabila masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Sebab kelulusan dalam seleksi ini akan mendapat apresiasi tinggi dari tetangga, kolega, netizen, teman online dan masyarakat se-bumi pertiwi. Sebaliknya, kegagalan siswa-siswi akan menjatuhkan pamor kelurga dan sekolah. Ini merupakan persepsi yang salah besar. Sampai kapan tekanan itu dihadapi oleh calon mahasiswa? tidak adakah jalan terbaik untuk menempatkan para tunas bangsa pada situasi mencekam dan memenuhi aturan bahwa kuliah harus di PTN? Kebijakan revolusioner lah yang ditunggu-tunggu untuk mendobrak system pendidikan ini agar tidak miss-understanding antara pemerintah dan khalayak umum. Pada tahun 2019 ini menurut https://ristekdisti.go.id. Dari 478.608 pendaftar SNMPTN di tahun 2019 yang diterima 92.331 siswa pada 85 PTN se-Indonesia, dengan presentase 19,29%. Kita mungkin akan gembira dengan kabar penerimaan 19,29% , tapi apakah kita pernah bertanya bagaimana dengan 80,71% yang menahan perih bahkan cita-citanya runtuh hanya karena pengumuman SNMPTN. Dunia pendidikan memang medan kompetisi, tetapi ubahlah persepsi bahwa pendidikan terbaik bukan ditentukan oleh label negeri.

Meluruskan Niat

Sebenarnya apa tujuan siswa-siswi melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi? Tujuannya tak lain adalah ilmu, gelar dan memudahkan di lapangan kerja kelak, bukan karena almamater bergengsi. Banyak yang menaruh harapan bahwa PTN memudahkan mendapat pekerjaan di masa depan lebih besar dibandingkan dengan PTS. Padahal banyak perusahaan yang lebih memilih universitas lulusan swasta yang unggul dari segi kapabilitas dan kompetensi dibandingkan hanya mengandalkan lulusan negeri saja. Mengapa demikian? Karena saat ini perusahaan sudah mengetahui banyak dari mereka yang ingin masuk PTN hanya ingin dipandang lulusan bergengsi , sehingga mereka mencari jurusan yang tingkat persaingannya rendah dengan harapan kemungkinannya diterima lebih besar. Mereka hanya ingin terdaftar sebagai mahasiswa PTN, tanpa menyadari minat dan kemampuannya. Sehingga dapat diketahui penghayatan terhadap jurusannya yang tidak maksimal mempengaruhi prestasi dan kapabilitas dalam pekerjannya kelak.

Jadi, kuliah di perguruan tinggi memang sebuah investasi di masa depan. Tidak ada hal yang lebih signifikan dari mahasiswa PTN. Pada akhirnya, setelah diwisuda baik alumnus PTN maupun PTS akan kembali berjumpa di titik yang sama dan bersaing kembali untuk merebut satu kursi di suatu perusahaan. Bahkan untuk mahasiswa lulusan Sekolah Tinggi Kedinasan yang langsung di bawah kementrian saja masih harus mengikuti ujian apabila ingin langsung bekerja di instansi terkait. Jika gagal, tetap saja akan menganggur dan bersaing bersama ribuan wisudawan setiap tahunnya. Semua alumnus yang memiliki tawaran terbaik itulah yang menang di akhir. Jadi jangan hanya terpaku pada PTN, karena jaminan kualitas seseorang bukan lagi dilihat dari latar belakang kampus. Tetapi kualitas seseorang akan terlihat oleh dirimu sendiri. Jika ingin dikatakan seorang alumnus yang berkualitas, maka lakukan yang terbaik untuk dirimu. Hapuslah persepsi suatu mimpi buruk apabila mendapat kursi di universitas swasta. Tinggalkan mindset kuliah di PTN itu harus, kuliah di PTS itu rendahan. Harga diri kalian dan harga diri wisudawan ditentukan oleh kualitas soft-skill dan hard-skill tiap individu, kampus sudah bukan jaminan lagi, apalagi hanya sekedar label negeri.

( Cindy Miftakhul Maghriza / Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Malang )

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.