Persiapan Jelang Kematian (Seri 1)

0
60

Oleh : Uzlifah

Mati merupakan qadla dan qadar Allah SWT yang pasti terjadi bagi semua ciptaan atau makhluk-Nya yang bernyawa.  Mati bukan merupakan mala petaka, apalagi mati dipandangnya sebagai akhir kehidupan. Mati adalah sebagai ujian dari Allah. Mati hanyalah merupa-kan proses penyempurnaan menuju gerbang kehidupan selanjutnya.  Oleh karena itu, mati dapat terjadi kapan saja, dimana saja.

Kematian tidak harus didahului oleh sakit, juga  tidak mesti harus tua,  mudapun bisa mati,  bahkan anak sekalipun.  Semua ciptaan Allah pasti akan merasakan mati. Firman Allah SWT.

          Artinya : “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”.(QS Ali Imran : 187)  

           Artinya : “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. (QS. al-Nisa : 78)

 

Dalam al-Quran, istilah mati  selain  diungkapkan dengan kata  maut  (مَوْتٌ) , dikenal pula kata wafat وَفَاةٌ)) sebagai derivasi dari kata wafa ( وَفىَ )  yang artinya sempurna, mencukupkan.  Maksudnya seseorang yang meninggal dunia berarti dia itelah sempurna dalam melaksanakan dan dalam mencukupkan tugas hidup di dunia ini. Arti tersebut lebih menggambarkan bahwa tugas hidup yang sebenarnya dan yang harus disempurnakan bagi manusia adalah kehidupan di dunia ini.

       Kematian bukan sesuatu yang harus ditakutkan, akan tetapi perlu persiapan untuk menghadapinya. Betapa banyak orang yang takut mati, akan tetapi tidak pernah  bersiap-bersiap untuk mati.  Mati adalah kewajiban, sedangkan hidup adalah hak, sedangkan kematian itu sendiri adalah sebagai gerbang menuju kehidupan yang sesungguhnya, yakni kehidupan alam akhirat. Oleh karena itu, dalam menghadapi kematian yang pasti dan tidak diketahui kapan datangnya itu sudah selayaknya kalau setiap muslim mempersiapkan diri. Peringatan-peringatan  Allah  SWT dalam al-Quran seharusnya diperhatikan oleh setiap orang, antara lain :

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali Imran : 102)

          Artinya :Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan. (QS Ali Imran : 157)

 

Persiapan mental bagi calon mayat /orang sakit :

  1. Sabar akan taqdir Allah.

Mati merupakan ketentuan Allah atas semua ciptaannya. Maati sebagai peristiwa menuju kehidupan selanjutnya., yakni kehidupan menerima akibat perbuatan. Tidak semua manusia ketika sehat melaksanakan taubat kepada Allah. Melalui sakit, Allah mengurangi sebagaian dosa-dosa si sakit. Sabda Nabi SAW :

مَنْ مَرِضَ لَيْلَةً  فَصَبَرَ وَرَضِىَ بِهَا عَنِ اللهِ خَرَجَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمٍ  وَلَدَتْهُ اُمُّهُ (رواه   الترميذى)

      Artinya : Barangaiapa  sakit satu malam, maka ia sabar dan pasrah  kepada Allah, terlepaslah ia dari dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya. (HR. Tirmidzi).

 

  1. Berbaik sangka kepada Allah.

Dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi SAW  bersabda :

أَنَا عِنْدَ ظَنِّى عَبْدِى  بِى  ِانْ  ظَنَّ بِى  خَيْرً ا فَلَهُ  وَاِنْ  ظَنَّ شَرًّا  فَلَهُ  ( رواه  أحمد) 

             Artinya : Aku (Allah) tergantung pada persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, Apabila dia berprasangka kepada-Ku dengan prasangka baik, maka Akupun akan baik kepadanya, dan apabila dia berprasangka kepada-Ku dengan prsangka buruk, maka Akupun akan  buruk kepadanya.  (HR.  Ahmad)

Sabda Nabi SAW  :

لاَ يَتُمُوتُنَّ   اَحَدُكُمْ ِالاََّ  وَهُوَ  يُحْسِنُ   الظَّنَّ  بِا للهِ (أخرجه مسلم)

            Artinya : Janganlah seseorang  dari kamu semua mati, kecuali berbaik sangka (husnudzan) kepada Allah. (HR. Muslim).

Sekalipun sakit keras tidak menginginkan kematian. Untuk itu selain berobat  -jika sakit sudah parah –  berdo’slsh mohon dipilihksn ysng terbaik oleh Allah. Rasul SAW mengajarkan do’a tersebut :

 

اَلَّلهُمَّ أَحْيِنِىمَاكَانَتِ الْحَياَةُ خَبْرً الِى وَتَوَفَّنِىاِذَاكَانَتِ اْلوَفَاةُ خَيْرًا لِى )رواه    الشيخان)

               Artinya : “Ya Allah berikah hidup kepada kami sekiranya hdup itu  yang terbaik bagi kami, dan  berilah mati kepada kami sekiranya mati  itu yang terbaik bagi kami”. (HR. Bukhari-Muslim.

  

  1. Berada antara ketakutan dan harapan ( tetap berdzikir/berdo’a)

Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Anas, R.A. menjelaskan bahwa ketika Nabi SAW  masuk rumah seorang sahabat yang hampir tiba pada ajalnya, sabdanya :

كَيْفَ تَجِدُكَ ؟ قَالَ : وَاللهِ ياَ رَسُولُ اللهِ اِنّىِأَرْجُوا الله َوَاِنِّى أَخَافُ ذُنُوبِى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لاَ تَجْتَمِعَاِنِ فِى قَلْبِ عَبْدٍ فِى مِثْلِ هَذَا  الْمَوْطِنِ اِلاَّ  أَعْطَاهُ الله ُمَا يَرْجُو وَأَمَنَهُ مِمَّا يَخَا فُ ( أخرجه الترميذى )

Artinya :  “Bagaimana perasanmu ?”. Jawabnya : “Aku merasa berharap kepada Allah  dan aku khawatir akan dosa-dosaku” Maka Nabi SAW bersabda : “Kalau berkumpul dalam hati seorang hamba pada peristiwa seperti ini tentulah Allah memberikan apa yang diharapkan  dan Allah  melindungi dari  apa yang ditakutkan”. (HR. Tirmidzi)

 

Perbanyaklah istighfar dan berharap atau mohon sembuh, dan jangan berputus asa. Berdoalah dan mintalah  kepada Allah SWT agar diberikan pilihan yang terbaik untuk dirinya, disembuhkan dari sakitnya atau diwafatkan, sekiranya sakitnya itu sudah parah,.

  1. Tunaikan hak-hak dan kewajiban seperti hutang , pinjaman dsb

HaL ini berdasar pada hadits Nabi SAW,

نَفْسُ  اْلمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ  حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ  (رواه الترميذى)

 Artinya : Jiwa dari seorang mukmin itu tergantung oleh hutangnya sehingga dibayarkan  lunas padanya.

 

  1. Berwasiat kepada ahli warisnya tentang hartanya untuk sabilillah maksimal sepertiganya. ( QS. Al-Baqarah :180. Ahmad, Syaikhan dsb.)

Artinya : Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (Ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. .(QS. Al-Baqarah : 180)

 

  1. Tetap berikhtiar untuk berobat dan tidak boleh putus asa, akan tetapi berobatlah dan berusahalah yang dibenarkan oleh syar’iy.

Dalam suatu riwayat dikatakan

ِلكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ اِلاَّ ْالمَوْتُ

    “Bahwa  setiap penyakit ada obatnya, kecuali kematian”.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.