Persinggungan Revolusi dan Agama

0
49

Oknews.co.id – Jakarta, Mencermati fenomena yang mengemuka , apa yang harus dilakukan?  Kerja keras yang harus ditempuh oleh umat islam adalah segera merekontruksi dan memperbarui cara berfikir dan bertindak. Sudah saatnya umat ini kembali menguak unsur-unsur revolusi dalam islam, mencari obat penangkal bagi pembusukan peradaban islam. Yakni, dengan menjelaskan pertautan antara agama dan revolusi. Dengan kata lain, umat ini harus menjadikan islam sebagai spirit revolusi. Dalam hal ini, islam menjadi landasan revolusi  yang tujuan utamanya adalah untuk membebaska umat islam dari keterbelakangan sejarah.

Upaya ini sesungguhnya merupakan langkah alami (natural) untuk mengaktualisasikan vitalitas dan kelangsungan islam dalam sejarah. Kerja mempertautkan antara agama dengan revolusi bukanlah upaya mengada-ada, asing, dan latah, karena sesungguhnya islam adalah revolusi. Atau dalam bahasa lain, islam adalah agama protes, dengan meminjam bahasa Ali Syari’ti. Oleh sebab itu, tugas yang harus diemban oleh setiap pribadi muslim, terutama kaum terpelajar, adalah kembali menghidupkan kembali spirit tauhid. Sehingga, secara praktis, spirit itu mampu berdialog dengan realitas dalam pendekatan yang lebih antoposentris, “….tauhid adalah suatu pandangan dunia yang hidup penuh makna, menentang keserakahan dan bertujuan memberantas penyakit yang muncul dari penumpukan uang dan penyembahan harta. Ia terjun menghapus stigma, eksploitas, konsumerisme, dan autokrasi. Ketika jiwa tauhid bangkit kembali dan peran historisnya di sadari oleh seseorang, jiwa itu akan memulai kembali misalnya, demi kesadaran, keadilan, kemerdekaan manusia, pembangunan, dan pertumbuhan.”

Dalam perspektif itulah, dapat sama-sama dipahami bahwa para nabi merupakan simbol para revolusioner dan reformis sejati dalam sejarah kenabian. Nabi Ibrahim yang hanif merupakan simbol, revolusi akal, bapak filsuf sejati. Ia telah menundukkan tradisi taklid dengan gerakan spektakuler dan radikal. Ia telah menghancurkan tradisi berhalaisme sebagai sesembahan penguasa dan masyarakat pada zamannya. Nabi Musa adalah cerminan dari revolusioner melawan otoritarianisme dan tiranisme fir’aun. Nabi Isa adalah simbol revolusi ruh ditengah-tengah dominasi materialisme, hedonisme, dan konsumerisme. Sementara itu, Nabi Muhammad merupakan simbol revolusioner bagi kaum proletar, kaum papa, kaum tertindas, serta kaum marginal lainnya dari kesewenang-wenangan para gembong bojuasi kaum Quraisy dan kroni-kroninya. Beliau menegakkan masyarakat yang bebas dari stratifikasi sosial, yang kemudian membangun masyarakat yang penuh cinta, kasih sayang, dan prsaudaraan sejati yang egaliter.

Al-Qur’an menggambarkan bahwa kenabian merupakan cerminan revolusioner dalam memberantas dekadensi sosial dan moral, dengan berbagai risiko yang harus dihadapi. Dalam konteks revolusi ini, tauhid sesungguhnya mempunyai fungsi praktis,yakni melahirkan ketangguhan perilaku dan sistem keyakinan yang mengimplementasikan suatu tujuan transformasi kehidupan manusia dan sistem sosialnya. Tidak seorang nabi pun yang diutus ke muka bumi ini yang melegitimasi status quo serta menjustifikasi degradasi moral, apalagi menjadi penjilat penguasa dengan menjual agama. Karena itu, gerakan kenabian dalam sejarah selalu merupakan gerakan progresif substansial bagi perubahan sosial secara total dan menyeluruh, terutama dalam dimensi keyakinan, moral manusia, dan sistem sosialnya.

Pergantian lakon dalam pentas sejarah manusia pun telah membuktikan bahwa maju atau mundurnya suatu komonitas sosial sanggat ditentukan oleh semangat revolusi komunitas tersebut. Kita dapat menyaksikan revolusioner Yudaisme dan Kristiani melawan tirani Romawi, pemberontakan kaum tani di Jerman abad ke-14, gerakan revolusioner yang dibungkus dengan jargon teologi pembebasan, gerakan revolusioner Martin Luther King Jr., dengan konsep moralnya. Pertama, konsep yang mementingkan kata hati seseorang, yaitu adanya konsep individu dalam mendekati fifman tuhan dan injil. Kemudian, adanya keyakinan langsung dalam berhubungan dengan Tuhan tanpa perantara. Kedua, menata sistem gereja secara terorganisasi dan demokratis dengan mengutamakan kepentingan jamaah. Ketiga, sesuai dengan tesis Max Weber, revolusi protestan juga telah melahirkan etos perekonomian dan kemakmuran masyarakat penganut agama itu.

Gerakan serupa akhirnya diikuti oleh kaum katolik. Mereka memulai gerakan revolusi dengan memperkenalkan terminologi teologi pembebasan yang Marxis dalam pemikiran Gereja. Tentang hal ini, Samuel P. Huntington menyatakan, “Teologi pembebasan ternyata telah mampu membantu memobilisasi umat Katolik untuk menentang kungkungan pemerintah diktator diberbagai negara, serta masih banyak gerakan revolusioner yang telah mampu membuat umat Katolik lebih dinamis. Demikian juga gerakan progresivitas yang dijalankan di Afrika Selatan, yang tewlah mampu membebaskan rakyatnya dari rezim apartheid, dan mengangkat Nelson Mandella sebagai orang nomor satu disana.

Lebih jauh, bagaimana teologi pembebasan dibangun dalam tradisi Katolik? Teologi dalam tradisi Kristen dipahami sebagai refleksi rasionalsistematis atas iman Kristiani terhadap pewahyaun dalam diri Yesus Kristus sebagai firman yang mendaging (karne). Dengan kata lain, teologi Kristiani dirumuskan secara ilmiah dan dibangun di atas keyakinan para murid/ rosul setelah Yesus disalib. Iman orang Kristen meyakini bahwa atas dasar cinta-kasihnya kepada manusia, Yesus merelakan diri sebagai martir. Ia benar-benar mati sebagai sang penebus di kayu salib (Prakosa, 2013).

Berdasarkan keyakinan tersebut, maka tidak terlalu sulit bagi orang Kristen untuk  memahami secara praktis tentang iman sebagai pembebasan kemiskinan dan ketertindasan. Teologi pembebasan kemiskinan selalu hadir sebagai respons dan refleksi iman yang dirumuskan secara sistematis dan praktis untuk melawan kekejaman para menindas. Teologi pembebasan kemiskinan menjadi alat melawan pembunuhan terhadap pribumi Indian secara umum, dan dalam konteks di Amerika Latin secara khusus.

Teologi pembebasan menginspirasi para rahib dan imam Katolik untuk melakukan perlawanan terhadap rezim militer dan penguasa Katolik. Mereka ingin konsekuen melaksanakan hukun cinta-kasih Injil dengan membela suku-suku tertindas dan melawan politisiimperial yang berkedok agama. Akan tetapi, teologi pembebasan bukan hanya mengacu pada persoalan ekonomi-politik, melainkan pembebasan manusia secara “total-utuh dan sejati” terhadap kekejaman, keserakahan para penindas (eksploitation de I’homme par I’homme), tanpa memandang kedudukan, kulit, ras, etnis, bangsa,maupun agama.

Sementara itu,menurut Gutierrez, teologi pembebasan adalah refleksi kritis dan sistematis atas iman Kristiani dalam bentuk tindakan serta komitmen untuk melayani sesama. Gutierrez menegaskan, tugas seorang rahib dan teolog adalah menerjemahkan pesan-pesan atau firnanTuhan untuk memenuhi kebutuhan manusia,bukan sebaliknya manusia memenuhi kebutuhan agama dan Tuhan. Dengan kata lain, menurut Gutierrez, firman Tuhan harus bermanfaat untuk membebaskan manusia dari ketertindasan dan kemiskinan. Hal ini sejalan dengan perjanjian lama,”Firman harus memberi kabar gembira bagi para miskin.” (Yesaya, 52:7)

Bagi Gutierrez, gereja merupakan tanda yang terlihat akan kehadiran yang ilahi bagi masyarahat sebagai jemaahnya. Gereja merupakan sarana pemerdekaan dan perjuangan menuju masyarakat yang lebih adil dan manusiawi. Oleh karena itu, para teolog harus masuk kedalam problematik kuasa-kuasa politik yang merupakan faktor determinan dan arena kolektif bagi setiap manusia untuk menemukan hakikat yang sejati. Senada dengan Gutierrez, teolog Ignatio Ellacuria dari universitas El-Savador menerjemahkan “Sang sabda telah mendaging” dengan”Sang merdeka itu telah mendaging”.

Guiterrez maupun Ellacuria telah membangun kerangka metodologi kritis yang bertolak dari refleksi transendental atas kitab suci, dan berakhir dengan rumusan iman. Refleksi ini, menurut Ellacuria, tidak hanya menjadi tanggung jawab para teolog, melainkan juga menjadi tugas suci para rohani. Intinya, tugas para teolog dan rohaniawan iyalah harus bertanggung jawab untuk membebaskan kaum miskin dan tertindas. Hal ini dikarenakan keduanya merupakan jemaat dan sebagai sesama manusia di hadapan Tuhan. Komitmen terhadap “Roh” yang sama tidak dapat menghindarkan keduanya dari tugas membebaskan dan tanggung jawab praksis penyelamatan.

Berangkat dari reflektif iman kepada Tuhan yang sama, Oscar Arnulfo Romero menjalankan tanggung jawa praksisnya sebagai bapak rohani. Romero menjalankan peran profetif dan komitmen pastoralnya melalui institusi gereja. Tanggung jawab itu secara khusus dinyatakan dalam kepemimpinannya sebagai keuskupan Agung San Salvador. Salah satu aspek yang paling penting dari jabatan singkatnya sebagai pastor keuskupan Agung adalah keberaniannya menjalankan misi cinta-kasih untuk melawan situasi politik militer yang represi dan biadab. Hal itu dilakukan oleh Romero sebagai respons atas kemiskinan dan ketidak adilan sosial ekstrem yang dihadapi oleh rakyatnya.

Teolog pembebasan seperti dalam gagasan imam Katolik sepertinya juga perlu, bahkan dirasa mendesak, bagi umat islam indonesia, ketika kita menginginkan suatu perubahan yang spektakuler, yang sungguh-sungguh hidup dan dinamis serta lebih kreatif. Kita bisa saja menyebut dengan istulah “tauhid progresif”, tauhid revolusi, teologi pembebasan,teologi tanah, teologi transformasi sosial, teologi pembangunan, dan lain sebagainya. Dengan terminologi ini, kita berharap akan lahirnya teologi kemanusiaan,sehingga menjadi ilmu kemasyarakatan dan kerakyatan, tentang gerakan-gerakan kemanusiaan bagi kaum tertindas, seperti yang masih akrab dengan negara-negara Islam umumnya dan bangsa Indonesia yang sedang sakit khususnya. Sehingga, dengan demikian, Islam akan mampu menjadi ilmu tauhid sejati, dalam rangka menuju terciptanya sistem kemanusiaan universal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.